Tidak Semua Gharar Haram ‎

68

Meskipun pada dasarnya gharar dilarang, tetapi ‎dalam beberapa kondisi tertentu gharar ‎diperbolehkan. ‎

Apa saja gharar yang tidak dilarang itu? Berikut ‎adalah empat kriteria gharar yang diperbolehkan.‎ ‎ ‎

‎1. Gharar yang sedikit ‎

Jika terjadi gharar dalam suatu akad, akan tetapi ‎gharar yang terjadi itu sedikit dan tidak ‎diperhitungkan, maka gharar itu tidak menjadi ‎masalah (tidak haram). ‎
‏ ‏Ibnu al-Qayyim ‎menuturkan:‎

Tidak setiap gharar menyebabkan keharaman. ‎Gharar jika sedikit atau tidak bisa dihindari, ‎tidak menyebabkan akad menjadi tidak sah… ‎Berbeda dengan gharar yang banyak dan bisa ‎dihindari yaitu jenis-jenis jual-beli yang dilarang ‎oleh Rasulullah ‎ﷺ‎ atau praktik serupa, maka ‎inilah yang merusak keabsahan suatu akad. ‎

Jadi, yang diharamkan adalah gharar yang ‎banyak, jika gharar-nya sedikit, tidak haram. Tetapi ‎kemudian timbul pertanyaan, apa yang ‎membedakan gharar banyak dengan gharar ‎sedikit? Adakah ukurannya? ‎

Ad-Dasuqi salah seorang ulama mazhab Maliki ‎telah menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, ‎ukuran gharar yang sedikit itu adalah: ‎

‎“Yang ‎ dimaklumi ‎ oleh ‎ orang-orang ‎ pada umumnya.” ‎

Jadi, gharar sedikit itu adalah gharar yang sudah ‎dimaklumi adanya dalam suatu tradisi pasar. Di ‎mana orang-orang menganggapnya hal yang biasa ‎dan tidak ada yang merasa dirugikan. ‎

Banyak contoh-contoh gharar yang terjadi dalam ‎keseharian kita, tetapi gharar-nya sedikit dan tidak ‎dipermasalahkan. ‎

Seperti ongkos taksi di mana penumpangnya ‎tidak tahu berapa nominalnya pada saat naik ‎melainkan baru diketahui setelah sampai di tujuan. ‎Di sini ada gharar dalam harga, akan tetapi gharar-‎nya sedikit dan tidak dipermasalahkan dan ‎penumpang pun tidak merasa dirugikan. Sebab ‎ongkosnya tidak ditetapkan semaunya oleh supir ‎taksi, tetapi sesuai dengan perhitungan argo yang ‎sudah ada standar hitungan perkilometernya. ‎

Begitu juga contohnya seperti jual-beli ‎handphone yang masih disegel dalam kotak dan ‎tidak bisa dibuka kecuali setelah dibayar. Di sini ada ‎gharar yang terjadi, sebab pembeli tidak bisa ‎melihat isi di dalam kotak itu, apakah benar-benar ‎handphone yang dimaksud atau bukan, apakah ada ‎cacat atau tidak. ‎

Akan tetapi, gharar ini tidak dipermasalahkan ‎dan sudah dimaklumi. Sebab walaupun tidak bisa ‎dilihat, tetapi biasanya ada garansi dari penjual atau ‎pabrik. Jika pun ternyata ada cacat atau lain hal ‎setelah dibuka, barangnya bisa ditukar. Sehingga ‎tidak ada yang dirugikan di sini. ‎

Contoh lain yang sering disebutkan oleh para ‎ulama dalam kitab-kitab fiqih dan terjadi juga ‎sekarang adalah harga sewa kamar kecil. ‎

Di tempat-tempat umum seperti terminal, rest ‎area dan sebagainya biasanya disediakan W.C. ‎umum. Ada yang gratis ada yang berbayar. Yang ‎berbayar, harga masuknya biasanya dipatok Rp ‎‎2.000,- per sekali masuk. Di sini ada gharar. Sebab ‎setiap orang berbeda-beda dalam pemakaian air di ‎W.C. itu. Ada yang habis dua gayung ada yang habis ‎bergayung-gayung. Akan tetapi harganya sama Rp ‎ ‎2.000,-. ‎

Tetapi ini sudah lumrah adanya, penyedia W.C. ‎pun tidak merasa dirugikan. Sebab seboros apa pun ‎orang yang buang hajat, tidak akan sampai habis ‎satu sumur. ‎

‎2. Gharar dalam akad tabarru’ ‎

Akad tabarru’ adalah akad sosial di mana tidak ‎terjadi pertukaran harta secara dua arah dan ‎pelaku akad tidak mengharapkan keuntungan ‎materi, melainkan untuk tujuan kebaikan. Seperti ‎akad hibah, hadiah dan sebagainya. ‎

Jika terjadi gharar dalam akad tabarru’, tidak ‎menjadikan akadnya haram. Contoh sederhananya, ‎hadiah yang dibungkus kertas kado di mana pada ‎saat diberikan, penerima hadiah tidak tahu isi di ‎dalamnya. Di sini terjadi gharar. Akan tetapi karena ‎akadnya adalah hadiah, maka tidak menjadi haram. ‎Penerima hadiah tidak akan merasa dirugikan, ‎sebab hadiah itu gratis. Sudah diberi pun ‎alhamdulillah. ‎

Lain halnya, jika gharar itu terjadi dalam akad ‎mu’awadhah atau akad tijarah yaitu akad bisnis di ‎mana terjadi pertukaran harta secara dua arah. ‎Seperti akad jual-beli, sewa-menyewa, bagi hasil ‎dan sebagainya. ‎

Gharar yang hinggap dalam akad bisnis ‎berpengaruh dan menjadikannya terlarang. ‎
Contohnya, jika kado tadi tidak jadi dihadiahkan ‎akan tetapi dijual kepada orang lain dan tidak ‎diberitahukan isinya kepada pembeli, maka ‎hukumnya menjadi haram. Sebab pembeli harus ‎membayar sesuatu yang dia tidak tahu seperti apa ‎wujud barangnya. ‎

3. Gharar bukan dalam inti objek akad ‎

Para ulama sepakat bahwa gharar yang ‎diharamkan adalah gharar yang terjadi pada inti ‎dari objek akad yang diperjual-belikan. Sedangkan ‎jika gharar itu ada pada pengikut atau ‎pelengkapnya saja maka dibolehkan.‎ ‎ Berdasarkan ‎kaidah: ‎‎(Gharar) itu dimaafkan dalam ‎pengikut/pelengkap, tapi tidak dalam selain ‎pelengkap (inti objek akad). ‎

Contohnya jual-beli pohon yang berbuah, di ‎mana buahnya masih belum matang. Jika yang ‎dibeli adalah pohonnya, maka hukumnya boleh ‎meskipun buahnya belum matang. Sebab yang ‎menjadi objek akadnya adalah pohon, buah hanya ‎pelengkap/pengikut. ‎

Akan tetapi jika yang kita bayar adalah buahnya ‎dalam kondisi di mana buahnya belum matang, ‎maka tidak diperbolehkan, sebab buah menjadi ‎objek akadnya. Sedangkan nabi melarang jual-beli ‎buah yang belum jelas matangnya. ‎

Contoh lain adalah jual-beli kambing yang sedang ‎mengandung. Jika dibeli bersama induknya, maka ‎diperbolehkan. Sebab janin yang ada dalam perut ‎itu hanya sebagai pengikut/pelengkap. Akan tetapi ‎jika yang dibeli adalah janinnya saja, tanpa ‎induknya ini tidak diperbolehkan. ‎

Contoh dalam praktik muamalah kontemporer ‎adalah jual-beli tiket transportasi umum seperti ‎pesawat terbang, kereta api dan lain-lain yang ‎harganya sudah include biaya asuransi. Atau biaya ‎pengiriman barang berharga yang dikenakan biaya ‎asuransi. Sedangkan asuransi mengandung gharar. ‎

Akan tetapi, karena asuransi hanya pengikut atau ‎pelengkap saja, bukan inti dari objek akad yang ‎diperjual-belikan maka tidak masalah. Sebagaimana ‎kaidah yang sudah dijelaskan sebelumnya. ‎

‎4. Ada hajat ‎

Para ulama juga sepakat jika ada hajat syar’i ‎terhadap suatu transaksi meskipun mengandung ‎gharar, maka akad itu dibolehkan.‎ ‎ Imam ‎anNawawi mengatakan: ‎

Jika ada hajat/kebutuhan terhadap transaksi ‎yang mengandung gharar dan hal itu tidak bisa ‎dihindari kecuali dengan kesulitan, atau ‎ghararnya sedikit, maka jual-beli itu boleh. ‎

Contoh yang terjadi di zaman nabi, adalah ketika ‎Nabi Muhammad ‎ﷺ‎ membolehkan praktik jual-beli ‎salam yang dilakukan orang-orang Madinah. ‎

Jual-beli salam yang dipraktikkan waktu itu ‎adalah jual beli kurma setahun atau dua tahun ‎sebelum panen. Di mana ada unsur gharar yaitu ‎jual-beli barang yang belum ada. ‎

Akan tetapi, transaksi semacam itu sudah menjadi ‎hajat atau kebutuhannya orang Madinah, di mana ‎pembeli mendapatkan harga lebih murah, dan ‎petani kurma mendapatkan modal lebih dulu untuk ‎menanam kurma. Sehingga Nabi membolehkannya ‎dengan syarat spesifikasi dan waktu ‎penyerahannya jelas. ‎

Contoh lain adalah tentang hukum iuran BPJS ‎‎(Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Sebagian ‎berpendapat dari awal hukumnya boleh, sebab ‎iuran BPJS adalah iuran sosial. Sehingga masuk ‎kategori akad tabarru’ yang mana gharar tidak ‎berpengaruh di dalamnya. ‎

Tapi sebagian lain berpendapat BPJS sama ‎dengan asuransi konvensional yang tidak sesuai ‎dengan aturan syariah. Akan tetapi di antara yang ‎mengharamkan itu, ada juga yang membolehkan ‎dengan alasan bahwa kesehatan adalah hajat syar’i ‎yang harus dipenuhi. Sehingga meskipun ada ‎gharar, tetap diperbolehkan. ‎

Sumber: Muhammad Abdul Wahab‎, Gharar dalam Transaksi Moderm, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini