Kesultanan Banjar adalah sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah pada abad ke-16 hingga ke-19. Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Kalimantan yang didirikan oleh Pangeran Samudera yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah. Kesultanan Banjar mengalami masa kejayaan pada abad ke-17 hingga ke-18, namun kemudian mengalami kemunduran dan akhirnya dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1860.
Latar Belakang Pendirian Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar tidak terlepas dari sejarah kerajaan-kerajaan sebelumnya di Kalimantan Selatan dan Tengah, baik yang bercorak Hindu maupun yang berasal dari masyarakat Dayak. Salah satu kerajaan Hindu yang berpengaruh di wilayah ini adalah Kerajaan Negara Daha, yang merupakan penerus dari Kerajaan Tanjungpuri dan Kerajaan Negara Dipa.
Pada akhir abad ke-15, Kerajaan Negara Daha dipimpin oleh Maharaja Sukarama, yang memiliki tiga orang putra dan satu orang putri. Putrinya bernama Galuh Intan Sari, yang menikah dengan Pangeran Suryanata dari Majapahit dan melahirkan seorang anak bernama Pangeran Samudera. Maharaja Sukarama menunjuk Pangeran Samudera sebagai pewaris takhtanya, karena ia menganggap putra-putranya tidak layak memimpin.
Keputusan ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan putra-putra Maharaja Sukarama, terutama Pangeran Tumenggung, yang merasa berhak atas takhta kerajaan. Setelah Maharaja Sukarama wafat, Pangeran Tumenggung berhasil membunuh kakaknya, Pangeran Mangkubumi, dan merebut kekuasaan dari Kerajaan Negara Daha. Pangeran Samudera yang merasa terancam keselamatannya memilih untuk meninggalkan istana dan pergi ke daerah Banjar, yang merupakan salah satu wilayah bawahan Negara Daha.
Di Banjar, Pangeran Samudera disambut oleh Patih Masih, pemimpin setempat yang tidak mau lagi tunduk kepada Negara Daha. Patih Masih meminta Pangeran Samudera untuk memerdekakan Banjar dari pengaruh Negara Daha dan mendirikan kerajaannya sendiri. Pangeran Samudera menyetujui permintaan Patih Masih dan mulai membangun benteng pertahanannya di daerah Kuin.
Proses Islamisasi dan Perkembangan Kesultanan Banjar
Pada tahun 1520, Pangeran Samudera mendapat kunjungan dari utusan Kesultanan Demak dari Jawa, yang datang untuk menyebarkan agama Islam. Utusan tersebut bernama Syekh Abdullah atau Sunan Gunung Jati, yang merupakan salah satu dari Wali Songo. Syekh Abdullah berhasil mengislamkan Pangeran Samudera dan memberinya gelar Sultan Suriansyah.
Sultan Suriansyah kemudian berusaha mengislamkan rakyatnya dengan bantuan Syekh Abdullah dan para ulama lainnya. Ia juga mengubah nama kerajaannya menjadi Kesultanan Banjar Darul-Ihsan. Sultan Suriansyah memindahkan ibu kotanya beberapa kali, antara lain ke Pemakuan, Batang Mangapan, Batang Banyu, dan Martapura Lama.
Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550 dan digantikan oleh putranya, Sultan Rahmatullah. Sultan Rahmatullah melanjutkan usaha ayahnya dalam mengembangkan agama Islam di wilayahnya. Ia juga memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke daerah Hulu Sungai, Tanah Laut, Pulau Laut, dan sebagian Kalimantan Tengah.
Sultan Rahmatullah meninggal pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya, Sultan Hidayatullah. Sultan Hidayatullah memindahkan ibu kotanya ke Sungai Pangeran di Banjarmasin. Ia juga mempererat hubungan dengan Kesultanan Mataram di Jawa, yang saat itu dipimpin oleh Panembahan Senopati. Sultan Hidayatullah menikahkan putrinya, Putri Junjung Buih, dengan Panembahan Senopati dan memberinya gelar Ratu Mas Jolang.
Sultan Hidayatullah meninggal pada tahun 1595 dan digantikan oleh putranya, Sultan Mustain Billah. Sultan Mustain Billah memindahkan ibu kotanya ke Kayu Tangi, yang kemudian dikenal sebagai Martapura. Ia juga memperkuat pertahanan kerajaannya dengan membangun benteng-benteng di sepanjang sungai. Sultan Mustain Billah meninggal pada tahun 1642 dan digantikan oleh putranya, Sultan Agung.
Sultan Agung adalah sultan yang paling lama memerintah Kesultanan Banjar, yaitu selama 50 tahun. Ia berhasil membawa kerajaannya ke puncak kejayaan, baik dari segi politik, ekonomi, maupun budaya. Ia juga dikenal sebagai sultan yang bijaksana, adil, dan religius. Ia memperbaiki sistem pemerintahan, mengatur hukum syariah, membangun masjid-masjid, dan mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan kesenian.
Sultan Agung juga menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara maupun di luar negeri. Ia menjalin persekutuan dengan Kesultanan Mataram melawan Belanda yang mulai masuk ke Indonesia. Ia juga menjalin perdagangan dengan negara-negara seperti Aceh, Johor, Siam, Cina, India, Persia, Turki, dan Portugal.
Sultan Agung meninggal pada tahun 1692 dan digantikan oleh putranya, Sultan Inayatullah. Sultan Inayatullah adalah sultan yang lemah dan tidak mampu mengendalikan kerajaannya dengan baik. Ia menghadapi banyak pemberontakan dari rakyatnya yang tidak puas dengan pemerintahannya. Ia juga menghadapi ancaman dari Belanda yang semakin agresif dalam menguasai wilayah-wilayah di Indonesia.
Kemunduran dan Pembubaran Kesultanan Banjar
Pada tahun 1700, Belanda berhasil menduduki Banjarmasin dan mendirikan bentengnya di sana. Belanda kemudian menekan Sultan Inayatullah untuk menandatangani perjanjian yang merugikan Kesultanan Banjar. Perjanjian tersebut antara lain mengharuskan Sultan Inayatullah untuk membayar upeti kepada Belanda, menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Belanda, dan memberikan hak monopoli perdagangan kepada Belanda.
Sultan Inayatullah menolak untuk menandatangani perjanjian tersebut dan melarikan diri ke Martapura. Ia kemudian digantikan oleh adiknya, Sultan Tamjidillah I, yang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Namun, kerjasama ini tidak berlangsung lama karena Sultan Tamjidillah I juga merasa tertekan oleh tuntutan-tuntutan Belanda.
Pada tahun 1714, terjadi pemberontakan besar-besaran dari rakyat Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Pemberontakan ini bertujuan untuk mengusir Belanda dari wilayah Banjar dan mengembalikan kedaulatan Kesultanan Banjar. Pemberontakan ini berlangsung selama beberapa tahun dan melibatkan banyak tokoh-tokoh dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa.
Pemberontakan ini sempat mengancam keberadaan Belanda di Banjar, namun akhirnya dapat dipadamkan oleh Belanda dengan bantuan dari beberapa pihak yang bersekutu dengan mereka. Pangeran Antasari gugur dalam pertempuran pada tahun 1862 dan dimakamkan di Amuntai.
Setelah kematian Pangeran Antasari, Belanda semakin memperketat kendalinya atas wilayah Banjar. Belanda mengangkat Sultan Muhammad Seman sebagai pemimpin boneka yang taat kepada mereka. Sultan Muhammad Seman tidak memiliki kekuasaan nyata dan hanya berfungsi sebagai simbol bagi rakyat Banjar.
Pada tahun 1860, Belanda secara sepihak menghapuskan Kesultanan Banjar dan menjadikannya sebagai bagian dari Hindia Belanda. Sultan Muhammad Seman ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Ia meninggal di sana pada tahun 1905. Dengan demikian, berakhirlah sejarah Kesultanan Banjar sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat.
Namun, rakyat Banjar tidak serta-merta menyerah kepada Belanda. Mereka tetap melakukan perlawanan dengan berbagai cara, baik secara terbuka maupun diam-diam. Mereka juga tetap mengakui adanya pemerintahan darurat yang dipimpin oleh keturunan Sultan Muhammad Seman. Pemerintahan darurat ini berusaha mempertahankan identitas dan budaya Banjar dari pengaruh asing.
Pada tahun 1942, Jepang menggantikan Belanda sebagai penjajah baru di Indonesia, termasuk di Banjar. Jepang juga menekan rakyat Banjar dengan kebijakan-kebijakan yang sewenang-wenang dan kejam. Rakyat Banjar kembali melakukan perlawanan terhadap Jepang dengan bergabung dengan gerakan-gerakan nasionalis yang menuntut kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan asing. Rakyat Banjar mendukung penuh proklamasi tersebut dan berjuang bersama-sama dengan rakyat Indonesia lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan-serangan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Rakyat Banjar juga berpartisipasi dalam pembentukan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Pada tahun 1957, wilayah Banjar menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Selatan yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Rakyat Banjar tetap menjaga identitas dan budaya mereka sebagai bagian dari kekayaan dan kebhinekaan bangsa Indonesia. Rakyat Banjar juga tetap menghormati sejarah dan tradisi Kesultanan Banjar sebagai warisan leluhur mereka.
Warisan Budaya dari Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar telah meninggalkan banyak warisan budaya yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. Warisan budaya tersebut antara lain adalah:
– Bahasa Banjar: Bahasa yang digunakan oleh rakyat Banjar sebagai bahasa ibu mereka. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang memiliki banyak penutur dan variasi dialek. Bahasa ini juga dipengaruhi oleh bahasa-bahasa lain seperti Melayu, Jawa, Arab, Sanskerta, dan Belanda.
– Adat istiadat: Adat istiadat yang mengatur berbagai aspek kehidupan rakyat Banjar, seperti perkawinan, kelahiran, kematian, upacara adat, hukum adat, dan lain-lain. Adat istiadat ini bersumber dari ajaran Islam yang disesuaikan dengan kondisi lokal dan budaya asli rakyat Banjar.
– Seni dan sastra: Seni dan sastra yang mencerminkan kekayaan dan keindahan budaya rakyat Banjar, seperti tari-tarian, musik-musikan, lagu-lagu, puisi-puisi, cerita-cerita rakyat, dongeng-dongeng, pantun-pantun, dan lain-lain. Seni dan sastra ini juga dipengaruhi oleh seni dan sastra dari daerah-daerah lain seperti Jawa, Melayu, dan India.
– Arsitektur dan seni bina: Arsitektur dan seni bina yang menunjukkan kecanggihan dan keunikan rancangan bangunan-bangunan rakyat Banjar, seperti rumah-rumah, masjid-masjid, istana-istana, benteng-benteng, dan lain-lain. Arsitektur dan seni bina ini juga dipengaruhi oleh arsitektur dan seni bina dari daerah-daerah lain seperti Jawa, Melayu, Cina, dan Eropa.
– Pakaian dan perhiasan: Pakaian dan perhiasan yang menampilkan keindahan dan keanggunan busana rakyat Banjar, seperti baju kurung, baju kebaya, baju kampung, baju melayu, kain sasirangan, kain songket, kain batik, tudung saji, tanggui, gelang kana, anting-anting, cincin, dan lain-lain. Pakaian dan perhiasan ini juga dipengaruhi oleh pakaian dan perhiasan dari daerah-daerah lain seperti Jawa, Melayu, Cina, India, dan Arab.
– Kuliner: Kuliner yang menawarkan berbagai macam makanan dan minuman khas rakyat Banjar yang lezat dan menggugah selera, seperti soto banjar, ketupat kandangan, nasi kuning, lontong orari, lontong sayur banjar, apam barabai, wadai rangin, wadai tapai, wadai pinangat, wadai kipas, wadai pisang ijo, wadai pisang bakar, wadai pisang goreng madu,
Sumber:
(1) Kesultanan Banjar – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar.
(2) Sejarah Kesultanan Banjar: Pendiri, Masa Jaya, & Runtuhnya Kerajaan. https://tirto.id/sejarah-kesultanan-banjar-pendiri-masa-jaya-runtuhnya-kerajaan-gc6t.
(3) Kesultanan Banjar: Sejarah, Sistem Pemerintahan, dan Masa Kejayaan. https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/14/135847779/kesultanan-banjar-sejarah-sistem-pemerintahan-dan-masa-kejayaan.