Menu Tutup

Sejarah Masuknya Islam ke Kepulauan Riau

Islam adalah agama mayoritas di Kepulauan Riau, sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau seperti Batam, Bintan, Karimun, Natuna dan Anambas. Islam masuk ke wilayah ini melalui berbagai jalur dan periode sejarah, mulai dari masa Kerajaan Sriwijaya hingga masa Kesultanan Riau-Lingga. Berikut adalah sejarah singkat masuknya Islam ke Kepulauan Riau.

Masa Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang berpusat di Palembang, Sumatra Selatan. Kerajaan ini berdiri sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi dan menguasai wilayah pesisir Sumatra, Jawa, Semenanjung Malaya dan sebagian Kalimantan. Kerajaan ini juga menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha di Nusantara.

Islam mulai berkembang di wilayah Sriwijaya sejak abad ke-9 Masehi, ketika para pedagang dan misionaris Arab datang ke pelabuhan-pelabuhan kerajaan ini. Mereka membawa ajaran Islam sambil berdagang dengan penduduk setempat. Beberapa pelabuhan yang menjadi pintu masuk Islam antara lain Barus di Sumatra Utara, Lamuri di Aceh, Perlak di Aceh Timur, Jambi di Sumatra Tengah dan Palembang di Sumatra Selatan.

Salah satu bukti tertua adanya Islam di wilayah Sriwijaya adalah makam Fatimah binti Maimun bin Hibat Allah yang terletak di Leran, Gresik, Jawa Timur. Makam ini diperkirakan berasal dari tahun 1082 Masehi dan menunjukkan bahwa Fatimah adalah seorang wanita Arab yang menikah dengan seorang penguasa Sriwijaya yang telah memeluk Islam.

Masa Kesultanan Malaka

Kesultanan Malaka adalah kerajaan Islam yang berpusat di Semenanjung Malaka. Kerajaan ini berdiri sejak tahun 1400 hingga tahun 1511 Masehi dan menguasai wilayah pesisir Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Semenanjung Malaka. Kerajaan ini juga menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara.

Islam masuk ke wilayah Malaka melalui hubungan perkawinan antara raja-raja Malaka dengan putri-putri dari kerajaan-kerajaan Islam lainnya seperti Pasai, Samudera, Pahang dan Brunei. Selain itu, para ulama dan wali dari Timur Tengah dan India juga datang ke Malaka untuk menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Beberapa ulama dan wali yang terkenal antara lain Syekh Ismail al-Khalidi, Syekh Ahmad al-Qusyasyi, Syekh Nuruddin al-Raniri dan Wali Songo.

Salah satu bukti penting adanya Islam di wilayah Malaka adalah batu nisan Sultan Mansur Syah yang terletak di Pulau Bintan. Batu nisan ini bertarikh 1479 Masehi dan menunjukkan bahwa Sultan Mansur Syah adalah raja Malaka yang pertama kali dimakamkan di Kepulauan Riau. Batu nisan ini juga menunjukkan bahwa Kepulauan Riau sudah menjadi bagian dari wilayah Malaka pada masa itu.

Masa Kesultanan Riau-Lingga

Kesultanan Riau-Lingga adalah kerajaan Islam yang berpusat di Kepulauan Lingga. Kerajaan ini berdiri sejak tahun 1824 hingga tahun 1911 Masehi dan merupakan pecahan dari Kesultanan Johor. Kerajaan ini menguasai wilayah Kepulauan Riau, tetapi tidak termasuk wilayah Riau daratan yang didominasi oleh Kesultanan Siak. Kerajaan ini juga menjadi pusat perkembangan bahasa dan sastra Melayu.

Islam berkembang di wilayah Riau-Lingga melalui hubungan politik dan budaya antara raja-raja Riau-Lingga dengan raja-raja Johor, Malaka, Aceh, Minangkabau dan Bugis. Selain itu, para ulama dan pujangga dari Riau-Lingga juga berperan dalam menyebarkan ajaran Islam dan menghasilkan karya-karya sastra yang bernilai tinggi. Beberapa ulama dan pujangga yang terkenal antara lain Raja Ali Haji, Raja Ahmad, Raja Haji Fisabilillah dan Raja Hamzah.

Salah satu bukti berharga adanya Islam di wilayah Riau-Lingga adalah Masjid Raya Nur Alam yang terletak di Senapelan, Pekanbaru. Masjid ini dibangun pada tahun 1761 Masehi oleh Sultan Alamuddin, raja Siak yang juga merupakan cicit dari Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, raja Johor-Riau pertama. Masjid ini menjadi tempat ibadah kaum Muslimin di wilayah Riau-Lingga hingga sekarang.

Kesimpulan

Islam adalah agama yang telah lama masuk ke Kepulauan Riau melalui berbagai jalur dan periode sejarah. Islam masuk ke wilayah ini sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga masa Kesultanan Riau-Lingga. Islam berkembang di wilayah ini melalui hubungan perdagangan, perkawinan, politik dan budaya antara penduduk setempat dengan para pedagang, misionaris, ulama, wali dan pujangga dari luar. Islam juga meninggalkan jejak-jejak sejarah yang dapat dilihat hingga sekarang di wilayah Kepulauan Riau.

Sumber:
(1) Islam di Riau – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Riau.
(2) Sejarah Masuknya Islam Ke Riau – RiauOnline. https://www.riauonline.co.id/riau/read/2021/11/19/sejarah-masuknya-islam-ke-riau.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya