Pemanis makanan adalah zat yang ditambahkan pada makanan atau minuman untuk memberi rasa manis, baik karena mengandung sejenis gula, atau karena mengandung pengganti gula yang berasa manis1. Pemanis makanan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pemanis alami dan pemanis buatan.
Pemanis Alami
Pemanis alami adalah pemanis yang berasal dari sumber alam, seperti tanaman, buah, atau madu. Contoh pemanis alami adalah gula pasir, gula merah, gula aren, gula tebu, sirup jagung, madu, fruktosa, glukosa, maltosa, laktosa, dan sukrosa. Pemanis alami mengandung kalori dan karbohidrat yang dapat memberi energi bagi tubuh. Selain itu, pemanis alami juga mengandung beberapa vitamin, mineral, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Namun, konsumsi pemanis alami secara berlebihan juga dapat menimbulkan dampak negatif, seperti obesitas, diabetes, karies gigi, penyakit jantung, dan gangguan metabolisme. Oleh karena itu, pemanis alami harus dikonsumsi dengan bijak dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Pemanis Buatan
Pemanis buatan adalah pemanis yang dihasilkan melalui proses kimiawi. Jenis pemanis ini dinilai memiliki rasa manis yang lebih tinggi dibandingkan pemanis alami. Pemanis buatan biasanya digunakan sebagai pengganti gula pada produk makanan dan minuman rendah kalori atau bebas gula, seperti permen, sereal, agar-agar, dan minuman ringan. Beberapa pemanis buatan juga tahan terhadap suhu tinggi, sehingga cocok untuk memasak dan membuat kue.
Ada beberapa jenis pemanis buatan yang sering digunakan dalam produk makanan dan minuman, yaitu:
- Aspartam. Aspartam biasa digunakan sebagai pemanis dalam permen karet, sereal sarapan, agar-agar, dan minuman berkarbonasi. Pemanis buatan ini 220 kali lebih manis daripada gula. Kandungan aspartam terdiri dari asam amino, asam aspartat, fenilalanin, dan sedikit etanol2.
- Sakarin. Rasa manis yang dihasilkan sakarin mencapai 300-400 kali lebih kuat daripada gula. Pemakaian sakarin dalam sekali penyajian untuk makanan olahan tidak boleh melebihi 30 mg. Sedangkan untuk minuman, tidak boleh lebih dari 4 mg/10 ml cairan2.
- Sukralosa. Sukralosa dihasilkan dari sukrosa yang memiliki rasa manis 600 kali lebih kuat dibandingkan gula. Bahan ini biasa digunakan pada produk makanan yang dipanggang atau digoreng. Konsumsi harian sukralosa yang ideal adalah sebanyak 5 mg/kg berat badan2.
- Acesulfame potassium. Bahan ini sangat stabil dalam temperatur tinggi dan mudah larut, sehingga sering dipakai dalam banyak produk makanan. Batasan konsumsi harian yang disarankan untuk acesulfame potassium adalah 15 mg/kg berat badan2.
- Neotam. Bahan pemanis buatan ini banyak digunakan pada makanan rendah kalori. Secara kimia, kandungannya hampir sama seperti aspartam, tetapi rasanya 40 kali lebih manis dari aspartam. Dibandingkan dengan gula rafinasi, tingkat kemanisan neotam mencapai 8.000 kali lebih tinggi. Neotam dapat dikonsumsi hingga 18 mg/kg berat badan dalam sehari2.
- Advantame. Pemanis ini 20.000 kali lebih manis daripada gula meja dan cocok untuk memasak dan membuat kue3.
- Garam aspartam-acesulfame. Bahan ini merupakan campuran dari aspartam dan acesulfame potassium yang memiliki rasa manis 350 kali lebih tinggi daripada gula3.
- Stevia. Stevia adalah pemanis alami yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana. Stevia memiliki rasa manis 200-300 kali lebih kuat daripada gula, tetapi tidak mengandung kalori3.
- Monk fruit. Monk fruit adalah pemanis alami yang berasal dari buah Luo Han Guo yang tumbuh di China. Monk fruit memiliki rasa manis 250 kali lebih tinggi daripada gula, tetapi tidak mengandung kalori3.
Pemanis buatan relatif aman untuk dikonsumsi selama tidak melebihi batas asupan per harinya. Meski demikian, ada dugaan bahwa pemanis buatan dapat menimbulkan beberapa efek samping pada sebagian orang. Misalnya, penggunaan sakarin dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memicu kanker.
Selain itu, penggunaan aspartam juga bisa berdampak sebagai reaksi alergi pada sebagian orang ditandai dengan sakit kepala, kesulitan bernapas, ruam kulit, dan diare. Tidak hanya sakarin dan aspartam, pemanis buatan lainnya juga diduga dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti meningkatkan risiko penyakit ginjal, diabetes, dan gigi berlubang. Namun, semua efek samping tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut.
Selain itu, ada kondisi tertentu yang tidak diperbolehkan mengonsumsi pemanis buatan, yaitu fenilketonuria. Kelainan genetik langka tersebut membuat tubuh penderitanya tidak mampu memecah fenilalanin. Zat ini terdapat pada sebagian pemanis buatan, seperti aspartam dan neotam2.
Kesimpulan
Pemanis makanan adalah zat yang ditambahkan pada makanan atau minuman untuk memberi rasa manis. Pemanis makanan dapat dibedakan menjadi pemanis alami dan pemanis buatan. Pemanis alami berasal dari sumber alam, sedangkan pemanis buatan dihasilkan melalui proses kimiawi. Pemanis makanan memiliki manfaat dan bahaya yang berbeda-beda, tergantung pada jenis, jumlah, dan frekuensi konsumsinya. Oleh karena itu, pemanis makanan harus dikonsumsi dengan bijak dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Sumber:
(1) Pemanis – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Pemanis.
(2) Pemanis Buatan, Ketahui Jenis dan Dampaknya bagi Kesehatan. https://www.alodokter.com/ketahui-jenis-pemanis-buatan-dan-dampaknya-bagi-kesehatan.
(3) Mengenal Pemanis Buatan dan 9 Macamnya – Gaya Tempo.co. https://gaya.tempo.co/read/1779692/mengenal-pemanis-buatan-dan-9-macamnya.
(4) 7 Jenis Pemanis Buatan yang Biasa Digunakan di Indonesia – Hello Sehat. https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/jenis-pemanis-buatan/.