Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Islam masuk ke Sumatera Barat melalui jalur perdagangan dan dakwah dari para pedagang dan ulama Muslim dari Gujarat, Persia, dan Arab sejak abad ke-7. Selain itu, pengaruh Kesultanan Aceh yang berkuasa di pantai barat Sumatera juga berperan dalam penyebaran Islam di wilayah ini.
Beberapa tokoh Islam yang berpengaruh dalam proses awal penyebaran Islam di Sumatera antara lain:
– Hamzah Fansuri (Aceh), seorang sufi dan penyair yang hidup pada abad ke-16. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh pertama yang menulis karya sastra berbahasa Melayu dengan tema tasawuf. Ia juga mengajarkan ajaran wahdatul wujud (kesatuan hakikat) yang menekankan hubungan antara manusia dan Tuhan.
– Syamsuddin al-Sumaterani (Aceh), seorang ulama dan penulis yang hidup pada abad ke-17. Ia merupakan murid dari Hamzah Fansuri dan melanjutkan dakwahnya di Sumatera. Ia menulis beberapa kitab tentang tasawuf, fiqih, tafsir, dan sejarah.
– Nuruddin Ar-Raniri (Melayu), seorang ulama dan penulis yang hidup pada abad ke-17. Ia merupakan utusan dari Kesultanan Mughal di India yang datang ke Aceh untuk membantu Sultan Iskandar Thani. Ia menentang ajaran wahdatul wujud yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumaterani dan menggantinya dengan ajaran asy’ariyah (ajaran ortodoks Sunni). Ia juga menulis banyak kitab tentang berbagai ilmu.
– Abdurrauf Singkel (Aceh), seorang ulama dan penulis yang hidup pada abad ke-17. Ia merupakan murid dari Syekh Ahmad Qushasyi, seorang sufi terkemuka dari Yaman. Ia datang ke Aceh untuk menyebarkan ajaran tarekat Syattariyah, salah satu cabang dari tarekat Naqsyabandiyah. Ia juga menulis beberapa kitab tentang tasawuf, fiqih, tafsir, dan hadis.
– Abdussamad al-Palimbani (Palembang), seorang ulama dan penulis yang hidup pada abad ke-18. Ia merupakan murid dari Abdurrauf Singkel dan melanjutkan dakwahnya di Palembang dan Jawa. Ia menulis beberapa kitab tentang tasawuf, fiqih, tafsir, hadis, dan ilmu kalam.
– Ahmad Khatib al-Minangkabawi (Bukittinggi, Sumatera Barat), seorang ulama dan penulis yang hidup pada abad ke-19. Ia merupakan murid dari Abdussamad al-Palimbani dan melanjutkan dakwahnya di Sumatera Barat dan Jawa. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh pembaru Islam di Nusantara yang mengkritik praktik-praktik bid’ah (sesat) dan taqlid (ikut-ikutan) dalam agama. Ia juga menulis beberapa kitab tentang tasawuf, fiqih, tafsir, hadis, ilmu kalam, dan sejarah.
Selain tokoh-tokoh di atas, masih banyak lagi ulama Minangkabau yang berjasa dalam penyebaran Islam di Sumatera Barat maupun di luar daerahnya. Mereka menggunakan berbagai media seperti surat kabar, majalah, buku, dan lembaga pendidikan untuk menyampaikan ajaran Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Mereka juga berperan dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, kristenisasi, dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Islam di Sumatera Barat saat ini adalah Islam Sunni yang mengikuti mazhab Syafi’i. Mayoritas penduduk Sumatera Barat adalah orang Minangkabau, yang memiliki adat matrilineal (garis keturunan ibu). Islam dan adat Minangkabau saling berinteraksi dan beradaptasi dalam kehidupan masyarakat. Tempat ibadah utama bagi umat Islam di Sumatera Barat adalah masjid dan surau. Beberapa masjid yang terkenal di Sumatera Barat antara lain Masjid Raya Sumatera Barat, Masjid Agung Ganting, Masjid Raya Solok, dan Masjid Raya Padang Panjang.