Makna Maha Bijaksana (Al-Ḥakīm)

Pengertian Al-Ḥakīm

Nama al-Ḥakīm merupakan nama ke-47 dari 99 al-Asmā` al-Ḥusnā. Kata al- Ḥakīm berakar dari huruf ḥa`, kaf, dan mīm berarti bijaksana. Nama al-Ḥakīm menunjukkan bahwa Allah Mahabijaksana atas segala sesuatu. Dengan kebijaksanaan-Nya, Allah memberikan manfaat dan kemudahan makhluk-Nya atau menghalangi dan menghindarkan terjadinya kesulitan bagi makhluk-Nya. Tidak ada keraguan dan kebimbangan dalam segala perintah dan larangan-Nya, dan tak satu pun makhluk yang dapat menghalangi terlaksananya kebijaksanaan atau hikmah-Nya

Imam al-Ghazali menjelaskan kata al-Ḥakīm dalam arti pengetahuan akan sesuatu yang paling utama. Karena Dia mengetahui ilmu yang abadi dan hanya Dia yang mengetahui wujud yang mulia.

Dalam al-Qur`an kata al-Ḥakīm disebutkan 97 kali dan umumnya menyifati

Allah Swt. seperti pada Surah al-Baqarah [2]: 269.

“Dia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat” (Surah al-Baqarah [2]: 269)

Teladan dari nama baik Al-Ḥākim

a. Meyakini bahwa Allah Maha Bijaksana atas segala sesuatu

Sebagai umat Islam, kita wajib menerima segala hal yang telah diberikan Allah kepada kita. Bahkan kita harus berpikir positif dalam memahami kebijaksanaannya.

Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi’. Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’” (QS. al-Baqarah [2]: 30)

b. Bersifat bijaksana

Sifat bijaksana merupakan selalu menggunakan pengetahuan dan pengalaman serta pandai berhati-hati apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya. Sifat ini tidak bisa timbul jika seseorang tidak memiliki keluasan dan kedalaman berpikir. Oleh karenanya untuk menunjukkan cerminan pada kata al- Ḥakīm, kita harus profesional pada cabang ilmu pengetahuan tertentu lalu mengintegrasikan cabang ilmu satu dengan yang lain.

Untuk bersikap profesional, kita memerlukan motivasi-motivasi yang dapat menunjang tingkat keprofesionalan seseorang. Adapun motivasinya antara lain,

  • Bersungguh-sungguh dan teliti dalam mengerjakan sesuatu
  • Pantang menyerah atas hasil yang buruk
  • Mengejar hasil yang lebih baik
  • Selalu mengevaluasi proses dan hasil yang lalu