Ekonomi Islam : Pengertian, Landasan, Metode , Karakteristik, Perkembangan serta Perbandingannya dengan Ekonomi Konvensional

Pengertian Ekonomi Islam

Ekonomi secara bahasa berasal dari bahasa Yunani dari kata ”Ecos” yang berarti keluarga, rumah tangga, dan ”Nomos” yang berarti peraturan, aturan, dan hukum. Secara garis besar ekonomi diartikan sebagai aturan rumah tangga, atau manajemen rumah tangga. Sedangkan dalam pandangan Islam ekonomi atau iqtishod berasal dari kata “ qosdu” yang berarti keseimbangan dan keadilan.

Dalam Al-Qur`an kata-kata qosdu disebutkan dalam beberapa ayat diantaranya

(واقصد في مشييك ) artinya “Dan sedernahakanlah dalam berjalan” dan ( منهم أمة مقتصدة) dengan arti “Diantara mereka terdapat golongan yang pertengahan”. Dalam Hadis Nabi Muhammad menyebutkan (قال رسول لا عا ل من إقتصد)  artinya “tidak akan menjadi fakir orang yang berhemat” HR. Tabroni.

Menurut Dr Muhammad Syauqi Al-Fanjari pengertian ekonomi Islam adalah semua aktifitas perekonomian yang diatur berdasarkan nilai-nilai Islam dari Al-Qur`an dan Sunah juga berlandasakan pada asas-asas ekonomi.

Menurut Ir. Adiwarman Azwar Karim, ekonomi Islam adalah sebuah system ekonomi yang menjelaskan segala fenomena tentang prilaku pilihan dan pengambilan keputusan dalam setiap uint ekonomi dengan memasukkan tata aturan syariah sebagai variable independen dan ikut mempengaruhi segala pengambilan keputusan ekonomi.

Landasan Ekonomi Islam

Pada pembahasan ekonomi konvensional semua aktifitas berdasarkan perilaku individu-individu yang secara nyata terjadi di setiap unit ekonomi. Karena tidak adanya batasannya syariah yang digunakan, maka prilaku dari setiap individu dalam unit ekonomi tersebut akan bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma atau aturan menurut persepsinya masing-masing.

Sedangkan dalam ekonomi Islam berlandaskan dari syariat. Jika kita tela’ah lebih dalam landasan ekonomi Islam dibagi menjadi dua, yaitu: landasan tetap dan landasan tidak tetap.

Pertama, Landasan tetap berkaitan dengan dasar-dasar utama agama Islam. Atau dapat diibaratkan sebagai kumpulan pokok ekonomi yang diambil dari Nash Al-Qur`an dan Sunah dan diharuskan bagi seorang Muslim untuk mengikutinya pada setiap zaman dan tempat. Landasan ini tidak bisa berubah dalam kondisi apapun. Adapun landasan tersebut diantaranya;

  1. Pokok bahwa harta pada hakikatnya adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan manusia hanya diperbolehkan untuk memanfaatkan dan mengelolanya. Seperti terdapat dalam Al-Qur`an ( ولله ما في السموات و اللأرض) yang artinya “Dan hanya kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”.
  1. Pokok bahwa Islam menjamin kebutuhan setiap individu umat Muslim, seperti Firman Allah Subhanhu Wa Ta’ala, ( في أموالهم حق معلوم للساءل و المحروم ) artinya “Dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa(yang tidak mau meminta)”
  1. Pokok penetap keadilan sosial dan memelihara keseimbangan ekonomi antara individu umat muslim ( كي لا يكون دولة بين الأغنياء منكم ) artinya “Supaya harta itu jangan hanya beradara diantara orang-orang kaya saja diantara kamu” Dan masih banyak dalil-dalil Al-Qur`an lainnya menerangkan hukum-hukum yang berkaitan dengan perekonomian dalam Islam, seperti larangan riba, kewajiban membayar Zakat dan lain sebagainya.

Selain dari Al-Qur`an ekonomi Islam berlandaskan pula dari perkataan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diutus sebagi penuntun umat manusia dalam seluruh unsur kehidupannya. Diantaranya ( قال رسول : من احتكر طعاما فهو خاطيء ). Perkataan Rasul ini yang menjadi landasan para Khulafa Rasyidin dalam pelarangan ihtikar atau penimbunan barang. Karena dengan penimbunan ini akan menaikan harga barang jauh diatas harga asli, dan akan terjadi kerusakan harga sehingga menyulitkan masyarakat.

Kedua, landasan tidak tetap dan berkaitan dengan aplikasi. Yaitu penyelesaian permasalahan ekonomi yang diambil dari berdasarkan hasil ijtihad para ulama sesuai dengan dalil yang diambil dari Al-qur`an dan Sunah. Seperti penjelasan tentang jenis mu`amalah yang teradap unsur riba, penjelasan tentang upah minimum pekerja, dan batasan keadilan sosial atau keseimbangan ekonomi diantara individu muslim. Semua kesimpulan yang diambil para ulama ini bukan bersifat tetap dan bisa terjadi perbedaan pendapat atau sesuai dengan situasi dan kondisi.