Hikmah Ibadah Haji

Hikmah haji dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu:

Aspek historis-geografis

Ditinjau dari segi ini, ibadah haji mengandung pelajaran untuk menghargai jasa-jasa para pendahulu, yaitu para Nabi terdahulu. Bahwa diutusnya Rasulullah  dan salah satu syariatnya adalah ibadah haji menunjukkan penghargaan dan pelanjut kebrlangsungan ajaran dan jasa-jasa perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta Siti Hajar, yang telah mendirikan rumah ibadah  pertama di muka bumi bagi manusia.

Perjuangan berat ketiga pendahulunya itu dilestarikan bukan dalam bentuk prasasti atau peninggalan-peninggalan bentuk fisik, namun dengan menapaktilasi perjalanan para pendahulunya, yaitu diwujudkan dengan perilaku perbuatan ibadah, sehingga orang yang menunaikan ibadah haji dapat meraskan langsung perjuangan berat dalam menunaikan ibadah haji yang pelaksanaannya disamakan dengan jihad fisabilillah.

Di samping itu, dalam melaksanakan ibadah haji dapat secara langsung melihat dan merasakan medan perjuangan Nabi Saw dan para sahabat dalam menegakkan agama Allah. Menaklukan medan yang berat, yang terdiri dari luasnya padang pasir yang kering dan tandus. Dengan demikian, akan dapat memotivasi setiap bentuk amaliah ibadah seberat apapun, hendaknya dilakukan dengan tabah dan penuh kesabaran, serta selalu penuh harap mendapat pertolongan Tuhan.

Aspek sosiologis

Ibadah haji diperuntukkan bagi seluruh umat Islam sedunia dari berbagai kultur dan ras. Sehingga akan dapat dirasakan keragaman budaya umat Islam yang diikat dalam satu kesatuan aqidah Islam. Akan terlihat pula betapa Islam mengajarkan egalitarianism, persamaan derajat HAM. Maka wajar jika Ka’bah dilambangkan sebagai pemersatu dunia. Banyak orang juga menyebutkan bahwa pelaksanaan ibadah haji merupakan kongres dunia.

Dengan demikian orang yang telah berhaji adalah orang yang telah memiliki pengalaman tingkat dunia, telah memiliki wawasan yang luas, karena telah melihat berbagai macam corak kebudayaan dunia luar. Maka wajar pula jika para haji setelah pulang ke negerinya masing-masing menjadi orang yang dihormati dan mendapat tempat yang tinggi dalam masyarakat namun tetap menjadi orang yang tawadhu karena menghayati pakaian yang dikenakan sewaktu ibadah haji adalah warna pakaian yang akan dikenakan sewaktu berakhir hidupnya. Kafan yang berwarna putih, akan dapat mengingatkan bahwa manusia manakala menghadap Allahkelak, atribut apapun yang disandangya di dunia ini akan ditinggalkan, hanya ketaqwaan yang akan diperhitungkan di hadapan Allah SWT.

Aspek pedagogis

Ibadah haji dapat mendidik manusia untuk meningkatkan amal perbuatan menjadi lebih baik. Dengan melakukan ibadah haji, manusia dapat mengambil I’tibar (penjelasan) atas berbagai pengalaman yang ditemuinya untuk selalu melakukan introspeksi dan evaluasi diri, sehingga dirinya tidak merasa sebagai orang terbaik, karena ternyata kebaikan yang ada pada dirinya juga didapatkan pada orang lain, bahkan mungkin orang lain itu lebih baik dari dirinya.