Hukum Go Food Haram atau Tidak?

33

Benarkah GO-FOOD Haram?

Fatwa sebagian kalangan yang mengharamkan GO-FOOD hanya mengutip hadis-hadis tentang larangan mulitakad di atas yang kemudian dipahami secara tekstual tanpa melihat konteks dan illat hukumnya. Sehingga seolah-olah semua transaksi yang menggabungkan dua akad atau lebih hukumnya haram secara mutlak.

Padahal, di situlah poin pentingnya. Ketika salah memahami hadis, maka akan salah pula dalam mengambil kesimpulan hukum terhadap suatu transaksi berlandaskan hadis tersebut. Sufyan bin ‘Uyainah, seorang muhaddits yang wafat tahun 198 H[1] pernah mengatakan, “Hadis itu bisa menyesatkan kecuali bagi para fuqaha.[2]

Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih mendalam terhadap pemahaman para ulama dalam menafsirkan hadits-hadits tersebut agar kita tidak salah memamahami isi kandungannya.

Penafsiran Makna Ba’iatain fi Bai’ah

1. Ulama Klasik

Para ulama secara umum sepakat bahwa hukum Ba’iatain fi Bai’ah adalah dilarang[3] berdasarkan hadits-hadits yang sudah dijelaskan di atas yang secara eksplisit menyatakan larangan terhadap hal tersebut. Namun mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan maksud dari istilah Ba’iatain fi Bai’ah itu sendiri. Setidaknya ada tujuh penafsiran istilah Ba’iatain fi Bai’ah menurut para ulama:[4]

a. Penafsiran pertama

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Ba’iatain fi Bai’ah adalah jual beli barang dengan dua pilihan harga, harga tunai dan harga kredit di mana harga kredit lebih mahal dari pada harga tunai. Di antara yang berpendapat demikian ialah Sammak, perawi hadits larangan Ba’iatain fi Bai’ah. Menurut tafsiran ini, menjual barang dengan harga kredit yang lebih mahal dari harga tunai adalah terlarang.

b. Penafsiran Kedua 

Tafsiran kedua ini hampir mirip dengan yang pertama hanya saja dalam penafsiran kedua ini penjual dan pembeli sama-sama tidak menentukan harga mana yang diambil, apakah harga tunai atau harga kredit kemudian keduanya berpisah begitu saja padahal akad jual beli sudah terjadi. Di antara ulama yang berpendapat dengan tafsiran kedua ini di antaranya Abu ‘Ubaid, ats-Tsauri, Ishaq, ulama malikiyyah dan hanabilah.

c. Penafsiran ketiga

Yang dimaksud Ba’iatain fi Bai’ah menurut penafsiran ketiga adalah jual beli satu barang dengan dua harga (contoh: saya jual barang ini dengan salah satu dari dua harga: satu dinar atau seekor kambing), atau menawarkan salah satu dari dua barang dengan satu harga (contoh: saya jual seekor kambing atau sepotong pakaian dengan harga satu dinar). Hal ini dilarang karena ada ketidakjelasan harga mana atau barang mana yang akan diambil. Penafsiran ini adalah pendapat Imam Malik dan al-Baji.

d. Penafsiran keempat

Menurut Ibnu al-Qayyim yang dimaksud dengan

Ba’iatain fi Bai’ah adalah bai’ al-‘inah, yaitu jual beli kamuflase dengan tujuan untuk mendapatkan pinjaman berbunga. Contohnya, A menjual barang kepada B seharga seratus ribu dicicil selama sebulan, dengan syarat setelah itu barang tersebut langsung dijual kembali kepada A dengan harga delapan puluh ribu secara tunai.

e. Penafsiran kelima

Imam Syafi’i juga menafsirkan makna bai’atain fi bai’ah maksudnya adalah mensyaratkan jual beli dalam jual beli (contoh: saya jual mobil ini kepada bapak, dengan syarat bapak jual motor bapak kepada saya dengan harga sekian).

f. Penafsiran keenam

Penafsiran ini mirip dengan yang kelima, hanya saja yang disyaratkan bukan hanya jual beli saja tapi termasuk hal-hal lain seperti pemanfaatan barang (contoh: saya jual rumah ini sekarang dengan syarat saya tempati dulu rumahnya selama sebulan). Penafsiran ini adalah pendapat kalangan hanafiyyah.

g. Penafsiran ketujuh

Bai’atain fi ba’iah menurut penafsiran ketujuh adalah dua jual beli dalam satu akad salam. Contohnya A memesan barang kepada B dengan pembayaran di muka seharga seratus ribu, barang tersebut akan diserahkan minggu depan. Setelah seminggu, B tidak bisa menyerahkan barang yang dipesan A, sehingga B kemudian berkata kepada A, “Saya beli kembali barang pesanan kamu yang belum bisa saya berikan sekarang seharga seratus lima puluh ribu, dibayar selama dua minggu.” Pendapat ini adalah pendapat al-Khattabi.

2. Ulama Kontemporer

Dari ketujuh penafsiran di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas ulama menafsirkan bai’atain fi ba’iah bahwa maksudnya adalah jual beli satu barang dengan dua harga sekaligus yaitu harga tunai dan harga kredit, di mana harga kredit lebih mahal dari harga tunainya. Namun jika terjadi tawar-menawar sehingga pembeli menentukan harga mana yang dia ambil –apakah harga tunai atau harga kredit—maka tidak termasuk ke dalam kategori bai’atain fi ba’iah.[5] Jual-beli semacam ini dilarang karena ada unsur gharar (Ketidakjelasan) dalam harga barang.

Pendapat mayoritas ulama inilah yang kemudian dipilih oleh ulama-ulama kontemporer seperti Dr.

Nazih Hammad dosen Fiqih dan Ushul Fiqih di Fakultas Syariah Universitas Ummul Qura dan Dr. Ali Muhyiddin dosen Fiqih dan Ushul Fiqih di Fakultas Syariah & Qanun Universitas Qatar dan juga pakar fiqih dan ekonomi Islam Majma’ al-Fiqh al-Islami di Mekkah dan Jeddah Arab Saudi.

Dr. Ali Muhyiddin memilih pendapat mayoritas ulama dalam menafsirkan bai’atain fi bai’ah dengan alasan bahwa salah satu yang menafsirkan demikian adalah Ibnu Mas’ud seorang sahabat Nabi yang secara langsung meriwayatkan hadits tentang larangan bai’atain fi bai’ah ini dari Nabi Muhammad SAW. Sehingga menurutnya, tafsir Ibnu Mas’ud lebih diutamakan daripada tafsir yang lainnya sebab perawi hadits lebih memahami apa yang

diriwayatkannya dibanding orang lain.[6]

Selain itu pendapat ini juga lebih dikuatkan oleh salah seorang tabi’in yang bernama Sammak yang juga merupakan perawi hadits larangan bai’atain fi bai’ah. Sehingga penafsirannya juga lebih diutamakan daripada tafsir yang lainnya ketika terjadi perbedaan. Di antara ulama salaf yang mendukung penafsiran ini adalah ats-Tsauri, Masruq, Abu Sulaiman, Ibnu Sirin, Thawus, al-Auza’i, Imam anNasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu al-Atsir, Abu ‘Ubaid dan lain-lain.[7]

Sedangkan Dr. Nazih Hammad berpendapat bahwa di antara penafsiran yang ada, hanya ada dua penafsiran yang menurut beliau paling relevan dengan hadits larangan bai’atain fi bai’ah. Yaitu penafsiran jumhur seperti yang dikemukakan di atas dan penafsiran Ibnu Taimiyyah dan Ibnu al-Qayyim bahwa yang dimaksud dengan bai’atain fi bai’ah adalah bai’ al-‘inah (jual beli kamuflase dengan tujuan untuk mendapatkan pinjaman berbunga). Sedangkan penafsiran-penafsiran yang lain dianggap kurang relevan untuk merepresentasikan makna bai’atain fi bai’ah.[8]

Menurutnya, penafsiran mayoritas ulama dianggap tepat masuk ke dalam kategori transaksi yang dilarang karena ada ‘illah (alasan hukum)-nya yaitu gharar (ketidakjelasan) dalam nilai/harga barang. sedangkan penafsiran Ibnu Taimiyyah juga dianggap relevan karena memiliki ‘illah riba yang jelas dilarang dalam syariah.[9]

[1] Syamsuddin Abu Abdillah adz-Dzahabi, Siyar A’lam anNubala, (t.tp: Muassasah ar-Risalah, cet. III tahun 1985), jilid 8, h. 454

[2] Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Yunus at-Tamimi, al-Jami’ li al-Masail al-Mudawwanah, (t.tp: Darul Fikr, cet, I tahun 2103), jilid 24, h. 65

[3] Dr. Nazih Hammad, Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah fi al-Mal wa al-Iqtishad, hlm. 173.

[4] al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (Kuwait, Dar asSalasil cet. II, 1404-1427 H) juz 9, hlm. 264.

[5] Dr. Ali Muhyiddin, Buhuts fi Fiqh al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah (Beirut, Darul Basyair al-Islamiyyah, cet. I tahun 2001), hlm. 366.

[6] Dr. Ali Muhyiddin, Buhuts fi Fiqh al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, hlm. 372.

[7] Dr. Ali Muhyiddin, Buhuts fi Fiqh al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, hlm. 372.

[8] Dr. Nazih Hammad, Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah fi al-Mal wa al-Iqtishad, hlm. 180.

[9] Lihat: Dr. Nazih Hammad, Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah fi Mal wa al-Iqtishad, hlm. 180

Sumber: Muhammad Abdul Wahab, Benarkah Go-Food Haram? , Jakarta: Rumah Fiqih Publishing, 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini