Menu Tutup

Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Agresi Militer Belanda 2

Latar Belakang

Agresi militer 2 adalah operasi militer yang dilancarkan oleh Belanda pada 19 Desember 1948 di Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu1. Operasi ini juga dikenal dengan nama Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) karena menggunakan lambang gagak sebagai tanda pengenal2.

Tujuan dari agresi militer 2 adalah untuk menghancurkan status Republik Indonesia sebagai kesatuan negara, menguasai Yogyakarta, dan menangkap para pemimpin pemerintahan Indonesia, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh lainnya1.

Agresi militer 2 merupakan serangan lanjutan setelah sebelumnya terjadi agresi militer 1 pada 21 Juli-5 Agustus 19473. Agresi militer 1 terjadi karena Belanda mengingkari isi Perjanjian Linggarjati yang telah disepakati pada 15 November 19464. Perjanjian ini mengakui kedaulatan Republik Indonesia atas Jawa, Sumatra, dan Madura, serta membentuk Uni Indonesia-Belanda sebagai federasi4.

Namun, Belanda tidak puas dengan hasil perjanjian tersebut dan berusaha memperluas wilayahnya di Indonesia dengan membentuk negara-negara boneka yang disebut Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Pasundan5. Belanda juga melakukan blokade ekonomi dan politik terhadap Republik Indonesia5.

Untuk menyelesaikan konflik ini, PBB membentuk Komite Tiga Negara (KTN) yang beranggotakan Australia, Belgia, dan Amerika Serikat pada Oktober 1947. KTN menginisiasi perundingan antara Indonesia dan Belanda di atas kapal USS Renville yang bersandar di Tanjung Priok pada 8 Desember 1947.

Perundingan Renville berakhir dengan penandatanganan kesepakatan pada 19 Januari 1948. Kesepakatan ini mengatur tentang gencatan senjata, pembentukan Komisi Konsultatif Federal (KKF) untuk membahas masalah federalisme, dan penarikan pasukan dari daerah-daerah yang disengketakan.

Namun, kesepakatan Renville juga menimbulkan masalah baru. Salah satunya adalah penetapan Garis Van Mook sebagai batas antara wilayah Republik Indonesia dan wilayah Belanda. Garis ini sangat merugikan Indonesia karena mengurangi luas wilayahnya hingga 50% dari sebelumnya.

Selain itu, kesepakatan Renville juga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh Republik Indonesia. Beberapa pihak menolak kesepakatan tersebut karena dianggap mengkhianati semangat revolusi. Pada 23 Februari 1948, terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin oleh Musso dan Amir Sjarifuddin. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh TNI dengan bantuan rakyat pada September 1948.

Belanda sendiri tidak berhenti melakukan provokasi dan intimidasi terhadap Republik Indonesia. Belanda terus memperkuat posisinya di NIT dan Pasundan, serta melakukan serangan-serangan sporadis di daerah-daerah Republik Indonesia. Belanda juga menolak usulan-usulan KTN untuk menyelesaikan masalah federalisme secara damai.

Akhirnya, Belanda memutuskan untuk melancarkan agresi militer kedua dengan alasan bahwa Indonesia telah melanggar isi Perundingan Renville. Belanda merasa bahwa Indonesia tidak bersungguh-sungguh dalam membentuk negara federal dan tidak mau menghormati hak-hak minoritas di dalam negeri.

Kronologi

Agresi militer 2 dimulai pada pukul 05.45 WIB pada 19 Desember 1948, ketika pesawat-pesawat Belanda mulai menjatuhkan bom di sekitar Yogyakarta. Serangan udara ini diikuti oleh serangan darat yang dipimpin oleh Letnan Jenderal S.H. Spoor dan Engels.

Pasukan Belanda terdiri dari sekitar 10.000-130.000 infanteri, 23 Douglas DC-3, dan beberapa pesawat tempur dan pengebom. Pasukan Belanda dibagi menjadi beberapa kelompok yang menyerang dari arah barat, utara, timur, dan selatan.

Pasukan Indonesia terdiri dari sekitar 100.000 infanteri dan 3 Mitsubishi Zero. Pasukan Indonesia dipimpin oleh Jenderal Soedirman, Kolonel Djatikoesoemo, Kolonel Abdul Haris Nasution, dan Kolonel Joes Adipermono. Pasukan Indonesia menggunakan strategi pertahanan linier dengan menempatkan pasukan di perbatasan musuh atau garis terdepan.

Serangan Belanda berhasil menembus pertahanan Indonesia dan masuk ke kota Yogyakarta pada pukul 14.00 WIB. Belanda kemudian menguasai istana presiden, markas TNI, stasiun kereta api, bandara Maguwo, dan beberapa tempat penting lainnya.

Belanda juga berhasil menangkap Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Mohammad Roem, dan beberapa tokoh lainnya yang sedang berada di istana presiden. Para tawanan kemudian dibawa ke Prapat, Sumatra Utara, dengan pesawat DC-3.

Namun, Belanda tidak berhasil menangkap Soedirman yang saat itu sedang sakit di rumah sakit. Soedirman berhasil meloloskan diri dengan bantuan dokter dan perawat yang menyamarinya sebagai pasien biasa. Soedirman kemudian melanjutkan perjuangannya dengan melakukan gerilya bersama pasukan TNI.

Selain Soedirman, ada juga beberapa tokoh lain yang berhasil lolos dari penangkapan Belanda, seperti Sutan Sjahrir, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Wikana, Chaerul Saleh, dan Sudisman. Mereka kemudian membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat pada 22 Desember 1948.

PDRI bertugas untuk menggantikan fungsi pemerintahan pusat yang telah ditangkap oleh Belanda. PDRI juga bertugas untuk mengkoordinasikan perlawanan rakyat terhadap Belanda di seluruh wilayah Indonesia. PDRI dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara sebagai presiden sementara.

Dampak

Agresi militer 2 menimbulkan dampak yang besar bagi Indonesia maupun Belanda. Berikut adalah beberapa dampak dari agresi militer 2:

  • Dampak bagi Indonesia:
    • Indonesia kehilangan ibu kota dan para pemimpinnya yang ditangkap oleh Belanda.
    • Indonesia mengalami krisis politik dan ekonomi akibat serangan Belanda.
    • Indonesia mendapat dukungan moral dan materi dari negara-negara sahabat, seperti India, Pakistan, Mesir, Australia, Amerika Serikat, dan Uni Soviet.
    • Indonesia meningkatkan semangat perlawanan rakyat terhadap Belanda dengan melakukan gerilya di berbagai daerah.
    • Indonesia berhasil mempertahankan kedaulatan dan integritas nasionalnya dengan mengalahkan Belanda dalam pertempuran-pertempuran penting, seperti Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Surabaya, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Bandung Lautan Api, dan Pertempuran Semarang.
  • Dampak bagi Belanda:
    • Belanda berhasil menguasai Yogyakarta dan menangkap para pemimpin Indonesia.
    • Belanda mengalami kerugian militer dan finansial akibat perlawanan rakyat Indonesia.
    • Belanda mendapat kecaman internasional dari PBB dan negara-negara lain yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
    • Belanda terpaksa menghentikan agresi militer 2 dan mengembalikan kedaulatan Indonesia setelah menandatangani Perjanjian Roem-Royen pada 7 Mei 1949.
    • Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949 dengan penyerahan kedaulatan di Istana Dam, Amsterdam.

Kesimpulan

Agresi militer 2 adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Agresi militer 2 menunjukkan bahwa Belanda tidak mau menghormati hak-hak bangsa Indonesia untuk merdeka dan berdaulat. Agresi militer 2 juga menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak mau menyerah dan bersedia berjuang sampai titik darah penghabisan.

Agresi militer 2 menghasilkan beberapa dampak yang signifikan bagi Indonesia maupun Belanda. Dampak bagi Indonesia adalah kehilangan ibu kota dan para pemimpinnya, krisis politik dan ekonomi, dukungan internasional, semangat perlawanan rakyat, dan pertahanan kedaulatan dan integritas nasional. Dampak bagi Belanda adalah kerugian militer dan finansial, kecaman internasional, penghentian agresi militer, dan pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Agresi militer 2 merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menghadapi tantangan dan ancaman dari luar. Agresi militer 2 juga merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme yang tinggi. Agresi militer 2 harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Sumber:
(1) Agresi Militer Belanda II – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_II.
(2) Sejarah Agresi Militer Belanda II: Latar Belakang, Tokoh, Dampaknya. https://tirto.id/sejarah-agresi-militer-belanda-ii-latar-belakang-tokoh-dampaknya-f9Vs.
(3) Kronologi Agresi Militer Belanda II – Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2021/10/28/140000279/kronologi-agresi-militer-belanda-ii.
(4) Agresi Militer Belanda 2: Kronologi, Penyebab, Dampak, Akhir. https://www.gurupendidikan.co.id/agresi-militer-belanda-2/.
(5) Penyebab Terjadinya Agresi Militer Belanda II – Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2022/12/19/180000579/penyebab-terjadinya-agresi-militer-belanda-ii.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya