Sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa yang tercatat di masa lalu, melainkan sebuah disiplin ilmu yang memerlukan analisis yang mendalam untuk memahami peristiwa tersebut. Dalam proses ini, terdapat tiga konsep berpikir utama yang digunakan untuk menganalisis peristiwa sejarah: diakronik, sinkronik, dan periodesasi. Berikut adalah penjelasan masing-masing konsep:
1. Berpikir Diakronik
Diakronik berasal dari kata “dia” yang berarti “melintas” dan “chronos” yang berarti “waktu.” Berpikir diakronik berarti memahami peristiwa sejarah dalam konteks waktu, menelusuri suatu peristiwa dari awal hingga akhir, dengan memerhatikan hubungan sebab-akibat antara berbagai kejadian.
Konsep ini menekankan pada urutan peristiwa secara kronologis. Dalam sejarah, berpikir diakronik bertujuan untuk melihat bagaimana suatu peristiwa berkembang dari waktu ke waktu. Misalnya, dalam memahami proklamasi kemerdekaan Indonesia, kita harus melihat peristiwa yang terjadi sebelumnya, seperti pergerakan nasional, invasi Jepang, dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Keunggulan berpikir diakronik adalah membantu kita memahami bagaimana perubahan terjadi seiring waktu dan memberikan gambaran yang lengkap mengenai perkembangan peristiwa tersebut.
2. Berpikir Sinkronik
Berbeda dengan diakronik, sinkronik fokus pada analisis peristiwa pada suatu masa tertentu, tanpa melihat perkembangan yang terjadi sebelum atau sesudah peristiwa itu. Kata “sinkronik” sendiri berasal dari “syn” yang berarti “bersama” dan “chronos” yang berarti “waktu.” Ini berarti peristiwa sejarah dianalisis berdasarkan kondisi yang terjadi di sekitar masa tersebut, mencakup aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
Berpikir sinkronik sering digunakan untuk menganalisis peristiwa secara mendalam dalam ruang lingkup yang lebih sempit, namun lebih fokus. Contohnya, dalam menganalisis pelaksanaan Demokrasi Terpimpin di Indonesia, kita fokus pada peristiwa dalam satu periode tertentu, tanpa mengaitkan dengan peristiwa sebelumnya atau sesudahnya.
Pendekatan ini sering digunakan dalam ilmu sosial karena memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang struktur sosial, ekonomi, atau budaya yang mempengaruhi peristiwa pada waktu tertentu.
3. Berpikir Periodesasi
Periodesasi adalah konsep berpikir yang membagi sejarah ke dalam beberapa periode atau babak waktu. Tujuannya adalah untuk menyederhanakan dan mempermudah analisis sejarah. Setiap periode sejarah biasanya ditandai oleh perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, budaya, atau teknologi.
Sebagai contoh, sejarah Indonesia sering dibagi ke dalam periode prasejarah, zaman kerajaan Hindu-Buddha, zaman Islam, masa kolonial, dan zaman kemerdekaan. Periodesasi membantu kita memahami sejarah dalam blok-blok waktu yang lebih mudah dipahami, sehingga kita bisa melihat perkembangan dari satu periode ke periode lain secara lebih jelas.