{"id":7752,"date":"2023-09-28T07:52:32","date_gmt":"2023-09-28T07:52:32","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=7752"},"modified":"2023-09-28T07:52:32","modified_gmt":"2023-09-28T07:52:32","slug":"cut-meutia-pahlawan-wanita-aceh-yang-gugur-dalam-pertempuran-melawan-belanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/cut-meutia-pahlawan-wanita-aceh-yang-gugur-dalam-pertempuran-melawan-belanda.html","title":{"rendered":"Cut Meutia: Pahlawan Wanita Aceh yang Gugur dalam Pertempuran Melawan Belanda"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/cut-meutia-pahlawan-wanita-aceh-yang-gugur-dalam-pertempuran-melawan-belanda.html\/#Pendahuluan\" >Pendahuluan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/cut-meutia-pahlawan-wanita-aceh-yang-gugur-dalam-pertempuran-melawan-belanda.html\/#Kehidupan_Awal\" >Kehidupan Awal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/cut-meutia-pahlawan-wanita-aceh-yang-gugur-dalam-pertempuran-melawan-belanda.html\/#Perjuangan_Melawan_Belanda\" >Perjuangan Melawan Belanda<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/cut-meutia-pahlawan-wanita-aceh-yang-gugur-dalam-pertempuran-melawan-belanda.html\/#Kematian_dan_Penghargaan\" >Kematian dan Penghargaan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/cut-meutia-pahlawan-wanita-aceh-yang-gugur-dalam-pertempuran-melawan-belanda.html\/#Penutup\" >Penutup<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"content\" tabindex=\"0\">\n<div class=\"ac-container ac-adaptiveCard\">\n<div class=\"ac-textBlock\">\n<p>Cut Meutia adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia dikenal sebagai pejuang wanita yang gigih dan berani melawan penjajah Belanda. Ia gugur dalam pertempuran sengit di Alue Kurieng pada tahun 1910. Berikut adalah biografi singkat tentang kehidupan dan perjuangan Cut Meutia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendahuluan\"><\/span>Pendahuluan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cut Meutia lahir dengan nama lengkap Tjoet Nja\u2019 Meuthia pada tanggal 15 Februari 1870 di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, Kesultanan Aceh<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Ia merupakan putri satu-satunya dari Teuku Ben Daud Pirak, seorang ul\u00e8\u00ebbalang (pemimpin daerah) di Pirak, dan Cut Jah<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Sejak kecil, ia sudah terlibat dalam perang Aceh melawan Belanda, yang dimulai pada tahun 1873<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Ia menikah tiga kali dengan pejuang Aceh, yaitu Teuku Syamsarif, Teuku Muhammad, dan Pang Nanggro\u00eb<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Ia juga memiliki seorang anak laki-laki bernama Teuku Raja Sabi<sup>3<\/sup>. Cut Meutia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107\/1964 pada tahun 1964<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kehidupan_Awal\"><\/span>Kehidupan Awal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cut Meutia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan nasionalis. Ayahnya adalah keturunan asli Aceh yang menjadi ul\u00e8\u00ebbalang di desa Pirak, yang termasuk dalam wilayah Keuleubalangan Keureutoe<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Ibunya adalah seorang wanita yang taat beragama dan mengajarkan Cut Meutia tentang Islam dan adat Aceh<sup>3<\/sup>. Cut Meutia memiliki empat saudara laki-laki, yaitu Teuku Cut Beurahim, Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasan, dan Teuku Muhammad Ali<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Cut Meutia tidak mendapatkan pendidikan formal, tetapi ia belajar membaca Al-Quran dan menulis huruf Arab dari ayahnya<sup>3<\/sup>. Ia juga belajar tentang ilmu perang dan strategi militer dari suaminya<sup>3<\/sup>. Cut Meutia menikah pertama kali dengan Teuku Syamsarif, yang juga dikenal sebagai Teuku Chik Bintara, saudara dari Teuku Muhammad atau Teuku Chik Tunong<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Namun, pernikahan ini tidak bertahan lama karena Cut Meutia tidak menyukai sikap suaminya yang lemah dan mau bekerja sama dengan Belanda<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Cut Meutia kemudian bercerai dengan Teuku Syamsarif dan menikah dengan Teuku Muhammad atau Teuku Chik Tunong, saudara kandung dari suami pertamanya<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Dari pernikahan ini, ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Teuku Raja Sabi<sup>3<\/sup>. Cut Meutia dan suaminya bekerja sama dengan rakyat Aceh untuk melawan Belanda. Mereka menggunakan taktik gerilya dan sering menyerang pos-pos Belanda di daerah Aceh Utara<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perjuangan_Melawan_Belanda\"><\/span>Perjuangan Melawan Belanda<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cut Meutia dan suaminya menjadi komandan pasukan perang di daerah Aceh Utara. Mereka berhasil mengalahkan pasukan Belanda dalam beberapa pertempuran penting, seperti Paya Cicem, Alue Kurieng, dan Gayo<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Mereka juga berhasil merebut senjata-senjata Belanda dan menggunakannya untuk memperkuat perlawanan mereka<sup>3<\/sup>. Cut Meutia tidak hanya berperan sebagai istri dan ibu, tetapi juga sebagai pejuang yang ikut bertempur di medan perang. Ia juga memberikan saran dan motivasi kepada suaminya dan pasukannya<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Namun, pada tahun 1905, Teuku Chik Tunong tertangkap oleh Belanda setelah menewaskan petugas patroli Belanda di Lhokseumawe<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Ia dihukum mati dengan cara ditembak di tepi pantai Lhokseumawe pada bulan Maret 1905<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Sebelum meninggal, ia berwasiat kepada sahabatnya, Pang Nanggro\u00eb, agar menikahi Cut Meutia dan merawat anaknya<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Cut Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggro\u00eb sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Cut Meutia dan Pang Nanggro\u00eb melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan basis perlawanan di Buket Bruek Ja<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Mereka menggunakan taktik gerilya di hutan-hutan dan kemudian menyerang pos-pos Belanda yang ada di sekitar mereka<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Mereka juga mendapat bantuan dari para ulama dan rakyat Aceh yang setia kepada mereka<sup>3<\/sup>. Namun, pada bulan September 1910, Pang Nanggro\u00eb gugur dalam pertempuran di Paya Cicem setelah terkena tembakan Belanda<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Ia dimakamkan di samping masjid Lhoksukon<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kematian_dan_Penghargaan\"><\/span>Kematian dan Penghargaan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah kematian Pang Nanggro\u00eb, Cut Meutia menjadi komandan pasukan yang tersisa, yang berjumlah sekitar 45 orang dengan 13 pucuk senjata<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Ia tidak menyerah dan terus melawan Belanda dengan semangat juang yang tinggi. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Namun, pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia dan pasukannya bentrok dengan pasukan Marechaussee (polisi militer) Belanda di Alue Kurieng<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Dalam pertempuran itu, Cut Meutia gugur setelah terkena tembakan di kepala dan dada<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Jenazahnya dimakamkan di Alue Kurieng dengan penghormatan militer oleh rakyat Aceh<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan tanah airnya dari penjajahan Belanda, Cut Meutia mendapat penghargaan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107\/1964 pada tahun 1964<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>. Nama Cut Meutia juga diabadikan dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp1.000 pada tahun 2016<sup>1<\/sup><sup>4<\/sup>. Selain itu, nama Cut Meutia juga dipakai sebagai nama kereta api Aceh yang beroperasi sejak tahun 2016<sup>4<\/sup><sup>5<\/sup>, serta nama sebuah taman kecil di Jakarta yang menginspirasi nama jalan dan masjid di sekitarnya<sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penutup\"><\/span>Penutup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cut Meutia adalah salah satu tokoh wanita yang berperan penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia menunjukkan semangat patriotisme, keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan yang luar biasa dalam melawan penjajah Belanda. Ia juga menjadi simbol kebanggaan bagi kaum perempuan Indonesia, bersama dengan tokoh-tokoh wanita lainnya seperti Raden Ayu Kartini dan Cut Nyak Dhien. Nilai-nilai yang ditunjukkan oleh Cut Meutia patut diteladani dan ditumbuhkan oleh generasi muda dan masyarakat Indonesia agar dapat mengisi pembangunan yang sedang berlangsung.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"ac-horizontal-separator\" aria-hidden=\"true\">Sumber:<br \/>\n(1) Cut Nyak Meutia &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Cut_Nyak_Meutia.<br \/>\n(2) (PDF) Cut Nyak Meutia | Rohanah Achmad &#8211; Academia.edu. https:\/\/www.academia.edu\/95167377\/Cut_Nyak_Meutia.<br \/>\n(3) (DOC) CUT NYAK MEUTIA | Annisa Nela Fadhila &#8211; Academia.edu. https:\/\/www.academia.edu\/42006452\/CUT_NYAK_MEUTIA.<br \/>\n(4) Cut Nyak Meutia &#8211; Wikipedia. https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Cut_Nyak_Meutia.<br \/>\n(5) Cut Meutia (train) &#8211; Wikipedia. https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Cut_Meutia_%28train%29.<br \/>\n(6) Dari: SMK Farmasi Cut Meutia &#8211; Academia.edu. https:\/\/www.academia.edu\/8289841\/Dari_SMK_Farmasi_Cut_Meutia.<br \/>\n(7) cut nyak meutia | Universitas Nasional &#8211; Academia.edu. https:\/\/unas.academia.edu\/cutnyakmeutia.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cut Meutia adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia dikenal sebagai pejuang wanita yang gigih dan berani melawan penjajah Belanda. Ia&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-7752","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7752"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7752\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}