Sejarah LGBT di Indonesia

LGBT di Indonesia sendiri setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada juga yang menyebut sudah ada sejak 1920-an. Namun, pendapat paling banyak menyebut fenomena LGBT ini sudah mulai ada sekitar dekade 1960an. Lalu, LGBT berkembang pada dekade 1980an, 1990-an, dan meledak pada era 2.000-an hingga sekarang. (Abigail, 2012)

A. Awal mula LGBT Di Indonesia

Secara kronologis dan sejarahnya, perkembangan LGBT ini sesungguhnya telah dimulai sejak era 1960-an. Kalau dulu terkenal Sentul dan Kantil, kini sebutannya adalah Buci dan Femme. (Akbar, 2016)

LGBT itu sebenarnya sudah ada di Indonesia hanya saja tidak disebut bahwa itu adalah LGBT, jadi di Makassar itu sebenarnya mereka mengenal 5 jenis gender, ada lakilaki, ada perempuan, calalai, calabai, dan bisu. Calalai dan calabai ini merupakan transgender, jadi calalai ini yang merupakan laki-laki tapi berdandan seperti perempuan, sementara calabai perempuan

berdandan seperti laki-laki, dan bisu itu sendiri bisa jadi calalai ataupun calabai, tapi dia yang memiliki kedudukan tertinggi, bisu memiliki kekuatan khusus dan terpilih secara khusus juga, seperti mendapatkan wangsit.

Bisu ini dulunya dibeberapa daerah masyarakat Makassar itu memiliki kedudukan yang tinggi karena mereka merupakan perantara antara manusia, alam dan kekuatan Yang Maha Esa, bisu juga merupakan tangan kanan para pemimpin daerah. Masyarakat disana lebih mengerti calalai, calabai dan bisu ketimbang lesbian, gay, transgender.

Calalai dan calabai pun memiliki kedudukan yang sama pentingnya, mereka inilah yang memebesarkan anak orang-orang penting didaerah tersebut. Namun pada saat Islam masuk praktik tersebut masih berjalan, kemudian dalam orde baru praktik itu berusaha untuk dimusnahkan sehingga peran bisu, calalai dan calabai tergantikan oleh tokoh agama, baby sitter, hingga akhirnya mereka mendapatkan diskriminasi, seperti dibuang, diasingkan dari masyarakat. Pada masa reformasi mereka mendapatkan perannya kembali namun dengan kedudukan yang tinggi lagi seperti dahulu. Di daerah Jawa Timur juga ada praktik seperti itu, disana dikenal dengan sebutan gemblak yang merupakan pasangan dari warog. Dalam kisahnya warok sendiri merupakan salah satu penari dalam seni reog, warog berperan sebagai pengawal/punggawa Raja Klana Sewandana. Warog sendiri memiliki istri dan anak.

Pada zaman dahulu warog dipercaya supaya kekuatan yang dimiliki tetap bertahan maka warog harus melakukan hubungan seksual dengan gemblak yang notabennya gemblak ini adalah laki-laki. Namun tidak seterusnya atau selamanya mereka menjadi pasangan. Jadi gemblak ini ada untuk menjaga kekuatannya warog sehingga warog harus bertanggungjawab terhadap hidup gemblak.