Menu Tutup

Ciri Kebahasaan Cerita Rakyat: Bahasa, Fantasi, Struktur, dan Ungkapan

Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari lisan atau tradisi masyarakat di suatu daerah. Cerita rakyat biasanya mengandung nilai-nilai moral, budaya, sejarah, atau kearifan lokal yang ingin disampaikan kepada generasi berikutnya. Cerita rakyat memiliki beberapa ciri kebahasaan yang membedakannya dari jenis cerita lain, antara lain:

1. Menggunakan Bahasa Sederhana dan Mudah Dimengerti

Cerita rakyat menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat luas, karena cerita rakyat ditujukan untuk semua kalangan. Bahasa yang digunakan juga sesuai dengan latar belakang sosial budaya masyarakat asal cerita. Misalnya, cerita rakyat dari Jawa menggunakan bahasa Jawa, cerita rakyat dari Sumatera menggunakan bahasa Melayu, dan seterusnya. Bahasa yang digunakan juga tidak terlalu formal atau kaku, melainkan lebih santai dan bersahabat.

2. Menggunakan Unsur-unsur Fantasi dan Khayalan

Cerita rakyat sering menggunakan unsur-unsur fantasi dan khayalan yang tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan kenyataan. Hal ini karena cerita rakyat ingin menarik perhatian pembaca atau pendengar dengan cara menghadirkan tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa yang luar biasa dan menakjubkan. Misalnya, cerita rakyat tentang Sangkuriang yang bisa memindahkan gunung, cerita rakyat tentang Timun Mas yang bisa melawan raksasa dengan sayuran, atau cerita rakyat tentang Malin Kundang yang menjadi batu karena durhaka.

3. Menggunakan Struktur Cerita yang Sama

Cerita rakyat memiliki struktur cerita yang sama, yaitu terdiri dari orientasi, komplikasi, dan resolusi. Orientasi adalah bagian awal cerita yang memperkenalkan tokoh-tokoh, latar tempat dan waktu, serta alur cerita. Komplikasi adalah bagian tengah cerita yang menampilkan konflik atau masalah yang dihadapi oleh tokoh-tokoh. Resolusi adalah bagian akhir cerita yang menampilkan penyelesaian konflik atau masalah tersebut. Struktur cerita ini membantu pembaca atau pendengar untuk mengikuti alur cerita dengan mudah dan mengetahui pesan moral yang ingin disampaikan.

4. Menggunakan Ungkapan-ungkapan Khas

Cerita rakyat juga menggunakan unggkapan-ungkapan khas yang menjadi ciri khas dari cerita tersebut. Ungkapan-ungkapan ini biasanya berupa kata-kata pembuka atau penutup cerita, kata-kata penghubung antara bagian-bagian cerita, atau kata-kata penegasan atau penjelasan. Misalnya, ungkapan “Alkisah pada zaman dahulu kala…” sebagai pembuka cerita, ungkapan “Lalu…” atau “Kemudian…” sebagai penghubung antara bagian-bagian cerita, atau ungkapan “Konon…” atau “Katanya…” sebagai penegasan atau penjelasan.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya