Shalat Tahajjud Tetapi Sudah Terlanjur Witir?

38

Dalam suatu hadits, Nabi memerintahkan untuk menjadikan shalat witir sebagai penutup dari rangkaian shalat malam, sebagaimana hadits berikut:

Dari Ibnu Umar – radhiyallahu ‘anhu -: Nabi – shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bersabda: “Jadikanlah shalatmu malammu yang terakhir adalah shalat witir.” (HR. Bukhari Muslim)

Namun yang menjadi pertanyaan, bila setelah shalat Isya’ seseorang sudah melaksanakan shalat witir, kemudian dia tidur, namun di akhir malam dia masih bisa bangun, apakah diperbolehkan melakukan shalat malam atau tahajjud?.

Maka dalam hal ini, para ulama umumnya sepakat bahwa shalat sunnah apapun boleh dilakukan setelah shalat witir. Namun, dengan memilih antara dua cara, sebagaimana hal tersebut dijelaskan oleh imam Tirmizi (w. 279 H) dalam kitab Sunan-nya.

Pertama: Melakukan shalat sunnah malam, tanpa mengulangi dan menutup shalatnya dengan shalat witir. Pendapat ini disandarkan kepada mayoritas ulama. Dan dinilai imam Tirmizi cara yang paling tepat.

Hal ini didasarkan kepada larangan melakukan shalat witir lebih dari sekali dalam semalam.

Dari Thariq bin Ali berkata, “Aku mendengar Rasulullah – shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bersabda, “Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR Ahmad)

Imam an-Nawawi berkata dalam kitabnya, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab:

Jika ada yang telah mengerjakan witir sebelum ia tidur lalu kemudia bangununtuk tahajjud maka witirnya (yang pertama tadi) tidak batal, ini pendapat yang benar bagi mayoritas ulama, dan ia tetap boleh tahajjud. [Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, hlm. 4/15.]

Kedua: Jika berkeinginan untuk menutup shalatnya dengan shalat witir, maka untuk shalat witir yang sudah dilakukan, harus ditambahi lagi dengan satu raka’at. Di mana shalat satu raka’at tambahan ini disebut dengan shalat pembuka. Maksudnya, dengan shalat satu raka’at, maka shalat witir yang ganjil menjadi genap.

Pendapat ini disandarkan kepada Ishaq bin Rahawaih.

Sumber:
Isnan Ansory, Lc., M.Ag., I’tikaf, Qiyam al-Lail, Shalat ’Ied dan Zakat al-Fithr di Tengah Wabah, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2020.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini