Menu Tutup

Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila. Semboyan ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. ¹

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika adalah prinsip yang mengakui dan menghargai keragaman yang ada di Indonesia, baik dalam hal suku, agama, ras, budaya, bahasa, maupun adat istiadat. Prinsip ini juga menekankan bahwa meskipun berbeda-beda, bangsa Indonesia tetap merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terpecah belah. Prinsip ini sesuai dengan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. ²

Fungsi Bhinneka Tunggal Ika

Fungsi Bhinneka Tunggal Ika adalah untuk:

– Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang beraneka ragam.
– Mendorong rasa toleransi dan saling menghormati antara sesama warga negara Indonesia.
– Membangun semangat nasionalisme dan patriotisme dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.
– Meningkatkan kerjasama dan gotong royong dalam membangun kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.
– Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Makna Bhinneka Tunggal Ika

Makna Bhinneka Tunggal Ika adalah sebagai berikut:

– Bhinneka berarti beragam atau beraneka. Ini menggambarkan kondisi Indonesia yang memiliki banyak keragaman dalam segala aspek kehidupan.
– Tunggal berarti satu. Ini menggambarkan bahwa Indonesia adalah satu negara yang utuh dan tidak terpisah-pisah.
– Ika berarti itu. Ini menggambarkan bahwa Indonesia adalah identitas yang harus dijaga dan dilestarikan oleh seluruh rakyatnya.

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika dimulai dari sebuah puisi Jawa Kuno yang bernama Kakawin Sutasoma, yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14, di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Puisi ini mengajarkan toleransi antara umat Hindu (khususnya Siwa) dan umat Buddha. Salah satu baitnya berbunyi:

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahannya:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?

Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal

Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu.

Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. ³

Kutipan ini kemudian dipopulerkan oleh seorang orientalis Belanda bernama Johan Hendrik Casper Kern pada tahun 1901. Kemudian, kutipan ini dibawa oleh Mohammad Yamin ke sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945. Akhirnya, kutipan ini dijadikan sebagai semboyan negara Indonesia dan dimasukkan ke dalam lambang negara Garuda Pancasila pada tahun 1950. ¹²

Sumber:
(1) Bhinneka Tunggal Ika – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika.
(2) Bhinneka Tunggal Ika – Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika.
(3) Bhineka Tunggal Ika : Prinsip, Fungsi, Makna dan Sejarahnya. https://www.gurupendidikan.co.id/bhineka-tunggal-ika/.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya