Tokoh Tokoh Penyebar Agama Islam di Kalimantan Barat

Penyebaran agama Islam di Kalimantan Barat melibatkan jejaring ulama berkaliber internasional, sultan negarawan, dan sufi pengembara yang berhasil mengukir sejarah emas di pentas peradaban Melayu Nusantara dan Timur Tengah. Menelusuri tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Kalimantan Barat membuka wawasan kita tentang transmisi keilmuan yang menghubungkan Makkah, Hadramaut, Brunei, dan lembah Sungai Kapuas.

Para tokoh ini tidak hanya mendirikan kesultanan dan masjid bersejarah, melainkan melahirkan karya-karya kitab kuning monumental serta gerakan pemikiran modern yang menjadi rujukan peradaban Islam hingga hari ini.

1. Habib Husein Al-Qadri (Mufti Kerajaan Mempawah)

Habib Husein bin Ahmad Al-Qadri adalah ulama karismatik keturunan Rasulullah SAW asal Tarim, Hadramaut, yang tiba di Nusantara pada dekade 1730-an. Setelah singgah di Batavia dan Semarang, beliau berlayar ke Kalimantan Barat dan disambut hangat oleh Sultan Matan dan penguasa Kerajaan Mempawah, Opu Daeng Menambon.

Di Mempawah, Habib Husein diangkat sebagai Mufti dan Qadhi kerajaan. Beliau membangun pusat pendidikan Islam, mengajarkan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah mazhab Syafi’i, serta menanamkan nilai-nilai moral Al-Qur’an di kalangan bangsawan istana maupun rakyat jelata. Makam beliau di Sebukit Rama, Mempawah, senantiasa menjadi pusat ziarah spiritual terkemuka.

2. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri (Pendiri Kesultanan Pontianak)

Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri (1739–1808 M) adalah putra dari Habib Husein Al-Qadri. Beliau adalah sosok pemimpin visioner yang memadukan wibawa keagamaan dengan kemahiran navigasi niaga maritim internasional.

Pada 1771 M, beliau memimpin ekspedisi menyusuri muara Sungai Kapuas dan Landak, membabat hutan rawa untuk mendirikan Kota Pontianak. Beliau mendirikan Masjid Jami’ Pontianak (Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadriah. Di bawah kepemimpinannya, Pontianak tumbuh menjadi bandar kosmopolitan yang terbuka bagi pedagang Arab, Tionghoa, Melayu, Bugis, dan Eropa dengan sistem hukum peradilan Islam yang adil.

3. Sultan Muhammad Shafiuddin I (Raden Sulaiman Sambas)

Raden Sulaiman adalah putra dari Raja Tengah (pangeran Kesultanan Brunei) dan Ratu Surya Kesuma (putri Kerajaan Sukadana). Pada tahun 1671 M, Raden Sulaiman dinobatkan sebagai penguasa pertama Kesultanan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin I.

Beliau meletakkan syariat Islam sebagai konstitusi kerajaan dan membangun jejaring pertahanan pantai di utara Kalimantan Barat. Tradisi keislaman yang diletakkannya menjadikan Sambas sebagai pusat pencetak naskah dan sarjana keagamaan terkemuka di tanah Borneo.

4. Mahaguru Syekh Ahmad Khatib Sambas (1803–1875 M)

Tokoh intelektual paling agung dari Kalimantan Barat di panggung internasional adalah Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Ghaffar al-Sambasi. Lahir di Kampung Dagang, Sambas, beliau berangkat menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah pada usia muda dan menetap di sana hingga diangkat menjadi Imam dan Syekh Guru Besar di Masjidil Haram.

Karya monumental beliau yang mengubah lanskap tasawuf dunia Islam adalah perumusan penggabungan dua aliran tarekat besar menjadi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Melalui kitab pegangannya, Fat-hul ‘Arifīn, beliau mengajarkan integrasi antara zikir jahar (bersuara) Qadiriyah dan zikir sirr (dalam hati) Naqsyabandiyah. Murid-murid beliau menjadi ulama besar pendiri pesantren terkemuka di Nusantara, antara lain Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh Abdul Karim Banten.

5. Maharaja Imam Syekh Muhammad Basyuni Imran (1885–1976 M)

Pada era pembaruan Islam awal abad ke-20, Kalimantan Barat melahirkan intelektual brilian bernama Syekh Muhammad Basyuni Imran. Menjabat sebagai Maharaja Imam Sambas (kepala urusan keagamaan kesultanan), beliau merupakan alumni perguruan terkemuka di Makkah dan Kairo, serta murid langsung pemikir reformis Syaikh Muhammad Rasyid Ridha.

Namanya diabadikan dalam sejarah pemikiran Islam dunia ketika pada tahun 1930 ia melayangkan surat pertanyaan bersejarah ke redaksi Majalah *Al-Manar* di Kairo, Mesir. Pertanyaan tersebut berbunyi: “Limādzā ta’akhkhara al-muslimūn wa-limādzā taqaddama ghairuhum?” (Mengapa umat Islam terbelakang dan bangsa non-muslim maju pesat?). Pertanyaan ini dijawab oleh cendekiawan Lebanon Amir Syakib Arslan dalam buku legendaris dengan judul yang sama, memicu gelombang kebangkitan intelektual di seluruh dunia Islam.

Nama Tokoh Peran & Wilayah Dakwah Karya Monumental / Warisan
Habib Husein Al-Qadri Mufti Kerajaan Mempawah Peletak fondasi dakwah mazhab Syafi’i & kaderisasi ulama pesisir
Sultan Syarif Abdurrahman Sultan Pertama Pontianak Pembangunan Istana Kadriah & Masjid Jami’ Pontianak 1771 M
Sultan M. Shafiuddin I Pendiri Kesultanan Sambas Institusionalisasi syariat Islam dalam hukum ketatanegaraan Sambas
Syekh Ahmad Khatib Sambas Guru Besar Masjidil Haram Makkah Pendiri Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) & kitab Fat-hul ‘Arifin
Syekh M. Basyuni Imran Maharaja Imam Sambas Pelopor pembaruan madrasah & pemrakarsa dialog peradaban *Al-Manar*

Kiprah para tokoh penyebar Islam di Kalimantan Barat ini memberikan bukti nyata bahwa kawasan ini merupakan salah satu poros intelektual dan spiritual terpenting dalam sejarah peradaban Islam Nusantara.

Navigasi Utama