Bagaimana Jika Lupa Baca al-Fatihah Ketika Shalat Jum’at

Diskripsi masalah

Disuatu daerah ada seorang imam sholat Jum’at lupa membaca surat al-Fatihah pada roka’at kedua. Pada saat lupa tersebut – entah karena apa-  para ma’mum tidak ada yang mengigatkannya. Karena ia tidak menyadari kelupaannya akhirnya ia lanjutkan dengan wiridan seperti biasa. Baru setelah selesai wiridan ada sebagian makmum yang mengingatkannya. Mungkin karena Imam yakin bahwa ia betul-betul keliru, iapun memutuskan mengajak para jamaah untuk mengulangi sholat jum’ahnya tanpa mengulangi kedua khutbah.

Pertanyaan:

– Betulkah tindakan makmum yang mengingatkan imam dinanti setelah wiridan selesai?
– Sahkah sholat jum’ah yang dilakukan imam dan jamaahnya?
– Andaikan saja tidak sah, apa yang harus dilakukan para jamaah dan imam bila ketidak absahan itu diketahui setelah mereka sudah berada dirumah masing-masing, sementara waktu dzuhur masih panjang?

Jawaban:

a. Tidak dibenarkan karena mengingatkan (tanbih) seharusnya dilakukan ketika terjadi kesalahan. Namun bila terlanjur tidak mengingatkan sampai Imam salam, maka mengingatkanya hukumnya tetap wajib dalam rangka “Amar ma’ruf nahi munkar”. Namun sebetulnya bagi Imam tidak wajib mengikuti peringatan makmumnya, kecuali akhirnya ia sendiri yakin telah meninggalkan fatehah tersebut. Dan tindakan yang tepat –bila ia yakin meninggalkannya- adalah cukup meneruskan rekaat yang kedua, jika antara salam dengan ingat akan kesalahanya belum lama. Dan sebelum salam sunah melakukan sujud sahwi. Sedangkan batasan “pemisah lama” adalah dikembalikan pada penilaian umum menurut sebagian pendapat ulama’.

b. Tafshil:  

Untuk para jama’ah yang mufaroqoh dengan Imam hukum jum’atannya sah, asalkan jumlah ma’mum yang mufaroqoh mencapai 40 orang dan semuanya bisa meng-absahkan jum’ah, hal ini karena sholat imam dan jamaah yang tidak mufaraqah dihukumi tidak sah.

Untuk jum’atannya Imam yang pertama, jelas tidak sah karena setelah diingatkan ia merasa yakin atau minimal punya dugaan bahwa ia meninggalkan fatihah. Sedangkan jum’atannya imam yang kedua (I’adah sholat tanpa mengulangi khutbah), hukumnya bisa sah asalkan jama’ah yang ikut I’adah mencapai 40 orang dengan mengikuti qoul Muqobilul adzhar. Sebab pandangan qoul ini bahwa Esensi khutbah adalah mauidloh dan mengingatkan para jama’ah untuk selalu taqwa pada Allah, sehingga tidak perlu diulangi, sekalipun terjadi Qoth’u al-muwalah (pemisah yang lama) antara khutbah dengan sholat i’adahnya. Hal ini berbeda dengan qoul adzhar yang mewajibkan diulanginya kedua khutbah.

Untuk para jama’ah yang tidak mufaroqoh dengan Imam, namun mengikuti sholat yang diulangi bersamaan dengan imam hukum jum’ahnya sah seperti penjelasan dalam hal sholatnya imam.

Untuk para jamaah yang tidak niat mufaroqoh dan tidak mengikuti I’adahnya Imam, maka sholatnya belum dianggap sah sehingga punya tanggungan I’adah, yakni dengan I’adah jum’ah bila masih memungkinkan dan I’adah dhuhur bila tidak memungkinkan (seperti tidak menemukan jamaah jum’ah atau waktunya sudah habis). Sehingga untuk saat ini mereka dianjurkan I’adah dluhur.

Catatan : Dikalangan Ashab Syafi’i terdapat qoul yang kuat bahwa sholat jum’ah sah dengan jumlah jama’ah minimal 4 orang dan sebagian pendapat minimal 12 orang, sehingga dalam kasus makmum yang mufaroqoh dan i’adahnya Imam dengan jama’ah yang kurang 40 puluh dihukumi sah dengan mengikuti qoul ini.