Menu Tutup

Hukum Mencumbu Istri Saat Puasa

Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu. Puasa memiliki banyak hikmah dan keutamaan, di antaranya adalah mengendalikan nafsu dan menjaga diri dari perbuatan dosa. Namun, bagaimana jika seorang muslim ingin bercumbu dengan istrinya saat puasa? Apakah hal itu diperbolehkan atau tidak? Apakah hal itu akan membatalkan puasa atau tidak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui definisi dan batasan dari bercumbu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bercumbu berarti berbuat mesra dengan lawan jenis; bersentuhan lembut dengan bibir atau tangan; mencium-mencium. Dalam konteks ini, bercumbu adalah aktivitas yang dilakukan oleh suami istri untuk mengekspresikan kasih sayang dan keintiman mereka.

Dalam Islam, bercumbu antara suami istri adalah hal yang dibolehkan dan disunnahkan dalam keadaan normal. Bahkan Nabi Muhammad SAW juga kerap mencium istrinya meski dengan berpuasa. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium dan mencumbu (istri-istri beliau) padahal beliau sedang berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian.” (HR. Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106)

Namun demikian, bercumbu saat puasa tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan tanpa batas. Ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan agar puasa tetap sah dan tidak tercemar oleh perbuatan dosa.

Syarat pertama adalah tidak boleh sampai keluar mani atau sperma. Ini karena keluar mani termasuk dalam jenis-jenis pembatal puasa yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadhan tanpa ada izin dari Allah atau udzur (yang syar’i), maka dia tidak bisa mengqadha hari itu dan tidak cukup baginya puasa sebulan setelah sebulan.” (HR. Ahmad no. 8999)

Syarat kedua adalah tidak boleh sampai menimbulkan syahwat sehingga ada kemungkinan persetubuhan (jima’). Ini karena persetubuhan juga termasuk dalam jenis-jenis pembatal puasa yang disebutkan dalam firman Allah SWT:

الله باليسر ولا يريد بالعسر ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Syarat ketiga adalah tidak boleh sampai melampaui batas kewajaran dan kesopanan . Ini karena bercumbu saat puasa dapat menimbulkan fitnah dan godaan bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi no. 2336)

Oleh karena itu, bercumbu saat puasa harus dilakukan dengan cara yang halus dan lembut, tanpa mengekspos aurat atau bagian tubuh yang sensitif. Juga harus dilakukan dengan penuh rasa malu dan takut kepada Allah SWT.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum bercumbu dengan istri saat puasa adalah boleh dengan syarat-syarat tertentu. Namun demikian, sebaiknya aktivitas bercumbu dihindari di siang hari untuk menjaga kesucian puasa . Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيْاطِينُ وَمُرْجِئاتُ الجِّنِّ وغُلّقت أبواب النار فلا يفتح منها باب وفتحت أبواب الجنة فلا يغلق منها باب وينادى مناد: يا با غى الخير أقبل، ويا با غى الشر أقصر، ولله عتقاء من النار، وذلك كل ليلة

“Apabila telah masuk malam pertama dari bulan Ramadhan maka setan-setan dibelenggu dan jin-jin yang suka mengganggu dibelenggu juga serta pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satupun pintunya yang terbuka sedikitpun; pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak ada satupun pintunya yang tertutup sedikitpun; lalu seorang penyeru berseru: Wahai orang-orang yang menginginkan kebaikan datanglah! Wahai orang-orang yang menginginkan keburukan berhentilah! Dan bagi Allah orang-orang yang dilepaskan dari api neraka; hal ini terjadi setiap malam.” (HR. Tirmidzi no. 682)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca Juga: