Menu Tutup

Hubungan Ternate dan Portugis: Dari Kerja Sama hingga Konflik

Pada awal abad ke-16, Kepulauan Maluku, khususnya Ternate, menjadi pusat perhatian bangsa Eropa karena kekayaan rempah-rempahnya. Kedatangan Portugis ke Ternate menandai awal interaksi antara dunia Barat dan Nusantara, yang awalnya diwarnai oleh kerja sama namun kemudian berkembang menjadi konflik.

Kedatangan Portugis di Ternate

Setelah berhasil menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis melanjutkan ekspedisi mereka ke timur untuk mencari sumber rempah-rempah langsung. Pada tahun 1512, di bawah pimpinan Antonio de Abreu, armada Portugis tiba di Ternate dan disambut baik oleh Sultan Bayanullah. Sultan melihat kehadiran Portugis sebagai peluang untuk memperkuat posisinya melawan saingan tradisionalnya, Kesultanan Tidore. Sebagai bagian dari kerja sama ini, Sultan Bayanullah berjanji akan menyediakan cengkih bagi Portugis setiap tahun, dengan syarat dibangunnya sebuah benteng di Pulau Ternate.

Kerja Sama Awal dan Pembangunan Benteng

Pada tahun 1522, Portugis mulai membangun benteng pertama mereka di Ternate, yang dikenal sebagai Benteng São João Baptista de Ternate atau Benteng Kastela. Benteng ini selesai pada 15 Februari 1523 dan berfungsi sebagai pusat perdagangan serta basis militer Portugis di wilayah tersebut. Kerja sama ini awalnya menguntungkan kedua belah pihak; Portugis mendapatkan akses langsung ke sumber rempah-rempah, sementara Ternate memperoleh sekutu kuat dalam persaingannya dengan Tidore.

Munculnya Ketegangan dan Konflik

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Ternate dan Portugis mulai memburuk. Portugis berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah dan campur tangan dalam urusan internal Kesultanan Ternate. Tindakan sewenang-wenang Portugis, termasuk upaya penyebaran agama Kristen secara paksa, menimbulkan ketidakpuasan di kalangan rakyat Ternate.

Puncak ketegangan terjadi pada tahun 1570 ketika Sultan Khairun dibunuh secara licik oleh Portugis saat menghadiri undangan perundingan di benteng mereka. Pembunuhan ini memicu kemarahan besar di kalangan rakyat Ternate dan memicu perlawanan yang dipimpin oleh putra Sultan Khairun, Sultan Baabullah.

Perlawanan Sultan Baabullah dan Pengusiran Portugis

Setelah kematian ayahnya, Sultan Baabullah memimpin perlawanan sengit terhadap Portugis. Selama lima tahun, pasukan Ternate mengepung benteng Portugis di Ternate, memutus suplai dan komunikasi mereka. Akhirnya, pada tahun 1575, Portugis menyerah dan meninggalkan Ternate. Kemenangan ini menandai berakhirnya dominasi Portugis di Maluku dan memperkuat posisi Kesultanan Ternate sebagai kekuatan utama di wilayah tersebut.

Dampak Hubungan Ternate dan Portugis

Pengalaman interaksi dengan Portugis memberikan pelajaran berharga bagi Kesultanan Ternate tentang diplomasi dan strategi militer. Kemenangan Sultan Baabullah tidak hanya mengusir Portugis dari Ternate tetapi juga memperluas pengaruh kesultanan hingga ke wilayah-wilayah lain di Nusantara. Selain itu, peristiwa ini menunjukkan pentingnya persatuan dan perlawanan terhadap penjajahan asing, yang menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia di masa mendatang.

Hubungan antara Ternate dan Portugis mencerminkan dinamika kompleks antara kekuatan lokal dan kolonial pada masa itu. Dari kerja sama yang saling menguntungkan hingga konflik berdarah, sejarah ini menjadi bagian penting dari perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam menghadapi dan mengatasi tantangan dari luar.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya