Menu Tutup

Hubbu Dunya: Pengertian, Ciri-ciri dan Cara Menghindarinya

Pengertian

Hubbud dunya (Hubbu ad-Dunya) artinya cinta dunia, yaitu menganggap harta benda adalah segalanya. Penyakit Hubbud dunya (cinta pada dunia) berawal dari penyakit iman, yang berakar pada persepsi yang salah bahwa dunia ini adalah tujuan akhir kehidupan, sehingga akhirat dilupakan. Akhirnya, jabatan dan harta dipandang sebagai tujuan, bukan sebagai alat untuk meraih keridhaan Allah Swt, sebagaimana di singgung pada hadis berikut.

Arti Hubbud Dunya - Hadis tentang cinta dunia

“Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.” Sahabat bertanya, “Apakah lantaran pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit Ya Rasulullah?”. Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa.” Sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud kelemahan jiwa, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”. (HR. Abu Daud).

Ciri-Ciri Hubbud Dunya

1) Menganggap dunia sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana mencapai kebahagiaan akhirat
2) Suka mengumpulkan harta benda dengan menghalalkan segala cara tanpa memperhatikan halal dan haramnya.

Ciri-Ciri Hubbud Dunya

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. At-Takasur [102] : 1-2)

3) Kikir, tidak rela sediki pun hartanya lepas atau berkurang. Jangankan untuk sedekah, zakat yang memang wajib saja ia tidak mau. Pada puncaknya ia juga akan kikir kepada dirinya, sehingga ketika dia sakit tidak mau berobat karena khawatir hartanya berkurang
4) Serakah dan rakus serta tamak. Ia tidak puas dengan apa yang telah ia miliki sehingga ia akan berusaha menambah perbendaharaan hartanya
5) Tidak mensyukuri nikmat yang sedikit. Maunya nikmat-nikmat yang besar, banyak dan melimpah.

Bahaya Hubbud Dunya

  1. Cinta dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah, misalnya, shalat, puasa dan sedekah.
  2. Jika seorang telah dikuasai (hatinya) oleh iblis, maka akan menjadi lemah, iblis akan membolak-balikan hatinya bagaikan seorang anak kecil mempermainkan bola. Karena orang yang mabuk karena cinta dunia tidak akan sadar kecuali setelah berada di dalam kubur.
  3. Cinta dunia merupakan sumber segala kesalahan karena cinta dunia, sering mengakibatkan seseorang cinta terhadap harta benda dan di dalam harta benda terdapat banyak penyakit. Antara lain sifat rakus, tamak, bangga dan angkuh, pamer terhadap yang dimiliki. Orang yang cinta dunia akan sibuk mengurus hartanya dan terus berusaha untuk menambahnya, hingga membuatnya lalai dari dzikir kepada Allah Swt.
  4. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah dan cenderung melelahkan diri sendiri memikirkan yang tidak ada. Makin cinta pada dunia, akan makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.

Cara Menghindari Hubbud Dunya

1. Mengingat kehidupan di dunia itu hanya sementara. Islam tidak memerintahkan umatnya untuk meninggalkan dunia, tetapi umat Islam diperintahkan untuk menaklukkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya. (QS. Al-Hadid [57] : 20)
2. Perbanyak mengingat kematian. (QS. Ali Imran [3] : 185)
3. Meyakini dan menyadari bahwa setiap tindakan kita direkam oleh anggota badan kita, yang nanti di hari akhir, ; tangan, kaki, lidah kita akan bersaksi di depan Allah (QS. Fushshilat [41] : 20 – 22)

4. Qana’ah, yaitu rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.
5. Zikir, merupakan metode yang paling efektif untuk membersihkan hati dan meraih kehadiran Ilahi.
6. Kuatnya iman seseorang dan menerapkan muraqabah. Meyakini bahwa Allah selalu melihat kita, jika kita berdua, maka yang ketiga adalah Allah, jika kita bertiga maka yang keempat Allah. Jika kita merasa selalu dilihat Allah, maka tidak ada lagi orang yang mencuri/korupsi, tidak ada pedagang yang mengurangi meteran atau timbangan
7. Pengabdian penuh khidmat, yaitu saat-saat beribadah, kita lakukan dengan cara tulus ikhlas sepenuh hati kepada-Nya.
8. Sadar bahwa dunia dan seisinya adalah amanah Allah. Semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat. Semakin tinggi jabatan, kedudukan, dan semakin banyak nikmat yang diterima seseorang di dunia, maka semakin berat pula tanggung jawabnya di akhirat.
9. Oleh sebab itu, jangan pernah “kecukupan” atau kekurangan “dunia” ini merusak hati kita. Jika berkecukupan, jangan sampai kecukupan kita menjadikan kita sombong, dan jika kekurangan, maka jangan sampai kekurangan kita itu, membuat kita jadi kurang mensyukuri nikmat Allah, banyak mengeluh dan minder

Baca Juga: