Menu Tutup

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad

Siapa dia?

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Jawi: راج علي حاج بن راج حاج احمد) atau juga dikenal dengan nama pena beliau adalah Raja Ali Haji (lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca. 1808 – meninggal di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga (masa kini bagian dari Provinsi Kepulauan Riau), ca. 1873)   adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.  Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar (juga disebut bahasa Melayu baku) itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis . Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5 November 2004 .

Apa karya-karyanya?

Raja Ali Haji menulis banyak karya sastra, sejarah, dan hukum dalam bahasa Melayu dan Arab. Beberapa karya terkenalnya adalah:

  • Gurindam Dua Belas (1847), sebuah syair yang berisi nasihat-nasihat moral dan etika dalam bentuk gurindam (sepasang bait yang berima). Karya ini menjadi pembaru arus sastra pada zamannya.
  • Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Bahasa Melayu Riau-Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Karya ini berisi penjelasan tentang asal-usul, makna, dan penggunaan kata-kata dalam bahasa Melayu.
  • Tuhfat al-Nafis (“Bingkisan Berharga” tentang sejarah Melayu), sebuah kitab yang mengisahkan sejarah Kesultanan Lingga-Riau dan hubungannya dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan Asia Tenggara. Karya ini walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya.
  • Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik), sebuah kitab yang membahas tentang ketatanegaraan dan hukum Islam dalam konteks Kesultanan Lingga-Riau. Karya ini mengandung prinsip-prinsip dasar pemerintahan, hubungan antara raja dan rakyat, serta hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat.

Selain itu, Raja Ali Haji juga menulis beberapa syair lainnya, seperti Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.

Bagaimana latar belakangnya?

Raja Ali Haji dilahirkan di Pulau Penyengat,   Kepulauan Riau tahun 1808 atau 1809.   Dia adalah putra dari Raja Ahmad, yang bergelar Engku Haji Tua setelah melakukan ziarah ke Mekah. Dia adalah cucu Raja Ali Haji Fisabilillah ( Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis, saudara Raja Lumu ).   Fisabilillah adalah keturunan keluarga kerajaan Riau, yang merupakan keturunan dari prajurit Bugis yang datang ke daerah tersebut pada abad ke-18.   Bundanya, Encik Hamidah binti Malik adalah saudara sepupu dari ayahnya dan juga dari keturunan suku Bugis.

Raji Ali Haji dibesarkan dan banyak menjalani masa hidupnya serta menerima pendidikan di Pulau Penyengat Kesultanan Lingga, yang pada masa kini merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Dia belajar ilmu-ilmu agama dan bahasa dari ayahnya, serta dari ulama-ulama lain yang datang ke Pulau Penyengat. Dia juga belajar ilmu-ilmu lain seperti falak, fiqh, tafsir, hadis, dan tasawuf.

Pada tahun 1822 sewaktu Raja Ali Haji masih kecil, beliau pernah dibawa oleh orang tuanya ke Betawi (Jakarta). Ketika itu bapanya, Raja Haji Ahmad, menjadi utusan Riau untuk menjumpai Gabenor Jeneral Baron van der Capellen. Berulang-ulang kali Raja Haji Ahmad menjadi utusan kerajaan Riau ke Jawa, waktu yang berguna itu telah dimanfaatkan oleh puteranya Raja Ali untuk menemui banyak ulama, untuk memperdalam ilmu pengetahuan Islamnya, terutama ilmu fiqh. Antara ulama Betawi yang sering dikunjunginya oleh beliau ialah Saiyid Abdur Rahman al-Mashri. Raja Ali Haji sempat belajar ilmu falak dengan beliau. Selain dapat mendalami ilmu keislaman, Raja Ali Haji juga banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan hasil pergaulan dengan sarjana-sarjana kebudayaan Belanda seperti T. Roode dan Van Der Waal yang kemudian menjadi sahabatnya.

Kira-kira tahun 1827/1243H Raja Ali Haji mengikut bapanya Raja Ahmad pergi ke Makkah al-Musyarrafah. Raja Ahmad dan Raja Ali Haji adalah di antara anak Raja Riau yang pertama menunaikan ibadah haji ketika itu. Raja Ali Haji tinggal dan belajar di Mekah dalam jangka masa yang agak lama. Semasa di Mekah Raja Ali Haji sempat bergaul dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Beliau sempat belajar beberapa bidang keislaman dan ilmu bahasa Arab dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani yang ketika itu menjadi Ketua Syeikh Haji dan sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Melayu di Mekah. Beliau bersahabat dengan salah seorang anak Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari iaitu Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Barangkali ketika itulah, Raja Ali Haji sempat mempelawa ulama yang berasal dari Banjar itu supaya datang ke Riau, dan jika ulama tersebut bersetuju untuk datang, ulama itu akan dijadikan Mufti di kerajaan Riau.

Setelah kembali dari Mekah, Raja Ali Haji melanjutkan aktivitasnya sebagai penulis, pujangga, sejarawan, dan penasehat kerajaan. Dia juga terlibat dalam beberapa peristiwa penting dalam sejarah Kesultanan Lingga-Riau, seperti perjanjian dengan Belanda pada tahun 1824 yang membagi wilayah kerajaan menjadi dua bagian (Lingga dan Riau), perang saudara antara pihak-pihak yang bersaing untuk menguasai tahta pada tahun 1857, dan perpindahan ibu kota kerajaan dari Pulau Penyengat ke Daik pada tahun 1863.

Raja Ali Haji meninggal dunia di Pulau Penyengat pada tahun 1873 atau 1874. Dia dimakamkan di samping makam ayahnya di kompleks makam raja-raja di pulau tersebut.

Mengapa dia penting?

Raja Ali Haji adalah salah satu tokoh yang berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa dan sastra Melayu. Karya-karyanya menjadi sumber rujukan dan inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya. Dia juga memberikan sumbangan dalam bidang sejarah dan hukum, dengan mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kesultanan Lingga-Riau dan menguraikan prinsip-prinsip dasar pemerintahan dan hukum Islam. Dia juga merupakan pahlawan nasional Indonesia yang dihormati karena perannya dalam mempertahankan kedaulatan dan kebudayaan Melayu.

Posted in Keislaman

Artikel Lainnya