Kemunduran Tiga Kerajaan Besar : Safawi di Persia, Mughal di India, dan Usmani di Turki

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi di Persia

Kerajaan safawi di Persia meraih puncak keemasan dibawah pemerintahan Syah Abbas I selama periode 1588-1628 M. Abbas I berhasil membangun kerajaan safawi sebagai kompetitor seimbang bagi Kerajaan Turki Usmani. Sepeninggal Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu:

  1. Safi Mirza (1628 – 1642 M)

Safi Mirza merupakan pemimpin yang lemah dan kelemahan ini dilengkapinya oleh kekejaman yang luar biasa terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifatnya yang pecemburu. Pada masa pemerintahan Mirza inilah kota Qandahar lepas dari penguasaan Safawi karena direbut oleh kerajaan Mughal yang pada saat itu dipimpin oleh Syah Jehan. Baghdad sendiri direbut oleh Kerajaan Usmani

  1. Abbas II (1642-1667 M)

Abaas II konon seorang raja pemabuk, akan tetapi di tangannya dengan bantuan wazir-wazirnya kota Qandahar bisa direbut kembali.

  1. Sulaiman (1667-1694 M)

Sulaiman adalah seorang pemabuk dan selalu bertindak kejam terhadap pembesar istana yang dicurigainya. Akibatnya rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintahan.1

  1. Husain (1694-1722 M)

Syah Husain adalah raja yang alim, tetapi kealiman Husain adalah suatu kefanatikan tehadap Syi’ah. Karena dia Syi’ah berani memaksakan pendiriannya terhadap golongan Sunni. Inilah yang menyebabkan timbulnya kemarahan golongan Sunni di Afghanistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan Dinasti Safawi.2

Pemberontakan bangsa Afghan dimulai pada 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Lalu disusul oleh pemberontakan suku Ardabil di Herat yang berhasil menduduki Mashad. Mir Vays digantikan oleh Mir Mahmud sebagai penguasa Qandahar. Dibawahnyalah, keberhasilan menyatukan suku Afghan dengan suku Ardabil. Dengan kekuatan yang semakin besar, Mahmud semakin terdorong untuk memperluas wilayah kekuasaannya dengan merebut wilayah Afghan dari tangan Safawi.

Bahkan ia melakukan penyerangan terhadap Persia untuk menguasai wilayah tersebut. Penyerangan ini memaksa Husain untuk mengakui kekuasaan Mahmud. Oleh Husain, Mahmud diangkat menjadi gubernur di Qandahar dengan gelar husain Quli Khan yang berarti Budak Husain. Dengan pengakuan ini semakin mudah bagi Mahmud untuk menjalankan siasatnya. Pada 1721 M ia berhasil merebut Kirman. Lalu menyerang Isfahan, mengepung ibu kota Safawi itu selama enam bulan dan memaksa Husain menyerah tanpa syarat. Pada 12 Oktober 1722 M Syah Husain menyerah dan 25 Oktober menjadi hari pertama Mahmud memasuki kota Isfahan dengan kemenangan.3