Ada Riba di BMT

70

BMT seharusnya menjadi salah satu alternatif agar masyarakat kelas bawah terhindar dari jerat para rentenir yang menghisap darah. Singkatannya saja baitul mal wat-tamwil,  yang sangat kuat dikesankan punya loyalitas pada sistem syariah yang anti riba.

Namun kalau kita telusuri lebih dalam, tak jarang kita malah mendapatkan fakta-fakta yang menyedihkan. Tentu tidak terjadi pada semua BMT.

Namun juga tidak bisa dibilang tidak ada.

Ada sebagian dari BMT itu yang justru malah menerapkan akad-akad ribawi, yang seharusnya diperangi. Hanya saja karena BMT ini punya embelembel syariah, maka orang merasa semua akad yang dijalankan sudah dijamin kehalalannya.

Bahkan tidak sedikit yang berkesimpulan, kalau peminjaman uang pakai bunga dijalankan oleh lembaga yang pakai embel-embel baitul mal, hukumnya lantas berubah menjadi halal. Padahal embel-embel syariah sama sekali tidak difungsikan untuk jadi jaminan.

Salah satu trik pelanggaran syariah yang dilakukan oleh para pengelola BMT adalah akad pembiayaan. Para pedangan kecil di pasar biasanya jadi sasarannya. Pagi mereka diberi uang pinjaman, besok sore mereka sudah harus bayar. Dan tentu saja  pengembaliannya harus melebihi jumlah pinjaman.

Yang jadi haramnya adalah bahwa kelebihan pengembelian uang pinjaman itu sudah dipatok duluan di awal. Memang tidak disebut bunga, tetapi diganti dengan istilah yang lain, seperti prediksi keuntungan dan bagi hasil.

Seolah-olah kalau disebut dengan prediksi keuntungan dan bagi hasil, maka akad itu menjadi halal. Sedangkan kalau disebut dengan bunga, maka akad itu menjadi haram. Padahal keduanya sama persis dan tidak ada bedanya. Bedanya hanya pada penyebutan, tetapi hakikatnya satu juga.

Sumber: Ahmad Sarwat, Kiat-kiat Menghindari Riba, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini