{"id":8513,"date":"2023-10-13T07:52:49","date_gmt":"2023-10-13T07:52:49","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=8513"},"modified":"2026-09-16T18:38:39","modified_gmt":"2026-09-16T11:38:39","slug":"deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html","title":{"rendered":"Deutero Melayu: Historiografi Gelombang Migrasi, Tradisi Budaya Dong Son, dan Perspektif Sains Modern"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#Pengantar_Mengkaji_Asal-Usul_Leluhur_Bangsa_Indonesia\" >Pengantar: Mengkaji Asal-Usul Leluhur Bangsa Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#Teori_Gelombang_Migrasi_Klasik_Robert_von_Heine-Geldern\" >Teori Gelombang Migrasi Klasik: Robert von Heine-Geldern<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#Ciri_Budaya_Material_Logam_Pengaruh_Tradisi_Dong_Son_dan_Sa_Huynh\" >Ciri Budaya Material Logam: Pengaruh Tradisi Dong Son dan Sa Huynh<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#Kritik_Sains_Modern_Model_Out_of_Taiwan_dan_Genetika_Molekuler\" >Kritik Sains Modern: Model Out of Taiwan dan Genetika Molekuler<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#1_Model_Linguistik_dan_Arkeologi_%E2%80%9COut_of_Taiwan%E2%80%9D_Peter_Bellwood_Robert_Blust\" >1. Model Linguistik dan Arkeologi &#8220;Out of Taiwan&#8221; (Peter Bellwood &amp; Robert Blust)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#2_Bukti_Genetika_Populasi_Lembaga_Biologi_Molekuler_Eijkman\" >2. Bukti Genetika Populasi (Lembaga Biologi Molekuler Eijkman)<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#Menghindari_Anakronisme_Historis\" >Menghindari Anakronisme Historis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/deutero-melayu-asal-persebaran-ciri-dan-peninggalan.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengantar_Mengkaji_Asal-Usul_Leluhur_Bangsa_Indonesia\"><\/span>Pengantar: Mengkaji Asal-Usul Leluhur Bangsa Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Asal-usul manusia dan persebaran rumpun etnolinguistik di kepulauan Nusantara senantiasa menjadi topik kajian yang memikat dalam ranah sejarah prasejarah, antropologi ragawi, dan arkeologi Indonesia. Dalam wacana kurikulum pendidikan sejarah klasik, publik luas sangat akrab dengan taksonomi &#8220;Proto Melayu&#8221; (Melayu Tua) dan &#8220;Deutero Melayu&#8221; (Melayu Muda). Namun demikian, perkembangan mutakhir dalam disiplin linguistik historis komparatif, analisis artefak budaya material, dan pemetaan genetika molekuler menuntut pemahaman yang lebih komprehensif dan kritis terhadap periodisasi masa lampau kepulauan Nusantara.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teori_Gelombang_Migrasi_Klasik_Robert_von_Heine-Geldern\"><\/span>Teori Gelombang Migrasi Klasik: Robert von Heine-Geldern<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Konsep migrasi Proto dan Deutero Melayu pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh arkeolog Austria, Robert von Heine-Geldern, pada paruh pertama abad ke-20 (dekade 1930-1940-an). Berdasarkan teori gelombang bertahap (*wave migration theory*), kedatangan penutur bahasa di Nusantara dibagi menjadi dua fase utama:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Proto Melayu (sekitar 1500 SM):<\/strong> Disebut membawa kebudayaan Neolitikum (Zaman Batu Muda) dengan artefak unggulan kapak persegi dan kapak lonjong, yang bermigrasi dari daratan Asia Tenggara melalui jalur darat dan laut kepulauan. Keturunannya sering diasosiasikan dengan suku-suku pedalaman seperti Dayak, Toraja, Nias, dan Sasak.<\/li>\n<li><strong>Deutero Melayu (sekitar 500 SM):<\/strong> Diidentifikasi sebagai gelombang migrasi kedua yang membawa kebudayaan Zaman Logam (paleometalik), khususnya tradisi pengolahan besi dan perunggu. Keturunannya sering diasosiasikan dengan suku-suku pesisir seperti Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, dan Minangkabau.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri_Budaya_Material_Logam_Pengaruh_Tradisi_Dong_Son_dan_Sa_Huynh\"><\/span>Ciri Budaya Material Logam: Pengaruh Tradisi Dong Son dan Sa Huynh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam rekam jejak arkeologi prasejarah, era yang dikaitkan dengan kedatangan pengaruh Deutero Melayu ditandai oleh kemahiran metalurgi tingkat tinggi. Artefak logam di kepulauan Nusantara menunjukkan kedekatan tipologis dengan pusat kebudayaan <strong>Dong Son<\/strong> (di lembah Sungai Merah, Vietnam Utara) dan <strong>Sa Huynh<\/strong> (pantai tengah Vietnam):<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Nekara dan Moko Perunggu:<\/strong> Genderang perunggu berbentuk silinder dengan pinggang ramping yang digunakan dalam upacara pemanggilan hujan, upacara kesuburan, dan simbol status sosial masyarakat prasejarah. Di Nusantara ditemukan nekara tipe Heger I berukuran raksasa, seperti &#8220;Bulan Pejeng&#8221; di Gianyar, Bali.<\/li>\n<li><strong>Kapak Corong (Kapak Sepatu):<\/strong> Senjata dan perkakas perunggu berongga tempat memasukkan tangkai kayu, yang banyak ditemukan di Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Kepulauan Selayar.<\/li>\n<li><strong>Bejana dan Perhiasan Perunggu:<\/strong> Artefak bejana perunggu bermotif anyaman geometris dan pilin ganda yang ditemukan di Kerinci (Sumatera Barat) dan Madura.<\/li>\n<li><strong>Teknologi Pelayaran dan Pertanian Sawah:<\/strong> Penguasaan perahu bercadik ganda (*outrigger boat*) yang memungkinkan pelayaran lintas samudra, dipadukan dengan teknik persawahan basah dengan manajemen pengairan teratur.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kritik_Sains_Modern_Model_Out_of_Taiwan_dan_Genetika_Molekuler\"><\/span>Kritik Sains Modern: Model Out of Taiwan dan Genetika Molekuler<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Meskipun teori gelombang migrasi klasik Heine-Geldern masih kerap diajarkan di sekolah, para ilmuwan arkeologi dan genetika modern telah melakukan koreksi mendasar terhadap model tersebut. Berdasarkan riset ilmiah terkini:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Model_Linguistik_dan_Arkeologi_%E2%80%9COut_of_Taiwan%E2%80%9D_Peter_Bellwood_Robert_Blust\"><\/span>1. Model Linguistik dan Arkeologi &#8220;Out of Taiwan&#8221; (Peter Bellwood &amp; Robert Blust)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Riset komparatif bahasa Austronesia oleh arkeolog Peter Bellwood dan linguis Robert Blust membuktikan bahwa penyebaran leluhur Austronesia tidak berasal dari migrasi gelombang masif daratan Yunan (Tiongkok Selatan), melainkan bergerak dari pulau Taiwan sekitar 4.000\u20133.500 tahun lalu (sekitar 2000\u20131500 SM). Migrasi maritim ini bergerak melalui kepulauan Filipina, bercabang ke arah Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Sumatera, Jawa, hingga meluas ke Madagaskar di barat dan kepulauan Pasifik di timur secara bertahap dan berkesinambungan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Bukti_Genetika_Populasi_Lembaga_Biologi_Molekuler_Eijkman\"><\/span>2. Bukti Genetika Populasi (Lembaga Biologi Molekuler Eijkman)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Studi variasi DNA mitokondria (garis ibu) dan kromosom Y (garis ayah) yang dipimpin oleh Prof. dr. Herawati Supolo-Sudoyo membuktikan bahwa tidak pernah ada pemisahan rasial yang kaku dan terisolasi antara Proto Melayu dan Deutero Melayu di Nusantara. Sebaliknya, populasi kepulauan Indonesia adalah hasil pembauran genetik yang kompleks (*genetic admixture*) antara:<\/p>\n<ul>\n<li>Populasi pemburu-peramu awal keturunan Austro-Melanesoid yang telah mendiami Nusantara puluhan ribu tahun lalu.<\/li>\n<li>Penutur bahasa Austroasiatik yang bergerak dari daratan Asia Tenggara daratan.<\/li>\n<li>Penutur bahasa Austronesia yang datang melalui migrasi maritim maritim.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menghindari_Anakronisme_Historis\"><\/span>Menghindari Anakronisme Historis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kajian sejarah ilmiah mewajibkan penghindaran atas anakronisme kronologis. Periode prasejarah paleometalik Deutero Melayu berlangsung pada paruh milenium pertama sebelum masehi (sekitar 500 SM hingga abad pertama Masehi). Oleh sebab itu, tidak tepat mengaitkan bangsa Deutero Melayu prasejarah sebagai pendiri imperium klasik seperti Kerajaan Sriwijaya (berdiri abad ke-7 Masehi) atau Majapahit (berdiri abad ke-13 Masehi), karena kedua kerajaan tersebut lahir ribuan tahun kemudian pada era sejarah klasik yang telah dipengaruhi oleh aksara Pallawa, bahasa Sanskerta, dan tata negara Hindu-Buddha.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Konsep Deutero Melayu merekam tahapan krusial dalam revolusi teknologi logam, seni metalurgi, dan kemampuan pelayaran samudra para leluhur Nusantara. Memahami sejarah ini melalui sintesis antara kajian arkeologi klasik dan bukti genetika modern menghadirkan perspektif ilmiah yang objektif, toleran, dan membanggakan tentang hakikat keberagaman identitas bangsa Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengantar: Mengkaji Asal-Usul Leluhur Bangsa Indonesia Asal-usul manusia dan persebaran rumpun etnolinguistik di kepulauan Nusantara senantiasa menjadi topik kajian yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-8513","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8513"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8513\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45475,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8513\/revisions\/45475"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}