Pernahkah Anda duduk di ruang kelas, menatap papan tulis yang penuh dengan rumus atau teori, lalu bertanya dalam hati, “Sebenarnya, apa yang sedang saya lakukan di sini?” Jika pertanyaan itu pernah terlintas, Anda tidak sendirian. Fenomena merasa “salah jurusan” adalah krisis eksistensial yang nyata dan dialami oleh mayoritas mahasiswa di Indonesia.
Sebuah data yang sering dikutip dari Educational Psychologist, Irene Guntur, menyebutkan angka yang cukup mencengangkan: sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia merasa salah jurusan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari betapa kompleksnya proses transisi dari bangku SMA menuju dunia perkuliahan.
Rasa menyesal ini bisa berdampak panjang, mulai dari penurunan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), kehilangan motivasi belajar, stres berkepanjangan, hingga kebingungan menentukan arah karier setelah wisuda. Namun, pertanyaannya adalah: Apakah semua jurusan memiliki risiko penyesalan yang sama? Atau ada jurusan tertentu yang memang rawan membuat mahasiswanya merasa terjebak?
Mari kita bedah secara mendalam daftar jurusan yang paling sering disesali, baik berdasarkan data global maupun realita unik yang terjadi di Indonesia.
1. Jurusan dengan Tingkat Penyesalan Tertinggi (Data Global)
Situs pencari kerja dan perekrutan ternama asal Amerika Serikat, ZipRecruiter, pernah merilis survei terhadap ribuan pencari kerja lulusan perguruan tinggi. Hasilnya menunjukkan tren yang menarik mengenai jurusan mana yang paling banyak disesali lulusannya. Meskipun konteks ini berbasis di AS, polanya sering kali relevan dengan tantangan pasar kerja global.
Berikut adalah 5 besar jurusan yang paling disesali menurut survei tersebut:
a. Jurnalistik (87% Menyesal)
Di era digital, industri media mengalami disrupsi besar-besaran. Media cetak berguguran dan beralih ke digital, membuat lapangan kerja jurnalisme tradisional menyusut. Persaingan yang ketat, jam kerja yang tidak menentu, serta gaji awal yang sering kali tidak sebanding dengan beban kerja, menjadi alasan utama penyesalan ini.
b. Sosiologi (72% Menyesal)
Banyak lulusan Sosiologi merasa ilmu yang mereka pelajari terlalu luas dan teoritis. Tanpa spesialisasi lebih lanjut (S2), lulusan ini sering kesulitan menemukan posisi kerja yang secara spesifik membutuhkan gelar Sosiolog di dunia korporat.
c. Seni Rupa & Liberal Arts (72% Menyesal)
Mahasiswa seni sering kali masuk dengan passion yang tinggi. Namun, realita industri yang menuntut komersialisasi karya sering kali berbenturan dengan idealisme seniman. Selain itu, ketidakstabilan pendapatan bagi mereka yang memilih jalur freelance menjadi pemicu penyesalan finansial.
d. Ilmu Komunikasi (64% Menyesal)
Komunikasi adalah jurusan “sejuta umat”. Karena saking populernya, jumlah lulusan (supply) jauh melebihi jumlah pekerjaan spesifik di bidang media (demand). Akibatnya, persaingan menjadi sangat berdarah-darah (“Red Ocean”), memaksa lulusannya bekerja di bidang yang tidak relevan.
e. Pendidikan / Keguruan (61% Menyesal)
Meskipun menjadi guru adalah pekerjaan mulia, faktor kesejahteraan sering menjadi keluhan utama. Di banyak negara, termasuk Indonesia, gaji guru (terutama honorer) masih menjadi isu sensitif. Beban administrasi yang berat sering kali membuat lulusan merasa burnout.
2. Realita Lokal: Jurusan yang Sering Dikeluhkan di Indonesia
Data global di atas mungkin tidak sepenuhnya 100% akurat jika diterapkan di Indonesia. Di tanah air, budaya “gengsi”, ekspektasi orang tua, dan fenomena lowongan kerja “Semua Jurusan” menciptakan tren penyesalan yang unik.
Berdasarkan diskusi di berbagai forum lokal dan media sosial, berikut adalah jurusan yang sering membuat mahasiswa Indonesia merasa “salah kamar”:
a. MIPA Murni (Fisika, Kimia, Biologi, Matematika)
Banyak siswa SMA yang “terjebak” masuk jurusan ini karena menyukai pelajaran sains saat sekolah. Namun, di bangku kuliah, tingkat kesulitannya melonjak drastis dengan teori yang sangat abstrak.
Masalah utama: Lulusan MIPA murni sering bingung akan bekerja di mana selain menjadi akademisi (dosen/peneliti) atau bekerja di laboratorium. Banyak dari mereka yang akhirnya “banting setir” ke sektor perbankan atau administrasi.
b. Pertanian & Agroteknologi
Indonesia adalah negara agraris, namun ironisnya, jurusan pertanian sering dianggap “kurang seksi” di mata sosial dibandingkan Teknik atau Kedokteran.
Masalah utama: Stereotip bahwa lulusan pertanian “hanya akan mencangkul di sawah” masih kuat. Padahal ilmunya sangat luas. Namun, karena kurangnya industrialisasi pertanian yang merata, banyak lulusannya yang akhirnya bekerja di sektor FMCG atau lagi-lagi, sektor keuangan.
c. Teknik (Sipil/Mesin/Elektro)
Jurusan teknik dikenal memiliki passing grade tinggi dan dianggap menjamin masa depan.
Masalah utama: Tingkat kesulitan akademis yang ekstrem membuat banyak mahasiswa berguguran di tengah jalan (DO) atau lulus dengan waktu yang sangat lama. Ekspektasi gaji tinggi sering kali tidak langsung terwujud bagi fresh graduate yang bekerja di level kontraktor pemula.
3. Mengapa Fenomena “Salah Jurusan” Bisa Terjadi?
Mengapa angka 87% itu bisa muncul? Analisis mendalam menunjukkan bahwa akar masalahnya bukan hanya pada mata kuliah, melainkan pada proses pengambilan keputusan saat kelas 12 SMA.
-
Strategi “Asal Masuk PTN”: Dalam sistem seleksi seperti SNBP (undangan) atau SNBT (tes), banyak siswa yang memilih jurusan bukan berdasarkan minat, melainkan berdasarkan peluang lolos. Mereka mencari jurusan yang “sepi peminat” hanya demi jaket almamater PTN, tanpa meriset apa yang akan dipelajari.
-
Intervensi Orang Tua: Budaya Asia, termasuk Indonesia, masih menempatkan orang tua sebagai penentu utama. Banyak anak yang berbakat di bidang Seni atau Sastra dipaksa masuk Kedokteran atau Teknik demi gengsi keluarga.
-
Kurangnya Riset Karier: Minimnya bimbingan konseling karier yang komprehensif di sekolah membuat siswa buta akan realita dunia kerja. Mereka memilih Hukum karena terlihat keren di film, tanpa tahu bahwa mereka harus menghafal ribuan pasal dan menghadapi tumpukan dokumen setiap hari.
4. Tanda-Tanda Kamu Benar-Benar Salah Jurusan (Bukan Sekadar Malas)
Penting untuk membedakan antara “salah jurusan” dengan sekadar jenuh atau burnout. Berikut tanda-tanda valid kamu mungkin berada di tempat yang salah:
-
Ketidaktertarikan Kronis: Kamu tidak memiliki rasa ingin tahu sedikit pun tentang materi kuliah, bahkan untuk mata kuliah dasar sekalipun.
-
Visi Masa Depan Buram: Kamu tidak bisa membayangkan dirimu bekerja di bidang tersebut. Membayangkan karier sesuai jurusan membuatmu merasa cemas, bukan antusias.
-
Prestasi Akademik Anjlok Meski Sudah Berusaha: Kamu sudah belajar keras, ikut les, tapi otakmu seakan menolak materi tersebut. Ini berbeda dengan malas belajar.
-
Menemukan Passion Kuat di Tempat Lain: Kamu jauh lebih bersemangat dan berprestasi saat mengerjakan kegiatan di luar prodi (organisasi, komunitas, atau hobi).
5. Solusi: Sudah Terlanjur Nyemplung, Harus Bagaimana?
Jika kamu membaca artikel ini dan merasa, “Waduh, ini saya banget,” jangan panik. Salah jurusan bukanlah akhir dari dunia, dan drop out bukan satu-satunya solusi. Dunia kerja modern saat ini semakin fleksibel dan mementingkan skill daripada sekadar gelar linear.
Berikut strategi bertahan dan sukses bagi mahasiswa salah jurusan:
Manfaatkan Program Kampus Merdeka (MBKM)
Ini adalah solusi emas dari pemerintah saat ini. Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, kamu memiliki hak untuk mengambil mata kuliah di luar prodi selama beberapa semester. Kamu juga bisa mengikuti program Magang Bersertifikat di perusahaan ternama yang tidak harus linier dengan jurusanmu. Gunakan kesempatan ini untuk mencicipi karier yang kamu inginkan.
Jadikan Gelar sebagai “Fondasi Pola Pikir”
Apapun jurusannya, kuliah melatih pola pikir sistematis, manajemen waktu, dan penyelesaian masalah. Selesaikan kuliahmu sebagai bentuk tanggung jawab. Gelar S1 tetap menjadi tiket masuk (syarat administrasi) di banyak perusahaan, terlepas dari apa jurusannya.
Fokus pada Soft Skill & Upskilling
Di dunia kerja, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, bahasa asing, dan literasi digital sering kali lebih dihargai daripada sekadar IPK. Jika kamu anak Teknik yang suka Desain, ambil kursus UI/UX. Jika kamu anak Sastra yang suka Bisnis, pelajari Digital Marketing. Jadilah talenta “T-Shaped”: memiliki pengetahuan umum yang luas (dari gelar sarjana) dan keahlian spesifik yang mendalam (dari hobi/kursus).
Kesimpulan
Merasa salah jurusan adalah fase validasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar kamu inginkan. Banyak CEO, pengusaha sukses, dan pemimpin dunia yang berkarier di bidang yang jauh berbeda dari jurusan kuliahnya. Jangan biarkan label “salah jurusan” membatasi potensimu. Mulailah merancang peta kariermu sendiri mulai hari ini, bukan berdasarkan ijazah semata, tapi berdasarkan skill dan minat nyata yang kamu miliki.