Menu Tutup

Jejak Perjalanan Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Pendiri NU dan Pembela Kebinekaan

Kiai Haji Hasyim Asy’ari, sosok ulama dan pemikir Islam yang sangat dihormati di Indonesia, dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Jejak perjalanan hidupnya membawa dampak yang mendalam dalam sejarah kebangsaan Indonesia, terutama dalam konteks pembelaan terhadap kebinekaan dan toleransi antarumat beragama.

Hasyim Asy’ari lahir pada 10 April 1875 di Desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sejak kecil, Hasyim telah menunjukkan ketertarikan dan bakat dalam bidang agama. Ia belajar agama Islam di bawah bimbingan ayahnya, Kiai Asy’ari, seorang ulama terkemuka pada zamannya. Keinginan Hasyim untuk mendalami ilmu agama membawanya menjalani perjalanan panjang untuk menimba ilmu dari berbagai guru agama di berbagai daerah di Jawa.

Pada awal abad ke-20, ketika Indonesia masih di bawah pemerintahan kolonial Belanda, Hasyim Asy’ari semakin terlibat dalam gerakan keagamaan dan sosial. Pada tahun 1926, beliau memainkan peran kunci dalam mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai respons terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan akan wadah organisasi yang mampu mengakomodasi aspirasi umat Islam di Indonesia.

NU, yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, bukan hanya menjadi organisasi Islam yang besar, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempromosikan nilai-nilai kebinekaan dan toleransi. Kiai Hasyim secara tegas menegaskan bahwa keberagaman di Indonesia adalah warisan yang harus dijaga dan dihormati. Visinya tentang Islam yang moderat dan inklusif tercermin dalam doktrin NU yang mengutamakan semangat kebersamaan, kerukunan, dan saling menghormati antarumat beragama.

Selain mendirikan NU, Kiai Hasyim Asy’ari juga terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau mendukung pergerakan nasional dan secara terbuka menyatakan sikap anti-kolonialisme. Keterlibatan beliau dalam gerakan kemerdekaan menunjukkan keselarasan antara nilai-nilai agama dan semangat nasionalisme dalam diri Kiai Hasyim.

Keberhasilan dan pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan dan nasional. Beliau juga menjadi pelopor dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Pendirian Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, oleh Kiai Hasyim Asy’ari, menjadi salah satu sumbangan penting dalam mencetak generasi ulama yang memahami dan mampu mengintegrasikan Islam dengan konteks kehidupan modern.

Jejak perjalanan Kiai Hasyim Asy’ari mencerminkan konsistensinya dalam mempertahankan nilai-nilai Islam yang toleran, inklusif, dan berdampingan dengan semangat kebangsaan Indonesia. Ia bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga seorang pemimpin yang mengajarkan pentingnya kerukunan antarumat beragama. Warisan pemikirannya tetap hidup dalam NU dan terus menjadi inspirasi bagi pemimpin agama dan masyarakat Indonesia dalam membangun bangsa yang berlandaskan toleransi dan keadilan.