Sejarah Awal Perkembangan Perbankan Islam

Sejarah Perbankan Dunia

Bank sebagai lembaga keuangan pada awalnya hanya merupakan tempat penitipan harta oleh para saudagar untuk menghindari adanya kejadian kehilangan, kecurian, ataupun bahkan perampokan selama proses perjalanan dari sebuah perdagangan. Inipun dilakukan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang bersedia untuk menjaga keberadaan harta tersebut.

Pada zaman pra-Islam sebenarnya telah ada bentuk – bentuk perdagangan yang sekarang dikembangkan di dunia bisnis modern. Bentuk – bentuk itu misalnya musyarakah (joint venture), ba’iu takjiri (here purchase), ijarah (leasing), takaful (insurance), ba’I bithaman ajil (instalment sale), kredit pemilikan barang (murabahah), dan pinjaman dengan tambahan bunga. Bentuk–bentuk perdagangan ini telah berkembang di Jazirah Arab, yang letaknya sangat strategis bagi perdagangan waktu itu, khususnya yang berpusat di kota Mekah, Jedah dan Madinah. Pelaksanaan bentuk operasi bank pada waktu itu dilakukan oleh individu yang dapat dipercaya yang memiliki integritas (jujur dan bertanggungjawab) dan loyalitas dengan keikhlasan dalam menjaga harta yang dititip dan pada waktu dipulangkan sesuai semula.

Sejarah Perbankan Islam

Perbankan Islam memiliki sejarah yang unik. Dikatakan unik karena lembaga ini memiliki karakteristik tersendiri sehingga berbeda dengan perbankan konvensional, sehingga acuan perbankan islam bukan lah dari perbankan konvensional, akan tetapi dari baitutamwil. Dalam sejarahnya, baitulmaal merupakan lembaga keuangan pertama yang ada pada zaman Rasulullah. Lembaga ini pertama kali hanya berfungsi untuk ,menyimpan harta kekayaan Negara dari zakat, infak, sedekah, pajak, dan harta rampasan perang. Kemudian, pada zaman pemerintahan sahabat Nabi berkembang pula lembaga ini yang disebut baitutamwil, yang merupakan lembaga keuangan islam yang menampung dana-dana masyarakat untuk diinvestasikan ke proyek atau pembiayaan perdagangan yang menguntungkan.

Berbagai ide untuk mengembangkan suatu lembaga keuangan dengan menggunakan sistem bagi hasil sudah muncul sejak lama diantaranya Anwar Qureshi tahun 1940, Naim Siddiqi tahun 1948 dan Mahmud Ahmad tahun 1952. Usaha untuk mengembangkan perbankan Islam terus dilakukan. Tahun 1969 secara bersama beberapa Negara dari kelompok Islam Internasional membentuk Organisasi Konferensi Islam (OKI) sedunia menggagas ide tentang perlunya banka Islam pada tingkat Internasional. Konferensi diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada 21 s.d 27 April 1969 dengan diikuti oleh 19 negara peserta dan enam negara sebagai peninjau. Berdirinya bank-bank Islam ternyata tidak didominasi oldeh Negara-negara muslim saja, namun negara-negara besar lainnya yang mayoritas nonmuslim telah mengembangkan perbankan Islam.