Syaikh Rukunuddin: Ulama Pertama yang Menyebarkan Islam di Nusantara

Kajian mengenai Syaikh Rukunuddin dan situs makam Mahligai di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menempati posisi sentral dalam historiografi masuknya Islam ke Nusantara. Barus (dikenal dalam literatur kuno Yunani, Arab, dan Tiongkok sebagai Fansur atau P’o-lu) merupakan bandar niaga maritim tertua di pesisir barat Sumatera yang termasyhur ke seluruh penjuru dunia purba sebagai penghasil getah kapur barus (camphor) dan kemenyan berkualitas tinggi.

Keberadaan makam Syaikh Rukunuddin dengan inskripsi nisan yang memuat angka tahun abad ke-7 Masehi (48 Hijriyah / 672 Masehi) memperkuat tesis bahwa hubungan antara pedagang muslim jazirah Arab dan kepulauan Nusantara telah terjalin sejak dekade-dekade awal kelahiran Islam era Khulafaur Rasyidin.

Barus (Fansur) di Panggung Perdagangan Kuno Dunia

Jauh sebelum armada pelaut Eropa memetakan samudera, kawasan Barus telah tercatat dalam peta geografi Claudius Ptolemaeus pada abad ke-2 Masehi dengan sebutan Barousai. Para saudagar dari Mesir, Persia, India, dan dinasti-dinasti Tiongkok berlayar menyeberangi Samudera Hindia untuk memburu kapur barus kristal yang digunakan sebagai bahan pembalseman mumi, ramuan obat-obatan farmasi, dan wewangian istana.

Ketika Islam lahir dan berkembang pesat di Semenanjung Arabia pada abad ke-7 Masehi, jalur pelayaran dagang laut yang menghubungkan Teluk Persia menuju pelabuhan Guangzhou di Tiongkok secara alami singgah di pesisir barat Sumatera untuk mengambil bekal air tawar dan komoditas rempah. Pada masa inilah para pendakwah dan saudagar muslim perintis menetap dan membentuk pemukiman awal di Barus.

Arkeologi Makam Mahligai dan Nisan Syaikh Rukunuddin

Bukti arkeologis paling menakjubkan di Barus terletak di kompleks pemakaman kuno Makam Mahligai yang berada di atas perbukitan Desa Sihorbo, Kecamatan Barus. Di kompleks seluas kurang lebih tiga hektare ini, bersemayam jasad para auliya dan saudagar muslim generasi perintis.

Salah satu nisan paling utama adalah nisan makam Syaikh Rukunuddin. Pada nisan batu cadas tersebut terukir inskripsi kaligrafi Arab kuno yang menyebutkan bahwa Syaikh Rukunuddin wafat pada tahun 48 Hijriyah (672 Masehi) dalam usia 102 tahun lebih. Temuan epigrafi ini menempatkan Barus sezaman dengan era kekhalifahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Dinasti Umayyah) dan masa sahabat Nabi SAW.

Kajian Ilmiah dan Perdebatan Epigrafi Modern

Kajian arkeologis gabungan yang dipimpin oleh sejarawan Prancis Claude Guillot dan Ludvik Kalus (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional / EFEO) mengonfirmasi bahwa Barus merupakan pemukiman multietnis kosmopolitan dengan temuan pecahan keramik Dinasti Tang (abad ke-9 M), koin-koin emas Timur Tengah, serta nisan-nisan berbahasa Arab beraksara Kufi dan Naskhi kuno.

Sebagian peneliti mencatat bahwa inskripsi nisan makam Mahligai yang ada saat ini merupakan bentuk pemugaran atau penandaan ulang pada abad ke-14 hingga ke-16 Masehi oleh Kesultanan Samudera Pasai atau Kesultanan Aceh untuk memuliakan makam para perintis dakwah terdahulu yang makam aslinya telah ada sejak abad-abad awal hijriyah.

Seminar Sejarah 1963 dan Penetapan Titik Nol Peradaban Islam Nusantara

Signifikansi Barus dalam peta sejarah Islam Indonesia ditegaskan melalui dua tonggak resmi:

  • Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia (1963 di Medan): Para sejarawan terkemuka seperti Buya Hamka dan Prof. Hasymy menyimpulkan secara aklamasi bahwa Islam masuk ke kepulauan Indonesia secara langsung dari jazirah Arab pada abad ke-1 Hijriyah (abad ke-7 Masehi) melalui pelabuhan pesisir barat Sumatera (Barus), mengoreksi teori kolonial yang menyebut Islam baru masuk pada abad ke-13 dari Gujarat.
  • Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara (2017): Pada 24 Maret 2017, Presiden Republik Indonesia meresmikan monumen Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di pinggir pantai Barus, mengukuhkan Barus sebagai pintu gerbang pertama masuknya cahaya Islam ke bumi kepulauan Nusantara.
Parameter Sejarah Fakta Arkeologis & Historiografi Barus
Lokasi Geografis Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, pesisir barat Sumatera Utara
Komoditas Primadona Kapur Barus kristal (Dryobalanops aromatica) dan kemenyan mur murni
Inskripsi Nisan Makam Syaikh Rukunuddin, berangka tahun 48 H (672 M), aksara kaligrafi Arab
Situs Terkait Kompleks Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi (Syaikh Mahmud), Situs Lobu Tua
Status Nasional Ditetapkan resmi sebagai Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara (2017)

Kisah Syaikh Rukunuddin dan bumi Barus menjadi pengingat abadi bahwa Nusantara memiliki jalinan peradaban yang sangat tua dan mulia, terhubung langsung dengan denyut nadi dakwah para perintis Islam sejak masa-masa awal risalah kenabian.

Navigasi Utama