Pendidikan Karakter : Konsep, Tujuan, Nilai, Peranan, Komponen, Pendekatan, Metode, Evaluasi dan Implementasi

Konsep Dasar Pendidikan Karakter

Secara harfiah, karakter berarti kualitas mental atau moral, nama atau reputasinya. Dalam pandangan Doni Koesoema karakter diasosiasikan dengan temperamen yang memberinya sebuah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Karakter juga dipahami dari sudut pandang behavioral yang menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki oleh individu sejak lahir. Disini karakter dianggap sama dengan kepribadian.

Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang, yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungannya, misalnya pengaruh keluarga pada masa kecil dan bawaan seseorang sejak lahir. Menurut Tadkirotun Musfiroh karakter mengacu kepada serangkaian sikap (Attitude), Perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan ketrampilan (skillls). Makna karakter sendiri sebenarnya berasal dari Yunani yang berarti to mark (menandai) dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan tingkah laku.[9] Sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. Sebaliknya , orang yang berperilaku sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia.

Mmenurut Ratna Megawati dalam bukunya Dharma Kusuma menjelaskan bahwa pendidikan karakter yaitu “ sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungan”[10].  Selanjutnya menurut Suyanto karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi cirikhas individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.[11] Sedangkan Menurut Fakry Gaffar pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu[12]. Hal ini berbeda dengan Hermawan Kertajaya yang menyatakan, bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut bersifat asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu terebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, belajar dan  merespon sesuatu. [13]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkunan maupun bangsa, sehingga terwujud insan kamil[14].