Menu Tutup

KDRT: Bentuk, Penyebab, dan Dampaknya

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga. KDRT sering terjadi dalam hubungan personal antara suami-istri sah atau pasangan serumah, tetapi juga dapat menimpa anak, orang tua, lanjut usia, atau pekerja rumah tangga . KDRT adalah bentuk kekerasan berbasis gender yang melanggar hak asasi manusia dan merugikan korban secara fisik, mental, sosial, dan ekonomi.

Bentuk-bentuk KDRT

KDRT tidak melulu berupa kekerasan fisik semata. Jika digolongkan, ada empat bentuk kekerasan dalam rumah tangga , yaitu:

  • Kekerasan fisik, yaitu tindakan yang menyebabkan rasa sakit atau luka pada tubuh korban, seperti memukul, menampar, menendang, mencubit, menjambak, mencekik, atau mengancam dengan senjata.
  • Kekerasan seksual, yaitu tindakan yang melanggar kehendak korban dalam hal hubungan seksual atau perilaku seksual lainnya, seperti memaksa berhubungan intim, memperkosa, menyentuh bagian sensitif tubuh tanpa izin, atau mengekspos diri secara tidak senonoh.
  • Kekerasan psikologis, yaitu tindakan yang menimbulkan rasa takut, cemas, rendah diri, atau trauma pada korban secara mental atau emosional, seperti menghina, mencemooh, mengancam, mengintimidasi, mengucilkan, mengabaikan, atau mengontrol perilaku korban.
  • Penelantaran rumah tangga, yaitu tindakan yang tidak memenuhi kewajiban sebagai anggota keluarga atau pasangan hidup dalam hal memberikan nafkah lahir batin kepada korban atau anak-anaknya.

Penyebab KDRT

Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi pelaku melakukan KDRT terhadap korbannya. Beberapa faktor yang sering dikemukakan adalah sebagai berikut:

  • Faktor ekonomi, yaitu ketika pelaku merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga atau mengalami kesulitan finansial sehingga menyalurkan frustrasinya dengan kekerasan.
  • Faktor psikologis, yaitu ketika pelaku memiliki gangguan jiwa atau emosi yang tidak stabil sehingga mudah marah atau cemburu tanpa alasan yang jelas.
  • Faktor sosial-budaya, yaitu ketika pelaku dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarki yang menganggap laki-laki lebih superior daripada perempuan sehingga berhak mengatur atau mendominasi pasangannya.
  • Faktor pengalaman masa lalu, yaitu ketika pelaku pernah menjadi korban atau saksi kekerasan dalam keluarganya sendiri sehingga menganggap kekerasan sebagai hal yang wajar atau dapat diterima.

Dampak KDRT

KDRT memiliki dampak yang sangat merugikan bagi korban maupun keluarganya. Dampak-dampak yang dapat timbul akibat KDRT antara lain:

  • Dampak fisik, yaitu korban dapat mengalami luka-luka ringan hingga berat pada tubuhnya, seperti memar, lecet, patah tulang, luka bakar, kerusakan organ dalam, bahkan kematian.
  • Dampak seksual, yaitu korban dapat mengalami gangguan reproduksi atau infeksi menular seksual akibat pemerkosaan atau pemaksaan hubungan intim tanpa perlindungan.
  • Dampak psikologis, yaitu korban dapat mengalami gangguan mental atau emosional akibat kekerasan psikologis yang dialaminya, seperti depresi, stres, trauma, fobia sosial, gangguan kepercayaan diri, gangguan tidur, gangguan makan, bahkan bunuh diri.
  • Dampak sosial, yaitu korban dapat mengalami isolasi sosial akibat tekanan dari pelaku atau lingkungan sekitarnya yang tidak mendukung. Korban juga dapat mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain akibat kurangnya rasa percaya diri atau rasa malu.
  • Dampak ekonomi, yaitu korban dapat mengalami kerugian materi akibat harus membayar biaya pengobatan atau perawatan akibat luka-luka fisik yang dideritanya. Korban juga dapat kehilangan sumber penghasilan akibat tidak bisa bekerja atau berhenti bekerja karena tekanan dari pelaku.

Baca Juga: