Kesultanan Demak, sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, memiliki sejarah yang tak terpisahkan dari Majapahit. Serangan yang dilancarkan Demak terhadap Majapahit menandai peralihan kekuasaan besar di tanah Jawa. Serangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik politik, ideologi, maupun ambisi untuk membangun kejayaan baru. Artikel ini akan mengulas beberapa alasan utama yang melatarbelakangi serangan tersebut.
1. Konflik Internal dan Perebutan Takhta di Majapahit
Sejarah mencatat bahwa Majapahit mengalami kemunduran signifikan setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Kedua tokoh ini adalah pilar kekuatan Majapahit, dan setelah kepergian mereka, terjadi konflik internal yang melemahkan stabilitas kerajaan. Perang Paregreg yang melibatkan keluarga kerajaan menyebabkan kekuatan Majapahit semakin terpecah. Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak yang diyakini sebagai keturunan Raja Brawijaya V, merasa berhak atas takhta Majapahit. Ketika Majapahit mengalami kudeta, Raden Patah melihatnya sebagai kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan yang dianggapnya merupakan warisan keluarganya.
2. Penyebaran Islam di Jawa
Salah satu tujuan utama Kesultanan Demak adalah menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Sementara itu, Majapahit masih menganut kepercayaan Hindu-Buddha, yang menciptakan perbedaan ideologi yang tajam antara kedua kerajaan ini. Dalam pandangan Raden Patah dan para pengikutnya, penaklukan Majapahit adalah bagian dari misi penyebaran agama Islam yang mereka anut. Dengan menaklukkan Majapahit, Demak berharap dapat mengislamkan masyarakat Jawa secara lebih luas dan memperkokoh posisi Islam di Nusantara.
3. Melemahnya Kekuatan Militer dan Ekonomi Majapahit
Majapahit mengalami kemunduran dalam berbagai aspek, termasuk militer dan ekonomi. Konflik internal yang berkepanjangan menguras sumber daya kerajaan, sehingga wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Majapahit mulai mencari perlindungan dan aliansi dengan kerajaan lain. Demak memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas pengaruhnya, terutama dengan melihat peluang bahwa Majapahit tidak lagi memiliki kekuatan militer yang signifikan untuk mempertahankan diri dari ancaman eksternal.
4. Aliansi Majapahit dengan Portugis di Malaka
Pada masa itu, Majapahit diketahui menjalin hubungan dengan Portugis yang telah menguasai Malaka. Aliansi ini dianggap sebagai ancaman oleh Kesultanan Demak, karena Portugis merupakan kekuatan asing yang juga memiliki ambisi tersendiri di wilayah Nusantara. Dalam upaya menentang pengaruh Portugis, Demak, di bawah pimpinan Adipati Yunus atau Pati Unus, melancarkan serangan ke Malaka pada tahun 1513. Serangan ini kemudian diikuti dengan tindakan tegas untuk menaklukkan Majapahit, agar Demak tidak hanya dapat mengakhiri pengaruh Portugis, tetapi juga memperkokoh posisinya di tanah Jawa.
5. Ambisi Demak untuk Melanjutkan Kejayaan Majapahit
Sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak bercita-cita menjadi penerus dari kejayaan Majapahit. Raden Patah, sebagai keturunan Majapahit, merasa memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan kemakmuran dan kekuasaan di wilayah Jawa. Dengan penaklukan Majapahit, Demak berharap dapat menjadi kerajaan yang dihormati dan diakui sebagai penguasa yang sah di Nusantara.
Kesimpulan
Penyerangan Demak terhadap Majapahit adalah peristiwa penting dalam sejarah Nusantara yang mencerminkan dinamika kompleks antara politik, ideologi, dan kekuasaan. Faktor-faktor seperti perebutan takhta, penyebaran Islam, melemahnya kekuatan Majapahit, dan ambisi untuk membangun kejayaan baru menjadi alasan utama yang mendorong Kesultanan Demak untuk menyerang Majapahit.