Banyak orang tua bertanya kapan waktu yang tepat mengajarkan tajwid kepada anak. Sebagian menganggap tajwid terlalu rumit untuk anak kecil, sebagian lagi terburu-buru mengajarkannya bersamaan dengan pengenalan huruf hijaiyah. Keduanya sama-sama menyulitkan anak.
Urutan yang lazim dipakai di banyak lembaga pendidikan Al-Qur’an sederhana saja: anak mengenali bentuk huruf lebih dulu, lalu membedakan bunyinya, baru kemudian merapikan cara membacanya. Tajwid masuk di tahap ketiga. Memaksakannya di tahap pertama membuat anak menghafal istilah tanpa memahami bunyi yang dimaksud.
Tanda anak siap belajar tajwid biasanya terlihat dari kemampuannya membaca satu baris tanpa berhenti mengeja. Kalau anak masih mengeja huruf per huruf, yang dibutuhkan bukan tajwid, melainkan latihan pengenalan huruf yang lebih banyak. Sebaliknya, kalau anak sudah lancar tetapi panjang pendeknya masih berantakan, di situlah tajwid mulai relevan.
Usia bukan penentu tunggal. Ada anak tujuh tahun yang sudah lancar membaca satu halaman, ada anak sepuluh tahun yang masih tersendat. Yang lebih menentukan adalah seberapa sering ia membaca dan seberapa cepat kesalahannya dikoreksi. Anak yang membaca tiga kali seminggu dengan koreksi langsung akan lebih cepat rapi daripada anak yang membaca tiap hari tanpa ada yang membetulkan.
Poin terakhir itu yang sering terlewat. Kesalahan bacaan yang dibiarkan berulang akan mengendap jadi kebiasaan, dan membetulkan kebiasaan jauh lebih lama daripada mengajarkannya dari awal. Karena itu pendampingan satu guru untuk satu anak lebih efektif dibanding kelas besar, terutama pada tahap merapikan bacaan.
Pendampingan seperti ini kini juga tersedia secara daring. Platform seperti Ngajiku menyediakan kelas tahsin online dengan format satu guru satu murid lewat video call, sehingga guru bisa langsung mendengar dan mengoreksi bacaan anak saat itu juga. Untuk orang tua yang ingin memulai dari tahap pengenalan huruf, tersedia pula jalur belajar ngaji online untuk anak yang dirancang bertahap sesuai kesiapan masing-masing anak.
Apa pun jalurnya, prinsipnya sama: dahulukan kelancaran membaca, baru kerapian. Tajwid akan jauh lebih mudah dipahami ketika anak sudah nyaman dengan hurufnya.