Sejarah Peradaban Islam Masa Umar bin Khattab

Riwayat Singkat Umar bin Khaththab

Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nafil bin Abd al-Uzza bin Rabah bin Ka’ab bin Luay alQuraisy. Silsilah Umar bertemu dengan Rasulullah pada kakek ketujuh, sedangkan dari pihak ibunya pada kakek keenam.

Umar dilahirkan di Makkah empat tahun sebelum perang Fijar, tetapi menurut Ibn Atsir dia dilahirkan tiga belas tahun sesudah kelahiran Rasulullah s.a.w. Hal ini berarti beliau lebih muda tiga belas tahun dari Nabi Muhammad s.a.w. Dia fasih berbicara, tegas dalam menyatakan pendapat dan membela yang hak.[1]

Semasa kecil dia mengembala kambing ayahnya dan berdagang ke negeri Syam. Jika terjadi perang antara suku, dia selalu diutus sebagai penengah. Umar masuk Islam pada tahun kelima dari kerasulah Nabi Muhammad s.a.w. Setelah masuk Islam dia menolak menyembunyikan ke-Islamannya. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah berdo’a:

Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah seorang dua lelaki ini, yaitu ‘Amr bin Hisyam dan Umar bin Khaththab.

Doa Nabi Muhammad s.a.w. dikabulkan Allah dengan Islamnya Umar. Bersamaan dengan Islamnya Umar, masuk Islam pula paman Nabi Hamzah ibn Abdul Muththalib.

Sebelum masuk Islam Umar dikenal paling gigih menantang dakwah Nabi ketika disampaikan kepadanya adiknya Fatimah beserta suaminya telah masuk Islam dia sangat marah dan pergi ke tempat adiknya dengan emosi yang meluap-luap dia menampar adiknya yang sedang belajar al-Qur’an dan membaca pangkal surah Taha, tetapi dia kemudian terharu dengan bacaan ayat al-Qur’an tersebut, karenanya dia menemui Nabi untuk menyatakan diri masuk Islam.

Sewaktu hendak meninggalkan Makkah berhijrah ke Madinah dia melewati Ka’bah sedangkan saat itu pembesar Quraisy berada di pelataran Ka’bah. Dengan tenang dan khusu’ dia melakukan thawaf tujuh putaran, kemudian menuju maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat. Setelah selesai dia berdiri menghampiri satu persatu pembesar orang Quraisy itu dan berkata: “Sungguh buruk muka kalian, siapa yang menginginkan ibunya menderita, isterinya menjadi janda, anaknya menjadi anak yatim, hendaklah dia menemui saya di lembah ini”. Tidak seorang pun yang berkutik di antara mereka.[2]

Diangkat Menjadi Khalifah

Ketika Abu Bakar sakit, dia memperhatikan sahabatnya, siapa di antara mereka yang sesuai diangkat menjadi khalifah, “yang tegas tidak kejam dan yang lembut tidak lemah”. Dia mendapatkan kriteria pilihannya itu, di antara dua sahabat, yaitu antara Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib. Tetapi kemudian pilihannya jatuh kepada Umar.[3]