Latar Belakang Reformasi Gereja
Reformasi gereja dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:
- Penyimpangan Gereja Katolik. Gereja Katolik pada masa itu memiliki kekuasaan yang sangat besar, baik sebagai otoritas agama maupun politik. Namun, banyak penyimpangan yang dilakukan oleh para pejabat gereja, seperti penjualan indulgensi (surat pengampunan dosa), penyalahgunaan kekayaan dan jabatan, penyimpangan sakramen suci, dan praktik korupsi.
- Perkembangan Paham Humanis. Pada abad ke-15 dan ke-16, muncul gerakan intelektual yang disebut humanisme, yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan, rasionalitas, dan individualitas. Para humanis banyak mengkritik ajaran gereja yang dianggap mitos dan takhayul. Mereka juga mendorong penyebaran ilmu pengetahuan dan seni, serta penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa-bahasa lokal.
- Kemajuan Teknologi Cetak. Penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15 memungkinkan pencetakan buku-buku secara massal dan murah. Hal ini memudahkan penyebaran ide-ide baru, termasuk kritik terhadap gereja. Salah satu buku yang dicetak secara luas adalah Alkitab dalam bahasa-bahasa lokal, yang membuat banyak orang dapat membaca dan mempelajari ajaran Kristen secara langsung.
Tokoh-Tokoh Reformasi Gereja
Reformasi gereja dimulai oleh Martin Luther, seorang biarawan dan profesor teologi asal Jerman. Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia memasang 95 dalil di pintu gereja Wittenberg, yang berisi kritik terhadap praktik indulgensi dan otoritas paus. Luther menolak doktrin bahwa keselamatan hanya dapat dicapai melalui perantaraan gereja. Ia mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima oleh iman saja (sola fide), berdasarkan Alkitab saja (sola scriptura), oleh Kristus saja (solus Christus), dan untuk kemuliaan Allah saja (soli Deo gloria).
Luther kemudian dikecam sebagai bidat oleh paus Leo X pada tahun 1520, dan dilarang mengajar oleh kaisar Karl V pada tahun 1521. Namun, Luther mendapat dukungan dari beberapa pangeran Jerman yang membentuk Liga Schmalkalden untuk melindungi dirinya dan pengikutnya. Luther juga menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman dan menyusun Katekismus Besar dan Katekismus Kecil sebagai pedoman ajaran Protestan.
Selain Luther, ada beberapa tokoh lain yang berperan penting dalam reformasi gereja, antara lain:
- Yohanes Calvin. Ia adalah seorang teolog dan reformator asal Prancis yang mengembangkan ajaran Protestan di Jenewa, Swiss. Ia menulis buku Institutio Christianae Religionis (Institusi Agama Kristen) sebagai karya teologi sistematis Protestan. Ia mengajarkan doktrin predestinasi (penentuan nasib manusia oleh Allah sebelum penciptaan), pemilihan kasih (keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang pilihan Allah), dan kedaulatan Allah (kekuasaan mutlak Allah atas segala sesuatu).
- Ulrich Zwingli. Ia adalah seorang imam dan reformator asal Swiss yang memimpin reformasi gereja di Zurich. Ia menolak beberapa praktik Katolik, seperti puasa, ziarah, penyembahan gambar, dan perjamuan kudus sebagai pengorbanan. Ia mengajarkan bahwa perjamuan kudus adalah peringatan akan kematian Kristus, bukan kehadiran nyata tubuh dan darah-Nya.
- Erasmus dari Rotterdam. Ia adalah seorang humanis dan cendekiawan asal Belanda yang mengkritik penyimpangan gereja dalam bukunya Encomium Moriae (Pujian Kebodohan). Ia juga menerjemahkan Alkitab dari bahasa Yunani ke Latin dengan judul Novum Instrumentum (Perjanjian Baru). Ia tidak sepenuhnya bergabung dengan gerakan reformasi, tetapi ia menghargai usaha Luther untuk memperbaiki gereja.
Dampak Reformasi Gereja
Reformasi gereja memiliki dampak yang luas dan mendalam, baik di Eropa maupun di dunia. Berikut adalah beberapa dampaknya:
- Perpecahan Gereja. Reformasi gereja menyebabkan terjadinya skisma atau perpecahan dalam Gereja Katolik. Banyak orang yang meninggalkan Gereja Katolik dan bergabung dengan aliran-aliran Protestan yang berbeda-beda. Gereja Katolik sendiri berusaha untuk melakukan kontra-reformasi atau pembaruan dalam dirinya melalui Konsili Trente (1545-1563), yang menegaskan doktrin-doktrin Katolik dan menolak doktrin-doktrin Protestan.
- Perang Agama. Reformasi gereja juga menimbulkan konflik dan perang antara penganut Katolik dan Protestan di berbagai negara Eropa. Salah satu contoh adalah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648), yang melibatkan sebagian besar negara Eropa dan berakhir dengan Perdamaian Westfalen. Perdamaian ini mengakui adanya keragaman agama di Eropa dan memberikan hak kepada setiap negara untuk menentukan agama resminya.
- Penyebaran Agama Kristen. Reformasi gereja juga mendorong penyebaran agama Kristen ke berbagai belahan dunia melalui misi dan zending. Misi adalah kegiatan penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugal, dan Prancis. Zending adalah kegiatan penyebaran agama Protestan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Di Indonesia, misi dan zending masuk bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa Barat untuk berdagang dan menjajah.
- Perkembangan Budaya. Reformasi gereja juga berpengaruh pada perkembangan budaya di Eropa dan dunia. Salah satu contohnya adalah perkembangan musik gereja, yang menciptakan berbagai genre dan gaya baru, seperti koral, kantata, oratorio, dan himne. Beberapa komponis terkenal yang terinspirasi oleh reformasi gereja adalah Johann Sebastian Bach, George Frideric Handel, Felix Mendelssohn, dan Martin Luther sendiri.
Sumber:
(1) Reformasi Gereja – Sejarah Kelas 11 – Quipper Blog. https://www.quipper.com/id/blog/mapel/sejarah/reformasi-gereja/.
(2) Reformasi Gereja – Pengertian, Tujuan, Tokoh dan Dampak. https://www.freedomsiana.id/reformasi-gereja-pengertian-tujuan-tokoh-dan-dampak/.
(3) Tokoh-Tokoh Reformasi Gereja – Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/06/100000979/tokoh-tokoh-reformasi-gereja.