Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali

118

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi as-Syafi’i al-Ghazali. Secara singkat dipanggil al-Ghazali atau Abu Hamid al-Ghazali.[1]Dan mendapat gelar imam besar Abu Hamid al-Ghazali Hujatul Islam.[2]

Namanya kadang diucapkan Ghazzali (dua z), artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah beliau adalah tukang pintal benang wol. Sedang yang lazim ialah Ghazali (satu z), diambil dari kata Ghazalah nama kampung kelahirannya.[3]

Beliau lahir di Thus, Khurasan, Iran,[4]dekat Masyhad sekarang, pada tahun 450 H/1058 M. Beliau dan saudaranya, Ahmad, ditinggal yatim pada usia dini. Pendidikannya dimulai di Thus. Lalu, al-Ghazali pergi ke Jurjan.

Dan sesudah satu periode lebih lanjut di Thus, beliau ke Naisabur, tempat beliau menjadi murid al-Juwaini Imam al-Haramain hingga meninggalnya yang terakhir pada tahun 478 H/1085 M. Beberapa guru lain juga disebutkan, tapi kebanyakan tidak jelas. Yang terkenal adalah Abu Ali al-Farmadhi.[5]

Al-Ghazali adalah ahli pikir ulung Islam yang menyandang gelar “Pembela Islam” (Hujjatul Islam), “Hiasan Agama” (Zainuddin), “Samudra yang Menghanyutkan” (Bahrun Mughriq), dan lain-lain.[6]Riwayat hidup dan pendapat-pendapat beliau telah banyak diungkap dan dikaji oleh para pengarang baik dalam bahasa Arab, bahasa Inggris maupun bahasa dunia lainnya, termasuk bahasa Indonesia. Hal itu sudah selayaknya bagi para pemikir generasi sesudahnya dapat mengkaji hasil pemikiran orang-orang terdahulu sehingga dapat ditemukan dan dikembangkan pemikiran-pemikiran baru.[7]

Dalam pengantar Ihya’ Ulumuddin disebutkan bahwa : “Pada abad ke 5 H lahirlah beberapa ilmu dari pemikir Islam, yaitu Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al- Ghazali.”[8]

Sebelum meninggal ayah al-Ghazali berwasiat kepada seorang ahli tasawuf temannya, supaya mengasuh dan mendidik al-Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah ayahnya meninggal, maka hiduplah al-Ghazali di bawah asuhan ahli tasawuf itu.[9]

Harta pusaka yang diterimanya sedikit sekali. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha sendiri bertenun kain bulu (wol), disamping itu, selalu mengunjungi rumah para alim ulama, memetik ilmu pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Apabila mendengar uraian para ulama itu maka ayah al-Ghazali menangis tersedu-sedu seraya memohon kepada Allah SWT kiranya beliau dianugerahi seorang putra yang pandai dan berilmu.

Pada masa kecilnya al-Ghazali mempelajari ilmu Fiqh di negerinya sendiri pada Syeh Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Kemudian pergi ke negeri Jurjan dan belajar pada Imam Ali Nasar al-Ismaili. Setelah mempelajari beberapa ilmu di negeri tersebut, berangkatlah al-Ghazali ke negeri Nisapur dan belajar pada Imam al-Haramain.

Disanalah mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu, seperti ilmu Mantik (logika), Filsafat dan Fiqh Mazhab Syafi’i.[10]Setelah Imam al-Haramain wafat, lalu al-Ghazali berangkat ke al- Askar mengunjungi menteri Nizamul Mulk dari pemerintahan Dinasti Saljuk. Beliau disambut dengan kehormatan sebagai seorang ulama besar. Kemudian dipertemukan dengan para alim ulama dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan. Semuanya mengakui akan ketinggian dan keahlian al-Ghazali.[11]

Pada tahun 484 H/1091 M, beliau diutus oleh Nizamul Mulk untuk menjadi guru besar di madrasah Nizhamiyah, yang didirikan di Baghdad. Beliau menjadi salah satu orang yang terkenal di Baghdad, dan selama empat tahun beliau memberi kuliah kepada lebih dari 300 mahasiswa. Pada saat yang sama, beliau menekuni kajian Filsafat dengan penuh semangat lewat bacaan pribadi dan menulis sejumlah buku.[12]

Atas prestasinya yang kian meningkat, pada usia 34 tahun beliau diangkat menjadi pimpinan (rektor) Universitas Nizhamiyah. Selama menjadi rektor, beliau banyak menulis buku yang meliputi beberapa bidang Fiqh, Ilmu Kalam dan buku-buku sanggahan terhadap aliran-aliran Kebatinan, Ismailiyah dan Filsafat.[13]

Al-Ghazali telah mengarang sejumlah besar kitab pada waktu mengajar di Baghdad, seperti Al-Basith, Al-Wasith, Al-Wajiz dan Al-Khalasah Fi Ilmil Fiqh. Seperti juga kitab-kitab Al-Munqil Fi Ilmil Jadl, Ma’khudz Al- Khilaf, Lubab Al-Nadhar, Tahsin Al-Maakhidz dan Mabadi’ Wal Ghāyat Fi Fannil Khilaf. Sekalipun mengarang beliau tidak lupa berpikir dan meneliti hal-hal dibalik hakikat. Beliau tidak ragu-ragu mengikuti ulama yang benar, yang tidak seorangpun berpikir mengenai kekokohan kesahannya atau untuk meneliti sumber pengambilannya. Pada waktu itu beliau juga mempelajari ilmu-ilmu yang lain.[14]Hanya 4 tahun al-Ghazali menjadi rektor di Universitas Nizhamiyah. Setelah itu beliau mulai mengalami krisis rohani, krisis keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma’rifat. Secara diam-diam beliau meninggalkan Baghdad menuju Syam, agar tidak ada yang menghalangi kepergiannya baik dari penguasa (khalifah) maupun sahabat dosen seuniversitasnya. Al-Ghazali berdalih akan pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Dengan demikian, amanlah dari tuduhan bahwakepergiannya untuk mencari pangkat yang lebih tinggi di Syam. Pekerjaanmengajar ditinggalkan dan mulailah beliau hidup jauh dari lingkunganmanusia, zuhud yang beliau tempuh.[15]

Pada tahun 488 H, beliau mengisolasi diri di Makkah lalu keDamaskus untuk beribadah dan menjalani kehidupan sufi.[16] Beliaumenghabiskan waktunya untuk khalwat, ibadah dan i’tikaf di sebuah masjid diDamaskus. Berzikir sepanjang hari di menara. Untuk melanjutkan taqarubnyakepada Allah SWT beliau pindah ke Baitul Maqdis. Dari sinilah beliautergerak hatinya untuk memenuhi panggilan Allah SWT untuk menjalankanibadah haji. Dengan segera beliau pergi ke Makkah, Madinah dan setelahziarah ke makam Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim A.S., ditinggalkanlahkedua kota tersebut dan menuju ke Hijaz.[17]

Dari Bait Al-Haram, al-Ghazali menuju ke Damsyik. Al-Maqrizi,dalam Al-Muqaffa, mengatakan :Ketika di Damsyik, al-Ghazali beri’tikad di sudut menara masjid Al-Umawi dengan memakai baju jelek. Di sini beliau mengurangi makan,minum, pergaulan dan mulai menyusun kitab Ihya’ Ulumuddin. Al-Ghazaliputar-putar untuk berziarah ke makam-makam para syuhada’ dan masjidmasjid.Beliau mengolah diri untuk selalu bermujahadah danmenundukkannya untuk selalu beribadah hingga kesukaran-kesukaran yangdihadapinya menjadi persoalan biasa dan mudah.[18]

Setelah mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan berpuluh-puluhtahun dan setelah memperoleh kebenaran yang hakiki pada akhir hidupnya,beliau meninggalkan dunia di Thus pada 14 Jumadil Akhir 505 H/19Desember 1111 M, dihadapan adiknya, Abu Ahmadi Mujidduddin. Beliaumeninggalkan tiga orang anak perempuan sedang anak laki-lakinya yangbernama Hamid telah meninggal dunia semenjak kecil sebelum wafatnya (al-Ghazali), karena itulah beliau diberi gelar “Abu Hamid” (Bapak si Hamid).[19]

REFERENSI

[1]M. Sholihin, Epistimologi Ilmu Dalam Sudut Pandang al-Ghazali, (Bandung : Pustaka Setia, 2001), Cet. 1., hlm. 20.
[2]Zainuddin, dkk., Seluk Beluk Pendidikan Dari al-Ghazali, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), hlm. 7.
[3]Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998), Cet. 1., hlm. 9.
[4]Imam Ghazali Sa’id, Silsilat Al-Muallifat al-Ghazali (2) Matnu Bidayat Al-Hidayat fi At- Tawassuth Bainal Fiqh wa Tasawuf lil Imam Hujjatul Islam Abi Hamid al-Ghazali, (Surabaya : Diyantara, T. Th.),
[5]M. Amin Abdullah, The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Immanuel Kant, (Turkiye Diyanet Vakfi : Ankara, 1992), hlm. 9-10.
[6]Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit., hlm. 9.
[7]Ibid., hlm. 1.
[8]Badawi Thaba’i, Ihya ‘Ulumuddin Lil Imam al-Ghazali ma’a Muqaddimah fi al-Tasawuf al-Islamiyyi wa Dirasati Tahlilihi Lisyahsiyati al-Ghazali wa falasifatihi fi al-Ihya, Juz I, (T.T : Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, T.Th.), hlm. 7.
[9]Al-Ghazali, Ihya’ al-Ghazali, Jilid I, (Surabaya : Faizan, 1969), Cet. 4., hlm. 18.
[10]Ibid.
[11]Ibid.
[12]M. Amin Abdullah, Antara al-Ghazali dan Kant : Filsafat Etika Islam, (Terj). Hamzah, (Bandung : Mizan, 2002), Cet. I, hlm. 29.
[13]Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit., hlm. 11 – 12.
[14]………, Al-Ghazali dan Plato, (Surabaya : Bina Ilmu, 1986), Cet. I., hlm. 7.
[15]Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit., hlm. 12.
[16]Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta : Gema Insani Press, 1998), Cet. I, hlm. 34.
[17]Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit.,
[18]Thaha Abdul Baqi Surur, Imam Al-Ghazali Hujjatul Islam, (T.T : Pustaka Mantiq, T.Th.), 54 -55.
[19]Zainuddin, dkk., Op. Cit., hlm. 10.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini