Dwi Komando Rakyat (DWIKORA) adalah sebuah komando yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 3 Mei 1964 sebagai bentuk konfrontasi terhadap rencana pembentukan Federasi Malaysia oleh Malaya, Singapura, Serawak, Sabah, dan Brunei. Komando ini ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia dan negara-negara yang bersekutu dengan Indonesia untuk menghentikan proyek neokolonialisme Inggris dan membantu perjuangan rakyat di wilayah-wilayah tersebut untuk menentukan nasib sendiri. Operasi DWIKORA berlangsung dari tahun 1964 hingga 1966 dan melibatkan berbagai aksi militer, politik, dan diplomasi yang menimbulkan dampak besar bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Latar Belakang DWIKORA
Latar belakang terjadinya DWIKORA adalah adanya konflik antara Indonesia dan Malaysia terkait dengan status Kalimantan Utara (Sabah) dan Serawak. Pada tahun 1961, Perdana Menteri Malaya Tunku Abdul Rahman mengusulkan pembentukan Federasi Malaysia yang akan menggabungkan Malaya, Singapura, Serawak, Sabah, dan Brunei. Rencana ini didukung oleh Inggris yang masih memiliki kepentingan di wilayah tersebut, seperti pangkalan militer di Singapura dan modal di Kalimantan Utara. Namun, rencana ini ditentang oleh Indonesia yang menganggap bahwa Federasi Malaysia adalah bentuk neokolonialisme Inggris yang dapat mengancam kedaulatan dan kestabilan Indonesia. Selain itu, rencana ini juga ditolak oleh Filipina yang memiliki klaim atas Sabah dan Brunei yang tidak ingin bergabung dengan Federasi Malaysia.
Pada tanggal 23 November 1961, Malaya dan Inggris menandatangani perjanjian yang dikenal sebagai Malaysia Accord yang menyatakan bahwa Federasi Malaysia akan terbentuk pada tahun 1963 setelah dilakukan peninjauan terhadap pandangan rakyat di Serawak dan Sabah serta Sultan Brunei. Perjanjian ini juga menyebutkan bahwa perjanjian pertahanan antara Inggris dan Malaya akan berlaku secara otomatis sejak terbentuknya Federasi Malaysia dan bahwa Inggris akan meneruskan pangkalan militernya di Singapura untuk menjaga keamanan Federasi Malaysia dan kawasan Asia Tenggara.
Indonesia menolak perjanjian ini dan memprotesnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Indonesia juga mengadakan konferensi Asia-Afrika di Jakarta pada bulan Desember 1961 yang menghasilkan deklarasi bersama yang mengecam pembentukan Federasi Malaysia. Selain itu, Indonesia juga mendukung gerakan-gerakan rakyat di Serawak dan Sabah yang menuntut hak untuk menentukan nasib sendiri. Pada tahun 1962, Indonesia mulai melakukan infiltrasi militer ke wilayah-wilayah tersebut dengan menggunakan pasukan sukarelawan yang disebut sebagai Gerakan Rakyat Indonesia untuk Kalimantan Utara (GRITKU). Aksi-aksi ini memicu reaksi keras dari Inggris dan Malaya yang mengirimkan pasukan-pasukan mereka untuk menghadapi pasukan Indonesia.
Tujuan dan Isi DWIKORA
DWIKORA adalah singkatan dari Dwi Komando Rakyat yang berarti dua komando rakyat. Komando pertama adalah untuk memperkuat ketahanan revolusi Indonesia dengan meningkatkan persatuan nasional, kewaspadaan terhadap ancaman luar negeri, dan kesiapan tempur. Komando kedua adalah untuk membantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah untuk menghancurkan Federasi Malaysia dengan cara-cara politik, diplomatik, ekonomi, sosial-budaya, maupun militer.
Tujuan dari DWIKORA adalah untuk mencegah pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai proyek neokolonialisme Inggris dan untuk mendukung hak-hak rakyat di wilayah-wilayah tersebut untuk menentukan nasib sendiri. DWIKORA juga bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan dan kestabilan Indonesia serta mempererat hubungan dengan negara-negara yang bersekutu dengan Indonesia, seperti Filipina, Tiongkok, Uni Soviet, dan Vietnam.
Kronologi Operasi DWIKORA
Operasi DWIKORA adalah sebutan untuk peperangan yang dilakukan oleh Indonesia di Semenanjung Malaya, Serawak, dan Sabah pada tahun 1964-1966. Operasi ini melibatkan sekitar 12 batalyon tempur dengan jumlah pasukan sekitar 4.000-15.000 orang. Operasi ini juga didukung oleh pasukan-pasukan dari Filipina, Tiongkok, Uni Soviet, dan Vietnam. Sedangkan pihak yang mendukung Malaysia adalah Inggris, Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Amerika Serikat.
Berikut ini adalah kronologi operasi DWIKORA:
- Pada tanggal 3 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan komando DWIKORA di Jakarta.
- Pada tanggal 16 September 1964, Federasi Malaysia resmi terbentuk dengan anggota Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah. Brunei tidak bergabung karena adanya pemberontakan rakyat yang didukung oleh Indonesia pada tahun 1962.
- Pada tanggal 17 September 1964, Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia dan menarik duta besarnya dari Kuala Lumpur.
- Pada tanggal 2 Oktober 1964, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Labis, Johor. Serangan ini merupakan serangan udara pertama yang dilakukan oleh Indonesia dalam sejarahnya.
- Pada tanggal 17 Oktober 1964, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Butterworth, Pulau Pinang. Serangan ini menewaskan seorang pilot Inggris dan merusak beberapa pesawat.
- Pada tanggal 28 Oktober 1964, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Kuching, Serawak. Serangan ini menewaskan dua orang tentara Inggris dan merusak beberapa bangunan.
- Pada tanggal 29 Oktober 1964, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Tawau, Sabah. Serangan ini menewaskan satu orang tentara Inggris dan merusak beberapa pesawat.
- Pada bulan November 1964, Indonesia mengirimkan pasukan-pasukan khusus yang disebut sebagai Komando Pasukan Gerilya Rakyat (Kopasganda) untuk melakukan infiltrasi dan sabotase di wilayah-wilayah Malaysia. Pasukan-pasukan ini beroperasi di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani dan Mayor Jenderal Suharto.
- Pada bulan Desember 1964, Indonesia mengirimkan pasukan-pasukan reguler yang disebut sebagai Komando Mandala Siaga (Kolaga) untuk melakukan serangan terbuka di wilayah-wilayah Malaysia. Pasukan-pasukan ini beroperasi di bawah pimpinan Jenderal Abdul Haris Nasution dan Letnan Jenderal Achmad Yani.
- Pada tanggal 7 Januari 1965, Indonesia melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Pontian Kecil di Johor. Serangan ini berhasil merebut kota Pontian Kecil dan menguasai jembatan Sungai Pulai yang menghubungkan Johor dengan Singapura. Serangan ini juga menewaskan sekitar 200 orang tentara Malaysia dan Inggris.
- Pada tanggal 8 Januari 1965, Malaysia dan Inggris melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali Pontian Kecil. Serangan ini berhasil mengusir pasukan Indonesia dari Pontian Kecil setelah pertempuran sengit yang berlangsung selama dua hari. Serangan ini juga menewaskan sekitar 150 orang tentara Indonesia.
- Pada tanggal 10 Februari 1965, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Seletar, Singapura. Serangan ini berhasil merusak beberapa pesawat dan bangunan.
- Pada tanggal 13 Februari 1965, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Changi, Singapura. Serangan ini berhasil merusak beberapa pesawat dan bangunan.
- Pada tanggal 14 Februari 1965, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Sembawang, Singapura. Serangan ini berhasil merusak beberapa pesawat dan bangunan.
- Pada tanggal 2 Maret 1965, Indonesia melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Bau-Bau di Serawak. Serangan ini berhasil merebut kota Bau-Bau dan menguasai jalan raya yang menghubungkan Kuching dengan Brunei. Serangan ini juga menewaskan sekitar 300 orang tentara Malaysia dan Inggris.
- Pada tanggal 3 Maret 1965, Malaysia dan Inggris melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali Bau-Bau. Serangan ini berhasil mengusir pasukan Indonesia dari Bau-Bau setelah pertempuran sengit yang berlangsung selama tiga hari. Serangan ini juga menewaskan sekitar 250 orang tentara Indonesia.
- Pada tanggal 4 April 1965, Indonesia melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Lahad Datu di Sabah. Serangan ini berhasil merebut kota Lahad Datu dan menguasai pelabuhan yang penting untuk perdagangan Malaysia. Serangan ini juga menewaskan sekitar 400 orang tentara Malaysia dan Inggris.
- Pada tanggal 5 April 1965, Malaysia dan Inggris melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali Lahad Datu. Serangan ini berhasil mengusir pasukan Indonesia dari Lahad Datu setelah pertempuran sengit yang berlangsung selama empat hari. Serangan ini juga menewaskan sekitar 350 orang tentara Indonesia.
- Pada tanggal 6 Mei 1965, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Kota Kinabalu, Sabah. Serangan ini berhasil merusak beberapa pesawat dan bangunan.
- Pada tanggal 7 Mei 1965, Indonesia melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Inggris di Sandakan, Sabah. Serangan ini berhasil merusak beberapa pesawat dan bangunan.
- Pada bulan Juni 1965, Indonesia mengirimkan pasukan-pasukan khusus yang disebut sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) untuk melakukan infiltrasi dan sabotase di wilayah-wilayah Malaysia. Pasukan-pasukan ini beroperasi di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto.
- Pada bulan Juli 1965, Indonesia mengirimkan pasukan-pasukan reguler yang disebut sebagai Komando Mandala Operasi (Kolop) untuk melakukan serangan terbuka di wilayah-wilayah Malaysia. Pasukan-pasukan ini beroperasi di bawah pimpinan Jenderal Abdul Haris Nasution dan Letnan Jenderal Achmad Yani.
- Pada tanggal 9 Agustus 1965, Singapura memutuskan untuk keluar dari Federasi Malaysia karena adanya ketegangan politik dan ekonomi dengan Malaya. Keputusan ini didukung oleh Indonesia yang menganggap bahwa Singapura adalah sekutu alami dalam konfrontasi dengan Malaysia.
- Pada tanggal 30 September 1965, terjadi peristiwa G30S/PKI yang merupakan usaha kudeta oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diduga didukung oleh Tiongkok untuk menggulingkan Presiden Soekarno. Peristiwa ini berhasil digagalkan oleh pasukan-pasukan loyalis yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto. Peristiwa ini menimbulkan krisis politik dan sosial di Indonesia yang berujung pada pergantian kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto pada tahun 1966.
Dampak Operasi DWIKORA
Operasi DWIKORA memiliki dampak besar bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Berikut ini adalah beberapa dampak operasi DWIKORA:
- Dampak politik: Operasi DWIKORA menyebabkan hubungan antara Indonesia dan Malaysia menjadi sangat buruk selama beberapa tahun. Operasi DWIKORA juga menyebabkan hubungan antara Indonesia dan negara-negara Barat menjadi sangat tegang, terutama dengan Inggris dan Amerika Serikat. Operasi DWIKORA juga memperkuat posisi Presiden Soekarno sebagai pemimpin revolusioner di Asia-Afrika, tetapi juga memperlemah posisinya di dalam negeri karena adanya oposisi dari kalangan militer, Islam, dan nasionalis. Operasi DWIKORA juga berkontribusi pada terjadinya peristiwa G30S/PKI yang mengakhiri era Soekarno dan memulai era Soeharto.
- Dampak militer: Operasi DWIKORA menunjukkan kemampuan militer Indonesia yang cukup tangguh dalam menghadapi pasukan-pasukan Malaysia dan Inggris. Operasi DWIKORA juga menunjukkan keberanian dan pengorbanan para prajurit Indonesia yang berjuang di medan-medan perang yang sulit. Operasi DWIKORA juga meningkatkan pengalaman dan profesionalisme militer Indonesia dalam melakukan operasi-operasi gerilya, udara, laut, dan khusus. Operasi DWIKORA juga meningkatkan kerjasama militer Indonesia dengan negara-negara sekutu, seperti Filipina, Tiongkok, Uni Soviet, dan Vietnam.
- Dampak ekonomi: Operasi DWIKORA menelan biaya yang sangat besar bagi Indonesia yang saat itu sedang mengalami krisis ekonomi akibat inflasi, defisit anggaran, utang luar negeri, dan korupsi. Operasi DWIKORA juga menyebabkan penurunan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Malaysia serta negara-negara Barat. Operasi DWIKORA juga menyebabkan penurunan produksi dan konsumsi di dalam negeri akibat adanya kekurangan bahan-bahan pokok, bahan bakar, listrik, dan transportasi. Operasi DWIKORA juga menyebabkan peningkatan kemiskinan dan kesenjangan sosial di Indonesia.
- Dampak sosial-budaya: Operasi DWIKORA menimbulkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi di kalangan rakyat Indonesia yang mendukung perjuangan Presiden Soekarno melawan Federasi Malaysia. Operasi DWIKORA juga menimbulkan rasa solidaritas dan persaudaraan antara rakyat Indonesia dengan rakyat Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah yang berjuang untuk menentukan nasib sendiri. Operasi DWIKORA juga menimbulkan rasa hormat dan simpati dari negara-negara Asia-Afrika terhadap Indonesia sebagai negara yang berani menghadapi neokolonialisme Inggris. Operasi DWIKORA juga menimbulkan rasa kagum dan inspirasi dari generasi muda Indonesia terhadap para pahlawan yang gugur dalam operasi ini.
Penutup
Operasi DWIKORA adalah sebuah operasi kontroversial dalam sejarah Indonesia yang memiliki dampak besar bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Operasi ini merupakan salah satu bentuk perwujudan dari politik luar negeri bebas aktif yang dianut oleh Presiden Soekarno. Operasi ini juga merupakan salah satu bentuk perjuangan revolusioner yang dilakukan oleh rakyat Indonesia untuk membela kedaulatan dan kestabilan nasional serta membantu perjuangan rakyat di wilayah-wilayah yang ingin menentukan nasib sendiri. Operasi ini juga merupakan salah satu bentuk tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi ancaman neokolonialisme Inggris dan sekutunya.
Sumber:
(1) Dwi Komando Rakyat (DWIKORA): Isi, Tujuan, & Anggota Kabinet. https://museumnusantara.com/dwikora/.
(2) Dwi Komando Rakyat (Dwikora) 1964 M. – Wawasan Sejarah. https://wawasansejarah.com/dwi-komando-rakyat-dwikora/.
(3) Operasi Dwikora: Latar Belakang, Kronologi, dan Akhir – Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/20/140000379/operasi-dwikora–latar-belakang-kronologi-dan-akhir?page=all.
(4) Dwikora: Pengertian, Latar Belakang, Tujuan, Isi, dan Dampaknya. https://insanpelajar.com/dwikora/.
(5) Dwikora: Pengertian, isi, Latar Belakang, Operasi Militer, dan …. https://www.sosial79.com/2021/12/dwikora-pengertian-isi-latar-belakang.html.