Menu Tutup

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya: Dominasi Maritim dan Pusat Agama Buddha

Kerajaan Sriwijaya, yang berdiri pada abad ke-7 Masehi, mencapai puncak kejayaannya antara abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Pada masa ini, Sriwijaya berkembang menjadi kekuatan maritim dominan di Asia Tenggara, menguasai jalur perdagangan utama dan menjadi pusat penyebaran agama Buddha.

Ekspansi Wilayah dan Dominasi Maritim

Di bawah kepemimpinan Raja Balaputradewa pada abad ke-9, Sriwijaya memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup Sumatera, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan sebagian Jawa. Penguasaan atas Selat Malaka dan Selat Sunda memungkinkan Sriwijaya mengontrol jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, menjadikannya pusat perdagangan internasional yang vital.

Pusat Pembelajaran dan Penyebaran Agama Buddha

Selain sebagai pusat perdagangan, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha. Banyak biksu dan cendekiawan dari berbagai negara datang untuk belajar dan mengajar di Sriwijaya. Seorang biksu Tiongkok, I-Tsing, mencatat bahwa ia tinggal di Sriwijaya selama enam bulan pada tahun 671 M untuk mempelajari bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.

Kemajuan Ekonomi dan Kebudayaan

Kemakmuran ekonomi Sriwijaya didukung oleh perdagangan komoditas seperti emas, timah, rempah-rempah, dan hasil hutan. Kekayaan ini memungkinkan kerajaan membangun infrastruktur dan mendukung perkembangan seni serta budaya. Sriwijaya juga menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, termasuk Dinasti Tang di Tiongkok dan kerajaan-kerajaan di India, yang memperkuat posisinya sebagai kekuatan regional.

Faktor-faktor Pendukung Kejayaan

Beberapa faktor yang mendukung masa kejayaan Sriwijaya antara lain:

  • Letak Geografis Strategis: Terletak di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, Sriwijaya mampu mengontrol dan memanfaatkan arus perdagangan internasional.
  • Kekuatan Maritim: Dengan armada laut yang kuat, Sriwijaya dapat mengamankan perairannya dari ancaman perompak dan pesaing, memastikan kelancaran perdagangan.
  • Hubungan Diplomatik: Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan, termasuk Tiongkok dan India, yang memperkuat posisinya dalam perdagangan dan politik regional.

Akhir Masa Kejayaan

Meskipun mencapai puncak kejayaan pada abad ke-9, Sriwijaya mulai mengalami kemunduran pada abad ke-11 akibat serangan dari Kerajaan Chola di India Selatan. Serangan ini melemahkan kontrol Sriwijaya atas jalur perdagangan dan wilayah kekuasaannya, yang akhirnya berkontribusi pada keruntuhan kerajaan ini.

Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya menandai periode penting dalam sejarah Asia Tenggara, di mana kerajaan ini berperan sebagai pusat perdagangan, pembelajaran, dan penyebaran agama Buddha yang berpengaruh luas.

Posted in Sejarah

Artikel Lainnya