Hukum Go Food Haram atau Tidak?

Benarkah GO-FOOD Haram?

Fatwa sebagian kalangan yang mengharamkan GO-FOOD hanya mengutip hadis-hadis tentang larangan mulitakad di atas yang kemudian dipahami secara tekstual tanpa melihat konteks dan illat hukumnya. Sehingga seolah-olah semua transaksi yang menggabungkan dua akad atau lebih hukumnya haram secara mutlak.

Padahal, di situlah poin pentingnya. Ketika salah memahami hadis, maka akan salah pula dalam mengambil kesimpulan hukum terhadap suatu transaksi berlandaskan hadis tersebut. Sufyan bin ‘Uyainah, seorang muhaddits yang wafat tahun 198 H[1] pernah mengatakan, “Hadis itu bisa menyesatkan kecuali bagi para fuqaha.[2]

Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih mendalam terhadap pemahaman para ulama dalam menafsirkan hadits-hadits tersebut agar kita tidak salah memamahami isi kandungannya.

Penafsiran Makna Ba’iatain fi Bai’ah

1. Ulama Klasik

Para ulama secara umum sepakat bahwa hukum Ba’iatain fi Bai’ah adalah dilarang[3] berdasarkan hadits-hadits yang sudah dijelaskan di atas yang secara eksplisit menyatakan larangan terhadap hal tersebut. Namun mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan maksud dari istilah Ba’iatain fi Bai’ah itu sendiri. Setidaknya ada tujuh penafsiran istilah Ba’iatain fi Bai’ah menurut para ulama:[4]

a. Penafsiran pertama

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Ba’iatain fi Bai’ah adalah jual beli barang dengan dua pilihan harga, harga tunai dan harga kredit di mana harga kredit lebih mahal dari pada harga tunai. Di antara yang berpendapat demikian ialah Sammak, perawi hadits larangan Ba’iatain fi Bai’ah. Menurut tafsiran ini, menjual barang dengan harga kredit yang lebih mahal dari harga tunai adalah terlarang.

b. Penafsiran Kedua 

Tafsiran kedua ini hampir mirip dengan yang pertama hanya saja dalam penafsiran kedua ini penjual dan pembeli sama-sama tidak menentukan harga mana yang diambil, apakah harga tunai atau harga kredit kemudian keduanya berpisah begitu saja padahal akad jual beli sudah terjadi. Di antara ulama yang berpendapat dengan tafsiran kedua ini di antaranya Abu ‘Ubaid, ats-Tsauri, Ishaq, ulama malikiyyah dan hanabilah.

c. Penafsiran ketiga

Yang dimaksud Ba’iatain fi Bai’ah menurut penafsiran ketiga adalah jual beli satu barang dengan dua harga (contoh: saya jual barang ini dengan salah satu dari dua harga: satu dinar atau seekor kambing), atau menawarkan salah satu dari dua barang dengan satu harga (contoh: saya jual seekor kambing atau sepotong pakaian dengan harga satu dinar). Hal ini dilarang karena ada ketidakjelasan harga mana atau barang mana yang akan diambil. Penafsiran ini adalah pendapat Imam Malik dan al-Baji.

d. Penafsiran keempat

Menurut Ibnu al-Qayyim yang dimaksud dengan