Latar Belakang Sejarah Haji

Pelaksanaan ibadah haji ditetapkan sepenuhnya oleh Rasulullah Saw, berdasarkan petunjuk Allah. Praktek pengamalannya pada prinsipnya menapaktilasi perjalanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail As.

Setelah Nabi Ibrahim As membangun Baitullah, menyuruh anak cucunya bertempat tinggal disekitarnya. Sejak itulah orang-orang Arab melakukan haji ke Baitullah dan hal itu dilakukan terus menerus dengan prinsip beribadah hanya mengharap ridho Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Sebagaimana ayat berikut (QS. Al-Baqarah 2:127) : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa) : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Setelah beberapa abad kemudian, mereka melakukan perubahan tatacara ibadah haji sebagaimana dilakukan pada Nabi Musa As. Dengan perubahan itu, mereka mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala, mengangkat berhala di atas Baitullah dan meletakkan di sekeliliingnya.

Mereka meminta pertolongan kepada berhala dan menjadikannya sebagai pemeberi syafa’at selain Allah. Mereka menyembelih hewan qurban untuk berhala dan menyebut nama-nama berhala ketika menyembelih. Mereka melakukan thawaf dengan telanjang dan sebagian mereka tidak melakukan wuquf di Arafah bersama yang lain, karena mereka merasa derajatnya di atas derajat manusia yang lain, sebab mereka mempunyai kewenangan mengurus Baitullah.

Hamka menjelaskan dengan lebih detail, yaitu bahwa sebelum negeri Mekkah ditaklukan oleh Rasulullah dan kaum Muslimin pada tahun ke 8 hijriah, maka pada tahun ke 7 hijriah sudah berlaku juga umratul qadha, pengganti umrah yang tidak jadi pada tahun ke 6 hijriah, padahal di Mekkah masih ada berhala, di Ka’bah masih terdapat 360 berhala.

Bahkan di bukit Shafa, masih terdapat berhala Lata sehingga menghalangi orang Islam yang datang untuk melakukan ritual Sa’i (berjalan cepat antara Shafa dan Marwah). Maka ada sahabat Rasulullah yang ragu-ragu tentang Sa’i di antara Shafa dan Marwah itu karena melihat masih ada berhala lata berdiri di sana. Lalu datanglah ayat, bahwa Sa’i di antara Shafa dan Marwah itu tidak ada halangan diteruskan sebab kita melakukan Sa’i itu semata-mata ibadah karena Allah.

Kerena terdapat berbagai perubahan itulah maka diutuslah Nabi Muhammad Saw, yang dengan tegas mengatakan bahwasannya kedatangannya adalah hendak membangkitkan kembali ajaran asli Nabi Ibrahim, ajaran Hanif dan Muslim. Lurus menuju Allah dan berserah diri kepada-Nya.