Menu Tutup

Usaha, Doa, Tawakal dan Istiqamah

Usaha

Ikhtiar dalam bahasa Arab berasal dari kata khair yang artinya baik. Ikhtiar adalah berusaha sungguh-sungguh dengan menempuh jalan yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu yang berlaku dalam bidang yang diusahakan, dengan disertai doa kepada Allah agar usahanya itu berhasil.

Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan pertama-tama apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak popular atau terasa berat.

Do’a

Doa adalah memohon atau meminta suatu yang bersifat baik kepada Allah SWT seperti meminta keselamatan hidup, rizki yang halal dan keteguhan iman. Sebaiknya kita berdoa kepada Allah SWT setiap saat karena akan selalu didengar olehNya.

Doa adalah ibadah yang paling utama. Barangsiapa yang berdoa maka dia sedang meniti keselamatan. Ibadah doa sangat berpengaruh pada kehidupan lahir dan batin, dunia dan akhirat.[1]

Manusia sebagai seorang hamba mesti berdoa karena manusia lemah dan fakir). Orang yang tengah mengalami kesulitan akan sangat tahu keadaan ini karena ia merasakannya. Tak ada manusia di dunia yang tak mengalami kesulitan, tak ada manusia yang kebal penyakit. Bahkan hanya dengan sebuah virus yang tak terlihat pun manusia bisa binasa.

Menurut bahasa doa berasal dari kata da’a) yang artinya memanggil. Sedangkan menurut istilah syara’) doa berarti memohon sesuatu yang bermanfaat dan memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang memudharatkan.

Manusia dianjurkan untuk tadharu’) seperti yang dilakukan oleh orang-orang sahih dimana mereka selalu memanjatkan doa dalam keadaan apapun (tidak hanya berdoa ketika sedang susah saja). Tadharu’ juga dapat menambah kemantapan jiwa seorang hamba.

Tawakkal

Dalam kehidupan sehari-hari, sering didengar dan dijumpai ucapan-ucapan bahwa kita ber tawakkal kepada Allah SWT. Makna tawakkal disini adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan setelah berusaha bersungguh-sungguh. Secara harfiah, tawakkal berarti bersandar atau mempercayai diri. Apabila dikembangkan etimologinya, tawakkal  bermakna mempercayai diri secara utuh tanpa keraguan.[2] Namun, tawakka lyang dimaksudkan dalam masalah ini adalah tawakkal yang disandarkan kepada agama Islam yaitu bersandar dan mempercayai dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.

Tawakkal adalah kepercayaan dan penyerahan diri kepada takdir Allah dengan sepenuh jiwa dan raga. Dalam tasawuf, tawakkal ditafsirkan sebagai suatu keadaan jiwa yang tetap berada selamanya dalam ketenangan dan ketentraman, baik dalam keadaan suka maupun duka. Dalam keadaan suka, diri akan bersyukur dan dalam keadaan duka, diri akan bersabar serta tidak resah dan gelisah.[3]

Hakikat tawakkal adalah merupakan gambaran keteguhan hati manusia dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah. Dalam buku Tasawuf  Tematik  menurut Dzun Nun, pengertian At-tawakkal  adalah berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah disertai perasaan tidak memiliki kekuatan.[4] Dan dalam buku Filsafat Tasawuf menurut Sari As-Saqati, tawakkal adalah pelepasan kekuasaan dan kekuatan, tidak ada kekuasaan dan kekuatan apapun, melainkan dari Allah semesta alam.[5]

Istiqamah

Istiqamah adalah tegak dihadapkan Allah SWT atau tetap pada jalan yang lurus dengan tetap menjalankan kebenaran dan menunaikan janji baik yang berkaitan dengan ucapan, perbuatan sikap dan niat atau pendek kata yang maksud dengan istiqamah adalah menempuh jalan yang lurus (shirothal mustaqin) dengan tidak menyimpang dari ajaran Tuhan.Istiqamah juga bisa diartikan dengan tidak goncang dalam menghadapimacam-macam problema yang dihadapi dalam kehidupan dengan tetapbersandar dengan tetap berpegang pada tali Allah SWT dan sunnah Rasul.[6]

Adapun menurut para sufi, istiqamah adalah satu tingkatan atau drajat dengan istiqamah itu akan tercapai kesempurnaan segala perkara, ialah kebaikan. Maka barang-barang yang tidak tetap pendiriannya, hilang lenyaplah usahanya dan sia-sialah kesungguhannya. Istiqamah itu bertingkat tiga, tingkat taqwim artinya: masih dalam tahap usaha membersihkan dan memperbaiki diri dengan memperbaiki jiwanya. Tingkat iqamah bagi mereka yang masih dalam tahap membersihkan mentalnya. Tingkat ketiga tingkat istiqomah yang sudah berada dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah.[7]

[1]  Aditia, Efran ,  Doa-Doa Dari Hadits. (Cibubur: PT. Variapop Group, 2011), h. 3

[2] Bachrum Rifa’i dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 214

[3] Ibid

[4] M. Sholihin, Tasawuf atematik, (Bandung:Pustaka Setia, 2003), h. 21-22.

[5] Bachrum Rifa’i dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 214

[6]Jamaluddin Ahmad al Buny, Menelusuri Taman-Taman Mahabbah Shufiyah, (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2002) Cet. 1, h. 151.

[7]Alfat, Masan. Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah. (PT. Karya Toha Putra Semarang. 1994) h. 55.