Macam-Macam Takdir

Takdir adalah peraduan/ gabungan antara qadha’ dan qadar. Takdir merupakan ketetapan dan keputusan Allah Swt. terhadap manusia atau makhluk Allah Swt. lainnya sesuai kadar atau ukurannya masing-masing. Segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini yang sudah diputuskan oleh Allah Swt. tidak bisa diprotes atau ditolak siapapun. Mungkin seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan, tetapi jika Allah Swt. menentukan lain maka ia harus menyadari bahwa Allah Swt. memberi takdirnya.

Jika seseorang berusaha dengan baik dan tekun melaksanakan usahanya biasanya takdirnya baik (berhasil atau tercapai apa yang diinginkan). Sebaliknya, jika seseorang tidak mau berusaha dengan baik dan bersungguh-sungguh maka takdirnya buruk (tidak berhasil atau tidak tercapai apa yang diinginkan). Jadi ditakdirkan baik atau tidak, biasanya sudah tampak dari usaha seseorang.

Manusia bertakdir baik memiliki ciri-ciri antara lain selalu berbuat kebaikan. Jika meras salah atau dan berbuat dosa segera bertaubat kepada Allah Swt. dan tidak mengulanginya lagi. Begitu pula dalam mencari rezeki dilakukannya dengan cara mencarai rezeki yang halal dan halal. Semua dilakukan tanpa mengenal lelah dan menngeluh.

Macam-macam takdir ada 2 (dua), antara lain:

  1. Takdir Mubram, yaitu yang tidak dapat dibantah dan di tawar-tawar oleh manusia. Takdir mubram sifatnya paten (sudah baku) sehingga manusia tinggal menunggu dan menjalankan saat takdir itu datang. Contoh: kematian, dan ciptaan-ciptaan Allah Swt. lainnya seperti ada manusia yang dilahirkan dengan kulit sawo matang sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih, berhidung pesek, bermata sipit, dan lain Semua itu tidak dapat dibantah dan ditawar-tawar oleh manusia.
  2. Takdir Mua’llaq, yaitu takdir yang masih dapat diusahakan oleh Takdir mu’allaq sifatnya fleksibel (belum baku alias masih dapat diusahakan) sehingga manusia dapat merubah takdir (nasib)nya. Contoh: Rafi yang bercita- cita ingin menjadi dosen bahasa Arab, maka untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun serta mendalami ilmu Bahasa Arab atau mengambil kuliah pada jurusan bahasa Arab. Akhirnya   Rafi tersebut berhasil menjadi seorang dosen Bahasa Arab di sebuah Perguruan Tinggi.

Contoh lain, masalah rezeki seseorang memang sudah ditentukan oleh Allah Swt. saat ia diqadar dalam kandungan ibunya 4 (empat bulan), namun manusia bertugas menjemput (mencari) rezeki itu. Apabila bersemangat mencari rezeki tanpa meninggalkan nilai-nilai ibadah kepada Allah Swt., maka rezekinya berkah dan banyak. Sebaliknya, jika manusia malas mencari rezeki maka akan mandapatkan rezeki sedikit dan bahkan hidupnya cenderung kekurangan. Ada kalanya rezeki banyak tetapi kurang berkah (kurang bermanfaat), itu perlu ditelusuri kenapa demikian? Mungkin dalam menyalurkan rezeki kurang tepat atau usaha mencari rezeki kurang halal. Kadang ada yang diuji oleh Allah Swt. melalui sakit, kehilangan, dan alain-lain, tergantung manusia menyikapinya. Yang jelas sebagai manusia tetap berusaha mencari rezeki meskipun takaran rezeki setiap manusia sudah ditetapkan Allah Swt.