Pengertian Privatisasi dan Liberalisasi

Privatisasi

Privatisasi (kata lain : denasionalisasi) adalah proses pengalihan kepemilikan dari pemilik umum menjadi milik pribadi. Lawan dari privatisasi adalah nasionalisasi.

Privatisasi menurut istilah dalam KBBI diartikan penjualan sebagian atau semua saham sebuah perusahaan milik pemerintah kepada publik, baik melalui penjualan langsung ke perusahaan swasta nasional dan asing maupun melalui bursa efek; sedangkan definisi menurut para ahli salah satunya saya ambil dari Savas (dalam “The Key to Better Governments”) menyatakan privatisasi sebagai “an  act  of reducing the role of government, or increasing the role of the private  sector, in an activity or in the ownership of assets”. 

Privatisasi mengandung pengertian adanya transfer  fungsi-fungsi dan asset yang dilaksanakan dan dimiliki pemerintah kepada sektor swasta. Dengan privatisasi maka peran swasta makin meningkat sedangkan peran publik makin berkurang.

Menurut pendapat pro/pendukung privatisasi, transfer fungsi dari pemerintah ke swasta ini terjadi karena swasta dianggap lebih efisien dalam menggunakan sumber daya dan memberikan pelayanan publik. Oleh karena itu, tujuan utama privatisasi pada dasarnya adalah untuk meningkatkan efisiensi birokrasi pemerintah.

Liberalisasi

Liberalisasi menurut Kwik Kian Gie (1995), adalah paket kebijakan dan tindakan-tindakan yang ingin mewujudkan paham liberalisme. Dalam bidang ekonomi, penerapan liberalisasi berarti pembebasan area perdagangan barang dan jasa suatu negeri, sehingga dapat diakses seluas-luasnya oleh pelaku ekonomi bisnis, baik yang berasal dari dalam mapun luar negeri. Kehadiran negara diharapkan, tetapi hanya sebagai fasilitator yang menjamin agar mekanisme pasar dapat berjalan sebagai mana mestinya. Pengurangan atau penghapusan berbagai hambatan tarif ataupun non-tarif, selayaknya dilakukan pemerintah agar kegiatan perdagangan barang dan jasa antara negara dapat berlangsung secara bebas dan kompetitif. Pendek kata, liberalisasi lebih diarahkan pada percepatan arus barang, jasa dan modal serta penciptaan struktur pasar bebas yang kompetitif, dimana aktor-aktor pasar dapat saling berinteraksi dalam iklim persaingan usaha yang sehat (Choirie 2004:35-36).

Ketergantungan manusia terhadap air semakin besar sejalan dengan bertambahnya penduduk. Predikat bumi sebagai “Planet Air” dengan 70% permukaan bumi tertutup air bertolak belakang dengan keadaan Bumi yang menghadapi kelangkaan air. Sebagian besar air di bumi merupakan air asin dan hanya sekitar 2,5% saja yang berupa air tawar, dan kurang dari 1% yang bisa dikonsumsi, sedangkan sisanya merupakan air tanah yang dalam atau berupa es di daerah kutub.