Menu Tutup

Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Puasa adalah salah satu ibadah wajib bagi umat Islam yang dilakukan di bulan Ramadhan. Puasa memiliki banyak hikmah dan keutamaan, seperti meningkatkan ketaqwaan, kesabaran, kesehatan, dan kebersihan jiwa. Namun, puasa juga memiliki syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus dipenuhi agar sah dan diterima oleh Allah SWT.

Salah satu syarat sahnya puasa adalah menjauhi perkara-perkara yang membatalkan puasa. Perkara-perkara ini adalah hal-hal yang dapat mengurangi atau menghapus pahala puasa, bahkan membuat puasa tidak sah dan harus diganti (qadha) atau membayar kafarat (tebusan).

Apa saja perkara-perkara yang membatalkan puasa? Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Makan dan minum dengan sengaja

Makan dan minum dengan sengaja adalah hal yang paling jelas membatalkan puasa. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Jika seseorang lupa atau tidak sengaja makan atau minum saat berpuasa, maka puasanya tetap sah dan tidak perlu mengganti atau membayar kafarat. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللّٰهُ وَسقاه

“Barangsiapa yang lupa sedang berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah lah yang memberi makan dan minum kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berhubungan intim

Berhubungan intim dengan pasangan suami istri saat berpuasa juga membatalkan puasa. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلة الصِّيام رفث إلى نسائكم هن لباس لكم وأنتم لباس لهن علم الله أنكم كنتم تختانون أنفسكم فتاب عليكم وعفا عنكم فالآن باشروهن وابتغوا ما كتب الله لكم وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام إلى الليل

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa berhubungan dengan isteri-isterimu; mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Dia mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Jika seseorang berhubungan intim saat berpuasa, maka puasanya tidak sah dan ia harus mengganti puasa tersebut serta membayar kafarat. Kafarat adalah memerdekakan seorang budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enam puluh orang miskin. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ هَلَكْتُ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ فقال له أتجد ما تعتق به رقبة قال لا قال أفتستطيع أن تصوم شهرين متتابعين قال لا قال أفتجد ما تطعم به ستين مسكينا قال لا

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku binasa.’ Beliau bertanya: ‘Apa yang membuatmu binasa?’ Ia menjawab: ‘Aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan.’ Beliau berkata kepadanya: ‘Apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat kamu gunakan untuk memerdekakan seorang budak?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Beliau berkata: ‘Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Beliau berkata: ‘Apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat kamu gunakan untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab: ‘Tidak.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Mengeluarkan mani dengan sengaja

Mengeluarkan mani dengan sengaja adalah hal yang juga membatalkan puasa. Hal ini termasuk onani (masturbasi) atau bersentuhan dengan pasangan tanpa hubungan intim hingga menyebabkan keluarnya mani. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 5-7)

Jika seseorang mengeluarkan mani dengan sengaja saat berpuasa, maka puasanya tidak sah dan ia harus mengganti puasa tersebut tanpa membayar kafarat. Namun, jika mani keluar karena mimpi basah atau karena pikiran atau pandangan yang membangkitkan syahwat, maka puasanya tetap sah tetapi pahalanya berkurang.

4. Muntah dengan sengaja

Muntah dengan sengaja adalah hal yang juga membatalkan puasa. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ

“Barangsiapa yang muntah dengan tidak sengaja, maka tidak ada qadha atasnya. Dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka atasnya qadha.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Daruquthni dan Hakim)

Jika seseorang muntah dengan sengaja saat berpuasa, maka puasanya tidak sah dan ia harus mengganti puasa tersebut tanpa membayar kafarat. Namun, jika muntah karena sakit atau tidak sengaja, maka puasanya tetap sah dan tidak perlu mengganti atau membayar kafarat.

5. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh

Memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh adalah hal yang juga membatalkan puasa. Hal ini termasuk memasukkan makanan, minuman, obat-obatan, atau benda lain ke dalam mulut, hidung, telinga, mata, dubur, kemaluan, atau luka yang sampai ke dalam tubuh. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Jika seseorang memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh dengan sengaja saat berpuasa, maka puasanya tidak sah dan ia harus mengganti puasa tersebut tanpa membayar kafarat. Namun, jika memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh karena lupa atau tidak sengaja atau karena alasan syar’i seperti mandi wajib atau wudhu atau menghilangkan najis di mulut, maka puasanya tetap sah dan tidak perlu mengganti atau membayar kafarat.

6. Haid dan nifas

Haid dan nifas adalah hal yang juga membatalkan puasa bagi wanita. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

ألا تعلمين أن إذا حاضت لم تصلي ولم تصم قالت بلى قال فذلك من نقصان دينها

“Apakah kamu tidak tahu bahwa jika haid kamu tidak shalat dan tidak berpuasa?” Ia menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Itulah dari kekurangan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seorang wanita haid atau nifas saat berpuasa, maka puasanya tidak sah dan ia harus mengganti puasa tersebut tanpa membayar kafarat. Namun, jika haid atau nifas berakhir sebelum terbit fajar, maka puasanya tetap sah dan tidak perlu mengganti atau membayar kafarat.

7. Berniat membatalkan puasa

Berniat membatalkan puasa adalah hal yang juga membatalkan puasa. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang berniat membatalkan puasa dengan hati atau lisan saat berpuasa, maka puasanya tidak sah dan ia harus mengganti puasa tersebut tanpa membayar kafarat. Namun, jika niat membatalkan puasa hanya sekedar was-was atau khawatir atau ragu-ragu, maka puasanya tetap sah dan tidak perlu mengganti atau membayar kafarat.

Demikianlah beberapa perkara-perkara yang membatalkan puasa. Semoga kita dapat menjaga puasa kita dari hal-hal yang dapat merusaknya dan mengurangi pahalanya. Semoga Allah SWT menerima puasa kita dan memberikan kita keberkahan dan ampunan di bulan Ramadhan. Aamiin.

Baca Juga: