Sejarah Nahdlatul Ulama (NU) merupakan sebuah perjalanan panjang yang membentuk kisah keagamaan di Indonesia. Meninjau akarnya, kita tidak bisa mengabaikan peran sentral Kiai Haji Hasyim Asy’ari dalam membangun dan mengarahkan organisasi ini. Pemikiran dan perjuangannya menjadi pilar utama dalam menentukan arah dan identitas Nahdlatul Ulama.
Kiai Haji Hasyim Asy’ari, seorang ulama dan pemikir Islam yang berpengaruh, lahir pada tahun 1871 di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Pada masa itu, Indonesia masih dalam cengkeraman kolonial Belanda, dan masyarakat Muslim menghadapi berbagai tantangan terkait identitas dan keyakinan agama. Hasyim Asy’ari tumbuh dalam lingkungan keagamaan yang kental, dibesarkan oleh orang tua yang taat beragama dan memiliki pengetahuan Islam yang mendalam.
Peran kunci Hasyim Asy’ari dalam sejarah Nahdlatul Ulama dimulai pada awal abad ke-20. Pada waktu itu, muncul kekhawatiran terhadap modernisasi dan pembaharuan dalam pemahaman agama Islam di Indonesia. Hasyim Asy’ari, dengan visinya yang kuat, menentang arus modernisasi yang dianggapnya merusak nilai-nilai tradisional Islam. Pemikiran konservatifnya membawa dampak signifikan dalam membentuk wajah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam yang mempertahankan nilai-nilai keagamaan tradisional.
Nahdlatul Ulama sendiri didirikan pada tanggal 31 Januari 1926, sebagai jawaban terhadap dinamika sosial dan politik pada masa itu. Hasyim Asy’ari menjadi tokoh kunci dalam pembentukan organisasi ini yang bertujuan untuk melindungi ajaran Islam dari pengaruh modernisme dan menjaga keberagaman tradisi keagamaan. Munculnya NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan tetapi juga sebagai gerakan sosial yang memberdayakan masyarakat.
Perjuangan Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada wilayah keagamaan, tetapi juga berkaitan dengan perjuangan politik melawan kolonialisme. Ia aktif terlibat dalam pergerakan nasional, membela hak-hak rakyat dan memberikan pandangan Islam terhadap keadilan sosial. Pemikiran politik dan keislamannya menyatu dalam visi pemberdayaan umat Islam di Indonesia.
Peran Hasyim Asy’ari dalam Nahdlatul Ulama tidak hanya sebagai pemimpin spiritual tetapi juga sebagai pemikir yang memprakarsai wacana keagamaan dan sosial. Ia membangun tradisi keilmuan di kalangan NU, menyebarkan pemahaman Islam yang kuat dan mempertahankan identitas keagamaan dalam menghadapi tekanan zaman.
Dengan demikian, Nahdlatul Ulama menjadi simbol perlawanan terhadap arus modernisasi yang dianggap mengancam nilai-nilai Islam tradisional. Pemikiran dan perjuangan Kiai Haji Hasyim Asy’ari menciptakan pondasi kokoh bagi NU sebagai gerakan keagamaan dan sosial yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Pemahaman Islam yang dipelopori oleh beliau tetap relevan dan menginspirasi hingga saat ini, menciptakan warisan berharga bagi perjalanan panjang Nahdlatul Ulama.