Menu Tutup

Sejarah Perkembangan Sosiologi di Dunia dan Indonesia

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi manusia dalam masyarakat, proses sosial, struktur sosial, dan perubahan sosial. Sosiologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang berkembang seiring dengan perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia sejak abad ke-17 hingga sekarang. Berikut adalah sejarah perkembangan sosiologi di dunia dan Indonesia.

Awal Munculnya Ilmu Sosiologi di Timur Tengah

Salah satu tokoh yang dianggap sebagai bapak sosiologi adalah Abdul Rahman Ibnu Khaldun. Ia lahir pada tanggal 27 Mei 1332 di Tunisia, Afrika Utara. Ia adalah seorang sarjana, sejarawan, dan politikus yang berpengaruh di dunia Islam. Ia menulis karya monumentalnya yang berjudul Muqaddimah (Pendahuluan) yang merupakan bagian dari Kitab Al-‘Ibar (Buku Pelajaran Sejarah).

Dalam karyanya, Ibnu Khaldun mengemukakan konsep-konsep sosiologis seperti ‘asabiyah (solidaritas kelompok), umran (peradaban), badawah (kehidupan nomaden), hadharah (kehidupan urban), tabi’ah (alam), ‘ilm (ilmu pengetahuan), dan tajdid (pembaruan). Ia juga melakukan analisis kritis terhadap sejarah dan masyarakat dengan menggunakan metode ilmiah dan rasional. Ia membedakan antara fakta-fakta sejarah yang dapat diverifikasi dengan mitos-mitos dan legenda-legenda yang tidak dapat dibuktikan.

Ibnu Khaldun menekankan pentingnya menghubungkan pemikiran sosiologi dan observasi sejarah. Ia memusatkan perhatian pada berbagai lembaga sosial, misalnya lembaga politik dan ekonomi serta hubungan antara lembaga sosial tersebut. Ia juga tertarik melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitif dan modern. Ia menganggap bahwa masyarakat primitif memiliki ‘asabiyah yang kuat yang membuat mereka mampu menaklukkan masyarakat modern yang telah lemah ‘asabiyahnya akibat kemewahan dan kemalasan.

Perkembangan Sosiologi pada Abad XIX

Faktor langsung yang memunculkan teori sosiologi adalah Revolusi Industri pada periode tahun 1750-1850. Revolusi Industri ditandai dengan terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat dunia. Revolusi Industri bermula di Inggris dan menyebar ke seluruh dunia.

Revolusi Industri bukan merupakan kejadian tunggal, tetapi menunjukkan berbagai perkembangan yang saling berkaitan dan berpuncak pada transformasi dunia Barat dari corak pertanian menjadi corak industri. Perubahan ini membawa dampak positif maupun negatif bagi masyarakat. Di satu sisi, revolusi industri meningkatkan produktivitas, efisiensi, inovasi, kesejahteraan, mobilitas, dan komunikasi. Di sisi lain, revolusi industri juga menimbulkan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, eksploitasi, alienasi, konflik, dan polusi.

Untuk menjawab tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh revolusi industri, muncul beberapa pemikir sosiologi yang berusaha memberikan pemahaman dan solusi bagi masyarakat. Mereka antara lain adalah:

  • Auguste Comte (1798-1857), seorang filsuf Prancis yang mencetuskan istilah sosiologi (sociologie) yang berasal dari kata Latin socius (teman, kawan) dan kata Yunani logos (ilmu). Ia menganggap sosiologi sebagai ilmu positif yang dapat menerapkan metode ilmiah untuk mempelajari masyarakat. Ia juga membagi sosiologi menjadi dua cabang, yaitu sosiologi statis yang mempelajari struktur masyarakat dan sosiologi dinamis yang mempelajari perubahan masyarakat. Ia juga mengemukakan konsep hukum tiga tahap perkembangan manusia, yaitu tahap teologis, tahap metafisik, dan tahap positif.
  • Herbert Spencer (1820-1903), seorang filsuf dan biolog Inggris yang mengembangkan teori evolusi sosial yang mengadaptasi teori evolusi biologis dari Charles Darwin. Ia berpendapat bahwa masyarakat berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang kompleks melalui proses diferensiasi dan integrasi. Ia juga menganggap bahwa masyarakat berfungsi seperti organisme hidup yang terdiri dari berbagai bagian yang saling berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan. Ia juga memperkenalkan konsep survival of the fittest (bertahan hidup bagi yang paling kuat) yang menyatakan bahwa masyarakat mengalami seleksi alam yang membuat yang terkuat bertahan dan yang lemah punah.
  • Karl Marx (1818-1883), seorang filsuf, ekonom, dan revolusioner Jerman yang mengkritik sistem kapitalisme yang menurutnya menimbulkan ketidakadilan dan penindasan bagi kelas pekerja (proletariat) oleh kelas pemilik modal (borjuis). Ia mengemukakan teori materialisme historis yang menyatakan bahwa sejarah masyarakat ditentukan oleh kondisi materi atau ekonomi. Ia juga mengemukakan teori konflik kelas yang menyatakan bahwa masyarakat selalu berada dalam keadaan konflik antara kelas-kelas sosial yang memiliki kepentingan berbeda. Ia juga memprediksi bahwa akan terjadi revolusi sosialis yang akan menggulingkan kapitalisme dan membawa masyarakat menuju komunisme.
  • Emile Durkheim (1858-1917), seorang sosiolog Prancis yang dianggap sebagai bapak sosiologi modern. Ia berusaha menjadikan sosiologi sebagai ilmu empiris yang dapat melakukan observasi, eksperimen, dan statistik untuk mempelajari masyarakat. Ia memperkenalkan konsep fakta sosial sebagai objek studi sosiologi. Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang bersifat eksternal, umum, dan koersif terhadap individu. Ia juga mempelajari fenomena-fenomena sosial seperti solidaritas sosial, pembagian kerja sosial, anomie, integrasi sosial, bunuh diri, agama, dan hukum.
  • Max Weber (1864-1920), seorang sosiolog Jerman yang mengkritik pendekatan positivistik Comte dan Durkheim. Ia berpendapat bahwa sosiologi harus memahami makna dan motivasi tindakan sosial individu atau kelompok. Ia membedakan empat jenis tindakan sosial, yaitu tindakan rasional berdasarkan tujuan, tindakan rasional berdasarkan nilai, tindakan afektif berdasarkan emosi, dan tindakan tradisional berdasarkan kebiasaan. Ia juga mempelajari fenomena-fenomena sosial seperti otoritas, birokrasi, rasionalisasi, etika Protestan, kapitalisme, agama, dan stratifikasi sosial.

Perkembangan Sosial pada Abad XX

Pada abad ke-20, sosiologi semakin berkembang dengan bermunculannya berbagai aliran, paradigma, teori, dan metode baru. Beberapa aliran dan paradigma sosiologi pada abad ini antara lain adalah:

  • Fungsionalisme, aliran yang melihat masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau lembaga sosial yang saling berfungsi dan berkontribusi bagi keseimbangan dan stabilitas masyarakat. Tokoh-tokoh fungsionalisme antara lain adalah Talcott Parsons, Robert Merton, Kingsley Davis, dan Wilbert Moore.
  • Interaksionisme simbolik, aliran yang melihat masyarakat sebagai hasil dari interaksi sosial individu atau kelompok yang menggunakan simbol-simbol untuk berkomunikasi dan memberi makna pada realitas sosial. Tokoh-tokoh interaksionisme simbolik antara lain adalah George Herbert Mead, Herbert Blumer, Erving Goffman, dan Howard Becker.
  • Teori konflik, aliran yang melihat masyarakat sebagai arena pertentangan antara kelompok-kelompok sosial yang memiliki kepentingan, nilai, dan sumber daya yang berbeda atau bertentangan. Tokoh-tokoh teori konflik antara lain adalah Karl Marx, Ralf Dahrendorf, Lewis Coser, dan Randall Collins.
  • Fenomenologi, aliran yang melihat masyarakat sebagai konstruksi sosial yang dibentuk oleh kesadaran subjektif individu atau kelompok yang mengalami dan menafsirkan realitas sosial. Tokoh-tokoh fenomenologi antara lain adalah Edmund Husserl, Alfred Schutz, Peter Berger, dan Thomas Luckmann.
  • Strukturalisme, aliran yang melihat masyarakat sebagai suatu struktur yang terdiri dari berbagai unsur atau elemen yang saling terkait dan ditentukan oleh aturan-aturan atau hukum-hukum yang bersifat universal. Tokoh-tokoh strukturalisme antara lain adalah Claude Levi-Strauss, Louis Althusser, Michel Foucault, dan Pierre Bourdieu.
  • Positivisme logis, aliran yang melihat sosiologi sebagai ilmu empiris yang dapat menguji hipotesis dengan menggunakan metode ilmiah dan logika deduktif. Tokoh-tokoh positivisme logis antara lain adalah Auguste Comte, Emile Durkheim, Rudolf Carnap, dan Carl Hempel.
  • Teori kritis, aliran yang melihat sosiologi sebagai ilmu normatif yang dapat mengkritik dan mengubah masyarakat dengan menggunakan metode ilmiah dan logika dialektik. Tokoh-tokoh teori kritis antara lain adalah Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan Jurgen Habermas.

Perkembangan Sosiologi di Indonesia

Sejarah perkembangan sosiologi di Indonesia dimulai pada tahun 1934-1935 yaitu sejak dilaksanakannya kuliah ilmu sosiologi di sekolah tinggi hukum Jakarta (Rechtshogeschool). Pada masa itu, sosiologi merupakan mata kuliah tambahan ilmu hukum karena belum terdapat spesialisasi ilmu sosiologi.

Pada tahun 1950-an, sosiologi mulai berkembang sebagai ilmu mandiri dengan didirikannya jurusan-jurusan sosiologi di beberapa universitas seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Sumatera Utara (USU).

Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, sosiologi mengalami perkembangan pesat dengan bermunculannya berbagai penelitian, publikasi, organisasi, dan tokoh sosiologi di Indonesia. Beberapa organisasi sosiologi yang didirikan pada masa ini antara lain adalah Masyarakat Sosiologi Indonesia (MSI), Lembaga Penelitian Sosial Ekonomi Nasional (LPSEN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (LPMKB), dan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI).

Beberapa tokoh sosiologi Indonesia pada masa ini antara lain adalah:

  • Selo Soemardjan (1922-2011), seorang sosiolog UI yang dikenal sebagai bapak sosiologi Indonesia. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai perubahan sosial, pembangunan, desa, dan konflik sosial di Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi baik nasional maupun internasional.
  • Soelaeman Soemardi (1924-2006), seorang sosiolog UGM yang dikenal sebagai bapak sosiologi pedesaan Indonesia. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai struktur sosial, pelapisan sosial, mobilitas sosial, dan perubahan sosial di pedesaan Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi baik nasional maupun internasional.
  • Koentjaraningrat (1923-1999), seorang sosiolog dan antropolog UI yang dikenal sebagai bapak antropologi Indonesia. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai kebudayaan, masyarakat, dan perubahan sosial di Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi dan antropologi baik nasional maupun internasional.
  • Mochtar Mas’oed (1939-2004), seorang sosiolog UGM yang dikenal sebagai bapak sosiologi politik Indonesia. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai politik, demokrasi, partisipasi, dan konflik sosial di Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi dan politik baik nasional maupun internasional.

Pada tahun 1980-an hingga sekarang, sosiologi terus berkembang dengan bermunculannya berbagai tema, isu, dan perspektif baru dalam mempelajari masyarakat Indonesia. Beberapa tema dan isu yang menjadi perhatian sosiologi Indonesia antara lain adalah globalisasi, krisis ekonomi, reformasi politik, pluralisme, gender, lingkungan, media, budaya populer, gerakan sosial, kekerasan, korupsi, kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Beberapa perspektif yang digunakan oleh sosiologi Indonesia antara lain adalah fungsionalisme, interaksionisme simbolik, teori konflik, fenomenologi, strukturalisme, positivisme logis, teori kritis, postmodernisme, postkolonialisme, feminisme, ekososialisme, konstruktivisme sosial, dan lain-lain.

Beberapa tokoh sosiologi Indonesia pada masa ini antara lain adalah:

  • Mely G. Tan (1944-), seorang sosiolog UI yang dikenal sebagai ahli sosiologi etnisitas dan migrasi. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai etnis Tionghoa di Indonesia dan Asia Tenggara. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi baik nasional maupun internasional.
  • Arief Budiman (1941-2020), seorang sosiolog UI yang dikenal sebagai ahli sosiologi sastra dan budaya. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai sastra, budaya populer, ideologi, demokrasi, dan gerakan sosial di Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi baik nasional maupun internasional.
  • George Junus Aditjondro (1946-2017), seorang sosiolog UGM yang dikenal sebagai ahli sosiologi lingkungan dan pembangunan. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai lingkungan hidup, pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia, dan korupsi di Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi dan lingkungan baik nasional maupun internasional.
  • Syamsul Ma’arif (1954-), seorang sosiolog UGM yang dikenal sebagai ahli sosiologi agama dan konflik. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai agama, pluralisme, radikalisme, terorisme, dan konflik sosial di Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi dan agama baik nasional maupun internasional.
  • Nina Nurmila (1971-), seorang sosiolog UIN Bandung yang dikenal sebagai ahli sosiologi gender dan Islam. Ia banyak melakukan penelitian dan publikasi mengenai gender, feminisme, pernikahan, poligami, dan Islam di Indonesia. Ia juga aktif dalam organisasi sosiologi dan gender baik nasional maupun internasional.

Sumber:
(1) Sejarah Perkembangan Sosiologi : Di Indonesia & Dunia Lengkap. https://www.gurupendidikan.co.id/sejarah-perkembangan-sosiologi/.
(2) Sejarah Perkembangan Sosiologi di Dunia dan Indonesia. https://www.freedomsiana.id/sejarah-perkembangan-sosiologi/.
(3) Mengenal Sejarah Sosiologi Lengkap di Dunia dan Indonesia. https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/mengenal-sejarah-sosiologi-lengkap-di-dunia-dan-indonesia-208l0Z6TKD6.

Baca Juga: