Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam

1.   Geografi Simenanjung Arabia

Bangsa Arab bertempat tinggal dan mendiami simenanjung terbesar di dunia, yaitu Simenanjung Arabia. Terletak di Asia Barat Daya, luasnya 1.027.000 mil persegi, sebagian besar ditutupi padang pasir dan merupakan salah satu tempat terpanas di dunia. Tidak terdapat sungai yang dapat dilayari atau airnya yang terus menerus mengalir ke laut, yang ada hanya lembahlembah yang digenangi air di waktu musim hujan.

Simenanjung Arabia terdiri atas dua bagian. Pertama, daerah pedalaman, merupakan daerah padang pasir yang kering karena kurang dituruni hujan dan sedikit penduduk karena daerahnya tandus. Kedua, daerah pantai di pinggir laut, di bagian tengah dan selatan, hujan turun teratur sehingga subur ditanami, yaitu daerah Hijaz, Yaman, Hadramaut, Oman dan Bahrain. Di antara daerah itu Yaman yang paling subur, sehingga disebut negeri barkah.[1]

Berdasarkan letak geografis bangsa Arab ini, mereka yang tinggal di daerah pedalaman disebut penduduk pengembara (ahl al-badwi). Mereka ini mengembara dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa segala miliknya, berhenti bila menemukan air dan padang rumput untuk ditinggalkan lagi bila sumber kehidupan mereka habis. Pekerjaan utama mereka, memelihara ternak unta, domba dan kuda serta berburu dan tidak tertarik pada perdagangan, pertanian dan kerajinan.

Adapun mereka yang tinggal di daerah pantai disebut penduduk penetap (alh al-hadhar). Mereka sudah tahu pertanian, seperti cara mengolah tanah bercocok tanam dan kerajinan. Mereka juga  berdagang, bahkan dengan orang luar negeri. Oleh sebab itu, mereka lebih berbudaya dari Arab badwi.[2]

2.    Asal Usul Bangsa Arab

Bangsa Arab berasal dari ras Samiyah dan terbagi kepada dua suku. Pertama, suku Arab al-Baidah , yaitu bangsa Arab yang sudah punah seperti kaum ‘Ad dan Tsamud. Kedua, suku Arab al-Baqiyah, yaitu bangsa Arab yang masih hidup sampai sekarang, terdiri dari keturunan Qahthan dan Adnan.

Allah mengutus Nabi Hud kepada kaum ‘Ad tetapi mereka mendustakan-Nya maka Allah menyiksa mereka dengan  meniupkan angin selama tujuh malam delapan hari secara terus menerus.[3] Mereka mati bergelimpangan karena kedinginan kelaparan dan ditimpa berbagai penyakit sehingga mereka punah dan tidak ada yang tersisa.[4]

Adapun kaum Tsamud diutus Allah kepada mereka Nabi Saleh dengan membawa mu’jizat seekor unta dengan janji bahwa minuman mereka dan minuman untuk unta dibagi brgiliran hari, tetapi mereka menyembelih unta dan memakan dagingnya, maka kemurkaan Allah datang kepada mereka dengan menimpakan sakit semacam penyakit kolera selama tiga hari lamanya. Hari pertama muka mereka pucat kuning, hari kedua berubah menjadi merah padam dan hari ketiga jadi hitam serta malamnya mereka mati bergelimpangan.[5]