Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah: Hadits Palsu?

58

[otw_shortcode_dropcap label=”S” background_color_class=”otw-green-background” size=”large” border_color_class=”otw-no-border-color”][/otw_shortcode_dropcap]alah satu keterpelesetan dalam memaknai bulan suci Ramadhan yang sering melanda umat ini adalah kebiasaan begadang hingga larut malam di bulan suci itu, lalu tidur panjang di siang hari yang seharusnya penuh dengan kerja dan produktifitas.

Selain itu juga bisa dengan melakukan ibadah sahur yang sebenarnya sunnah, namun menjadi berkurang keutamannya karena dilakukannya kepagian, sehingga ada jam-jam tidur malam yang hilang dan akibatnya pada siang hari masih harus ada ‘balas dendam kesumat’ yang harus dibayarkan, yaitu tidur siang panjang.

Lihat saja di siang hari bulan Ramadhan, terutama di masjid-masjid, setelah shalat zhuhur. Begitu banyak jamaah yang menggeletakkan badannya di serambi masjid. Saking banyaknya, mirip ikan asin yang lagi dijemur.

Alih-alih kembali ke tempat kerja, mereka lebih senang menghabiskan jam-jam produktifnya untuk tidur siang yang panjang. Seolah bulan Ramadhan dan ibadah puasa menjadi legalitas atas hal ini.

Memang benar Rasulullah SAW kerap melakukan qailulah, yaitu tidur siang sejenak. Tetapi tidur siang panjang tentu berbeda dengan sejenak. Bahkan istilah qailulah itu sendiri konon berasal dari qalil, yang artinya sedikit, sebentar, atau sejenak.

Sementara tidur siang di jam kerja, hingga sekian jam, apalagi memanfaatkan masjid kantor, dengan alasan ibadah atau ‘balas dendam’ karena malamnya aktif beribadah, tentu bukan tindakan bijak. Sebaliknya menandakan pelakunya kurang memahami maqashid syariah dari ibadah bulan Ramadhan.

Sejarah Kemenangan Islam di Bulan Ramadhan

Di masanya, Rasululllah SAW dahulu justru mencapai puncak prestasi kerja di bulan-bulan Ramadhan. Setiap tahun Jibril alaihissalam turun untuk melakukan evaluasi hafalan Al-Quran bagi Rasulullah SAW. Dan kejadiannya justru di bulan Ramadhan.

Perang Badar Al-Kubra terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua hijriyah. Perang ini terjadi di gurun pasir yang melibatkan 314 muslimin melawan 1.000-an orang kafir dari Mekkah. Peperangan ini adalah salah

satu tonggak penting dalam sejarah Islam, karena sejak itulah umat Islam memulai era peperangan secara fisik, yang tentunya membutuhkan kemampuan yang lebih berat. Kalau mentalitas mereka seperti umat Islam zaman sekarang yang hobi tidur siang di bulan Ramadhan, tentunya sulit memenangkan peperangan.

Dan kota Mekkah dibebaskan juga pada bulan Ramadhan pada tahun kedelapan hijriyah. Rasulullah SAW menyiapkan tidak kurang dari 10.000 pasukan lengkap dengan senjata yang berjalan dari Madinah dan mengepung kota Mekkah. Mekkah menyerah tanpa syarat, namun semua diampuni dan dibebaskan.

Setahun berikutnya, peristiwa perang Tabuk juga terjadi di bulan Ramadhan. Perang Tabuk terjadi saat musim paceklik. Tapi di sisi lain buah-buahan sudah mulai masak, sehingga sebagian kaum muslimin harus menghadapi tarikan duniawi yang sangat berat.

Rasulullah memobilisasi sendiri perang. Kaum muslimin berlomba lomba menafkahkan hartanya. Kedatangan pasukan Islam di Tabuk temyata memunculkan ketakutan luar biasa di kalangan pasukan Romawi. Mereka lari berpencar dan tidak berani melakukan serangan terhadap kaum muslimin.

Demikiran juga pertama kali Islam menaklukkan Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziad dan Musa bin Nushair, juga terjadi di bulan Ramadhan tahun 92 hijriyah. dan sekian banyak kerja keras yang lain, terjadi di bulan Ramadhan.

Perang ‘Ain Jaluth terjadi pada 25 Ramadhan tahun 657 hijriyah. ‘Ain Jaluth adalah sebuah lokasi antara Bisan dan Nablus, yang dirampas oleh pasukan Tatar. Perang ini berakhir pada kemenangan gemilang kaum muslimin. Salah satu tokoh pahlawan yang terkenal dalam peristiwa ini adalah Muzaffar Saifuddin Quthz dan Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam.

Kita tidak bisa membayangkan kalau mentalitas para pendahulu kita dahulu seperti kita hari ini, yaitu doyan tidur siang di bulan Ramadhan, belum tentu semua prestasi itu dapat mereka raih.

Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah : Hadits Palsu

Salah satu alasan kenapa orang tidur siang di hari-hari produktif di bulan Ramadhan adalah hadits palsu yang berbunyi :

“Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.”

Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.

Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Syu’ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).

Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif teteapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ (palsu).

Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi. Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.

Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, di mana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.

Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.

Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma’in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah “manusia paling pendusta di muka bumi ini!”

Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh yang satu ini. Beliau mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.

Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa siapapun tidak halal meriwayatkan hadtis dari Sualiman bin Amr.

Imam Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, “Sulaiman bin Amr An-Nakha’i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Keterangan ini bisa kita dapati di dalam kitab Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu’ afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitab Mizanul I’tidal.

Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap. Maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.

Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.

Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.

Sumber:
Ahmad Sarwat, Lc., MA., Ramadhan Antara Syariat dan Tradisi, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2020.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini