I. Pendahuluan
Pendidikan karakter adalah proses pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral, etika, dan sikap positif pada peserta didik. Pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi akademik, tetapi juga dengan pembinaan kepribadian, budi pekerti, dan akhlak mulia. Pendidikan karakter diharapkan dapat membantu peserta didik menjadi manusia yang berakal, beriman, bertaqwa, berbudi luhur, dan bertanggung jawab.
Pendidikan karakter di Indonesia memiliki latar belakang yang panjang dan kompleks. Sejak masa kemerdekaan hingga saat ini, pendidikan karakter telah mengalami berbagai perubahan dan tantangan dalam konteks sejarah, politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Pendidikan karakter di Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, seperti ideologi negara, agama, budaya lokal, globalisasi, perkembangan teknologi, dan dinamika masyarakat.
Tujuan artikel ini adalah untuk mengkaji bagaimana pendidikan karakter di Indonesia dari berbagai aspek, seperti landasan filosofis, kurikulum, peran guru, tantangan dan hambatan, keberhasilan dan prestasi, serta tantangan masa depan dan upaya perbaikan. Artikel ini juga bertujuan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca yang tertarik dengan topik pendidikan karakter di Indonesia.
II. Landasan Filosofis Pendidikan Karakter di Indonesia
Pendidikan karakter di Indonesia memiliki landasan filosofis yang kuat dan khas. Landasan filosofis tersebut antara lain adalah:
A. Pancasila sebagai dasar nilai-nilai karakter
Pancasila adalah ideologi negara dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila terdiri dari lima sila yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pancasila merupakan sumber inspirasi dan pedoman bagi pendidikan karakter di Indonesia. Nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan sebagai acuan dalam membentuk dan mengembangkan karakter peserta didik yang sesuai dengan cita-cita bangsa.
B. Konsep gotong royong dan kebersamaan dalam budaya Indonesia
Gotong royong adalah salah satu konsep budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Gotong royong adalah sikap saling membantu dan bekerja sama dalam menghadapi kesulitan atau menyelesaikan masalah bersama. Gotong royong menunjukkan nilai-nilai sosial seperti solidaritas, toleransi, kerjasama, kepedulian, dan tanggung jawab. Gotong royong juga merupakan salah satu nilai karakter yang harus ditanamkan dalam pendidikan di Indonesia. Dengan gotong royong, peserta didik dapat belajar untuk hidup harmonis dan saling menghargai dalam keberagaman.
C. Sejarah pendidikan karakter di Indonesia
Pendidikan karakter di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan beragam. Sejak masa pra-kolonial hingga masa kemerdekaan, pendidikan karakter telah dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren, surau, meunasah, dayah, taman siswa, sekolah rakyat. Pendidikan karakter pada masa itu lebih menekankan pada aspek religius dan moral. Pada masa kolonial Belanda hingga Jepang, pendidikan karakter mengalami penindasan dan pengabaian oleh penguasa asing. Pendidikan karakter pada masa itu lebih bersifat politis dan nasionalis. Pada masa orde lama hingga orde baru, pendidikan karakter mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan kondisi sosial, politik, dan ekonomi. Pendidikan karakter pada masa itu lebih menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada masa reformasi hingga saat ini, pendidikan karakter mengalami tantangan dan peluang dalam menghadapi globalisasi dan perkembangan teknologi. Pendidikan karakter pada masa ini lebih menekankan pada aspek integratif, holistik, dan kontekstual.
III. Kurikulum Pendidikan Karakter
Kurikulum adalah rencana dan pedoman yang digunakan oleh lembaga pendidikan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kurikulum memiliki peran penting dalam mendorong pendidikan karakter di Indonesia. Kurikulum dapat menjadi sarana untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan lingkungan sekolah. Kurikulum juga dapat menjadi acuan bagi guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan karakter di Indonesia.
A. Peran kurikulum dalam mendorong pendidikan karakter
Kurikulum memiliki peran strategis dalam mendorong pendidikan karakter di Indonesia. Kurikulum dapat mempengaruhi tujuan, isi, proses, dan evaluasi pendidikan. Kurikulum dapat menentukan apa yang harus dipelajari oleh peserta didik, bagaimana cara belajar yang efektif dan menyenangkan, serta bagaimana cara menilai hasil belajar yang komprehensif. Kurikulum juga dapat mencerminkan visi, misi, dan nilai-nilai yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan. Kurikulum dapat menjadi alat untuk mengkomunikasikan harapan dan standar yang diharapkan oleh masyarakat terhadap pendidikan.
B. Integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum nasional
Pendidikan karakter di Indonesia telah diintegrasikan dalam kurikulum nasional yang berlaku saat ini. Kurikulum nasional adalah kurikulum yang disusun oleh pemerintah pusat dan berlaku secara nasional untuk semua jenjang dan jenis pendidikan. Kurikulum nasional yang berlaku saat ini adalah Kurikulum 2013 (K-13) yang mulai diterapkan sejak tahun 2013. K-13 merupakan kurikulum yang berbasis kompetensi dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
K-13 mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam tiga komponen utama, yaitu: kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD), dan muatan pelajaran. KI adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik secara umum sebagai hasil dari proses pembelajaran. KI terdiri dari empat aspek, yaitu: sikap spiritual (KI-1), sikap sosial (KI-2), pengetahuan (KI-3), dan keterampilan (KI-4). KD adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik secara spesifik sebagai hasil dari proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran. KD terdiri dari empat aspek yang sesuai dengan KI. Muatan pelajaran adalah materi pembelajaran yang disajikan dalam bentuk tema, subtema, atau pokok bahasan pada setiap mata pelajaran.
Nilai-nilai karakter yang diintegrasikan dalam K-13 antara lain adalah: religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
C. Program-program pendidikan karakter di sekolah
Selain mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam kurikulum, pendidikan karakter di Indonesia juga dilakukan melalui berbagai program yang diselenggarakan oleh sekolah. Program-program pendidikan karakter di sekolah antara lain adalah:
- Program Budi Pekerti Luhur (BPL). BPL adalah program yang bertujuan untuk membina dan mengembangkan budi pekerti luhur peserta didik melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif, kreatif, dan inspiratif. BPL meliputi kegiatan seperti upacara bendera, doa bersama, pembiasaan beretika, pengembangan bakat dan minat, pengabdian masyarakat, dan lain-lain.
- Program Pendidikan Anti Korupsi (PAK). PAK adalah program yang bertujuan untuk mencegah dan memberantas korupsi melalui pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai integritas, transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi. PAK meliputi kegiatan seperti sosialisasi anti korupsi, pembelajaran anti korupsi, simulasi anti korupsi, advokasi anti korupsi, dan lain-lain.
- Program Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). PLH adalah program yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan hidup melalui pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai peduli lingkungan, hemat energi, daur ulang sampah, dan konservasi alam. PLH meliputi kegiatan seperti penghijauan sekolah, pengelolaan sampah, hemat air dan listrik, penanaman pohon, dan lain-lain.
- Program Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). PKn adalah program yang bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab melalui pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. PKn meliputi kegiatan seperti pembelajaran PKn, simulasi demokrasi, kunjungan ke lembaga negara, partisipasi dalam organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain.
IV. Peran Guru dalam Pendidikan Karakter
Guru adalah salah satu pihak yang memiliki peran vital dalam pendidikan karakter di Indonesia. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, motivator, fasilitator, inovator, dan teladan bagi peserta didik. Guru memiliki tanggung jawab untuk membentuk dan mengembangkan karakter peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
A. Peran guru sebagai teladan
Peran guru sebagai teladan adalah peran yang paling penting dalam pendidikan karakter. Guru harus menjadi contoh bagi peserta didik dalam hal sikap, perilaku, etika, moralitas, profesionalitas, dan kinerja. Guru harus menunjukkan nilai-nilai karakter yang ingin diajarkan kepada peserta didik melalui tindakan nyata dan konsisten. Guru harus menjadi sumber inspirasi dan panutan bagi peserta didik dalam mencapai cita-cita mereka.
B. Pelatihan guru dalam pendidikan karakter
Pelatihan guru dalam pendidikan karakter adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas guru dalam melaksanakan pendidikan karakter. Pelatihan guru dalam pendidikan karakter dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti: workshop, seminar, lokakarya, studi banding, magang, sertifikasi, dan lain-lain. Pelatihan guru dalam pendidikan karakter bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman yang relevan bagi guru dalam mendesain, menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
C. Pengalaman guru dalam mengajarkan nilai-nilai karakter
Pengalaman guru dalam mengajarkan nilai-nilai karakter adalah salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi pendidikan karakter. Pengalaman guru dalam mengajarkan nilai-nilai karakter dapat diperoleh melalui berbagai sumber, seperti: observasi, refleksi, diskusi, kolaborasi, penelitian, publikasi, dan lain-lain. Pengalaman guru dalam mengajarkan nilai-nilai karakter dapat membantu guru untuk mengidentifikasi, menganalisis, menyelesaikan, dan mengantisipasi berbagai masalah, tantangan, dan peluang yang muncul dalam proses pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
V. Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter di Indonesia tidak lepas dari berbagai tantangan dan hambatan yang harus dihadapi dan diatasi oleh semua pihak yang terlibat dalam pendidikan. Tantangan dan hambatan tersebut antara lain adalah:
A. Kendala dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah
Kendala dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah adalah kendala yang bersifat internal dan berkaitan dengan kondisi sekolah itu sendiri. Kendala tersebut antara lain adalah: kurangnya sumber daya manusia, materi, sarana, prasarana, dan anggaran yang memadai untuk mendukung pendidikan karakter; kurangnya komitmen, kesadaran, dan konsistensi dari kepala sekolah, guru, staf, dan peserta didik dalam melaksanakan pendidikan karakter; kurangnya koordinasi, komunikasi, dan kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan karakter; kurangnya pemahaman, penguasaan, dan penerapan kurikulum pendidikan karakter oleh guru; kurangnya inovasi, kreativitas, dan variasi dalam metode, media, dan evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik; kurangnya pengawasan, monitoring, dan evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.
B. Faktor-faktor budaya dan sosial yang memengaruhi pendidikan karakter
Faktor-faktor budaya dan sosial yang memengaruhi pendidikan karakter adalah faktor-faktor yang bersifat eksternal dan berkaitan dengan kondisi masyarakat di luar sekolah. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah: adanya perbedaan nilai-nilai karakter antara sekolah dan masyarakat; adanya pengaruh negatif dari media massa, internet, dan teknologi informasi terhadap pembentukan karakter peserta didik; adanya fenomena sosial seperti kemiskinan, kekerasan, kriminalitas, narkoba, korupsi, radikalisme, intoleransi, dan lain-lain yang merusak moralitas masyarakat; adanya perubahan paradigma masyarakat yang lebih mengutamakan aspek material daripada aspek spiritual dalam hidup.
C. Peran orang tua dalam mendukung pendidikan karakter
Peran orang tua dalam mendukung pendidikan karakter adalah peran yang sangat penting dan strategis dalam pendidikan. Orang tua adalah orang pertama dan utama yang memberikan pendidikan karakter kepada anak-anak mereka sejak lahir hingga dewasa. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh, bimbingan, dukungan, motivasi, penghargaan, dan koreksi kepada anak-anak mereka dalam hal pembentukan karakter. Orang tua juga harus berkolaborasi dengan sekolah dalam mendukung pendidikan karakter anak-anak mereka.
Namun demikian, peran orang tua dalam mendukung pendidikan karakter seringkali tidak optimal atau bahkan kontraproduktif. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti: kurangnya waktu, perhatian, kasih sayang, komunikasi, dan interaksi antara orang tua dan anak; kurangnya pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai orang tua dalam mendidik karakter anak; adanya konflik, ketidakharmonisan, ketidakkonsistenan, atau ketidaksesuaian antara nilai-nilai karakter yang diajarkan oleh orang tua dan sekolah; adanya tekanan, tuntutan, atau harapan yang tidak realistis dari orang tua terhadap anak; adanya perbedaan latar belakang sosial, budaya, agama, atau etnis antara orang tua dan sekolah.
VI. Keberhasilan dan Prestasi dalam Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter di Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan dan hambatan, tetapi juga menunjukkan keberhasilan dan prestasi yang patut dibanggakan. Keberhasilan dan prestasi tersebut antara lain adalah:
A. Studi kasus sekolah atau lembaga yang sukses dalam pendidikan karakter
Beberapa sekolah atau lembaga di Indonesia telah berhasil menerapkan pendidikan karakter dengan baik dan memberikan dampak positif bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Beberapa contoh sekolah atau lembaga tersebut antara lain adalah:
- Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Pacitan. SMPN 1 Pacitan adalah salah satu sekolah yang mendapat predikat Sekolah Adiwiyata Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2017. Sekolah ini berhasil menerapkan program pendidikan lingkungan hidup yang berbasis pendidikan karakter. Sekolah ini memiliki berbagai kegiatan yang mendukung pendidikan lingkungan hidup, seperti: pengelolaan sampah organik dan anorganik, penghematan air dan listrik, penghijauan sekolah, penanaman pohon buah, pembuatan kompos, pembuatan pupuk organik cair, pembuatan biogas, pembuatan kerajinan dari barang bekas, dan lain-lain. Sekolah ini juga melibatkan peserta didik, guru, staf, orang tua, dan masyarakat dalam program pendidikan lingkungan hidup.
- Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Cibinong. SMAN 1 Cibinong adalah salah satu sekolah yang mendapat predikat Sekolah Unggul Berbasis Karakter dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018. Sekolah ini berhasil menerapkan program pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai Pancasila. Sekolah ini memiliki berbagai kegiatan yang mendukung pendidikan karakter, seperti: upacara bendera setiap hari Senin dengan mengenakan pakaian adat daerah masing-masing siswa, doa bersama setiap hari Jumat dengan mengenakan pakaian sesuai agama masing-masing siswa, pembelajaran PKn dengan menggunakan metode diskusi, simulasi, role play, dan lain-lain, kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dan berkualitas, seperti: pramuka, PMR, Paskibra, Rohis, Rohkris, Palang Merah Remaja (PMR), OSIS, UKS, KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), Olimpiade Sains Nasional (OSN), Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), dan lain-lain.
- Pondok Pesantren Darunnajah. Pondok Pesantren Darunnajah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki visi untuk mencetak kader-kader ulama yang berakhlak mulia dan berwawasan global. Pondok Pesantren Darunnajah memiliki program pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai Islam. Pondok Pesantren Darunnajah memiliki berbagai kegiatan yang mendukung pendidikan karakter, seperti: pembelajaran Al-Quran dan Hadits dengan menggunakan metode tartil dan tajwid, pembelajaran bahasa Arab dan bahasa asing dengan menggunakan metode langsung dan interaktif, pembelajaran ilmu-ilmu keislaman dengan menggunakan metode klasikal dan kontemporer, pembelajaran ilmu-ilmu umum dengan menggunakan metode saintifik dan integratif, kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dan berkualitas, seperti: seni, olahraga, keterampilan, kepemimpinan, kewirausahaan, dan lain-lain.
B. Prestasi dan penghargaan yang telah diterima Indonesia dalam bidang pendidikan karakter
Indonesia juga telah menerima berbagai prestasi dan penghargaan dalam bidang pendidikan karakter baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa prestasi dan penghargaan tersebut antara lain adalah:
- Penghargaan UNESCO-Japan Prize on Education for Sustainable Development (ESD) pada tahun 2016. Penghargaan ini diberikan kepada Indonesia atas program Sekolah Adiwiyata yang merupakan program pendidikan lingkungan hidup yang berbasis pendidikan karakter. Program ini diakui sebagai salah satu program ESD terbaik di dunia yang berhasil mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan hidup dalam kurikulum, kebijakan, dan praktik sekolah.
- Penghargaan Hamdan Bin Rashid Al-Maktoum Prize for Outstanding Practice and Performance in Enhancing the Effectiveness of Teachers pada tahun 2018. Penghargaan ini diberikan kepada Indonesia atas program Guru Pembelajar yang merupakan program pelatihan guru dalam pendidikan karakter. Program ini diakui sebagai salah satu program pelatihan guru terbaik di dunia yang berhasil meningkatkan kompetensi dan kualitas guru dalam mendesain, menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
- Penghargaan International School Award (ISA) dari British Council pada tahun 2019. Penghargaan ini diberikan kepada Indonesia atas program Sekolah Berbudaya Internasional (SBI) yang merupakan program pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai global. Program ini diakui sebagai salah satu program pendidikan karakter terbaik di dunia yang berhasil membentuk peserta didik menjadi warga dunia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai global.
VII. Tantangan Masa Depan dan Upaya Perbaikan
Pendidikan karakter di Indonesia tidak boleh berhenti atau puas dengan keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai. Pendidikan karakter di Indonesia harus terus beradaptasi dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Pendidikan karakter di Indonesia harus menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan masa depan yang akan muncul. Pendidikan karakter di Indonesia juga harus melakukan berbagai upaya perbaikan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pendidikan karakter.
A. Perkembangan pendidikan karakter di era digital
Era digital adalah era dimana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Era digital memberikan berbagai kemudahan, kecepatan, efisiensi, dan efektivitas dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Era digital juga memberikan berbagai peluang, potensi, dan sumber belajar yang tidak terbatas bagi peserta didik.
Namun demikian, era digital juga memberikan berbagai tantangan dan ancaman bagi pendidikan karakter. Era digital dapat menimbulkan berbagai masalah seperti: ketergantungan, ketagihan, keterasingan, kesenjangan, kecanduan, kekerasan, pornografi, cyberbullying, hoax, radikalisme, dan lain-lain yang dapat merusak karakter peserta didik. Era digital juga dapat menimbulkan berbagai dilema etis seperti: hak cipta, privasi, keamanan, kejujuran, tanggung jawab, dan lain-lain yang membutuhkan penalaran moral yang baik dari peserta didik.
Oleh karena itu, pendidikan karakter di era digital harus mampu memberikan solusi dan alternatif bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan dan ancaman era digital. Pendidikan karakter di era digital harus mampu membekali peserta didik dengan literasi digital yang tinggi. Literasi digital adalah kemampuan untuk mengakses, memahami, menggunakan, menciptakan, dan mengevaluasi informasi secara kritis dan etis dengan menggunakan TIK. Pendidikan karakter di era digital harus mampu membentuk peserta didik menjadi netizen yang cerdas, kritis, kreatif, produktif, positif, dan bertanggung jawab.
B. Upaya pemerintah dan lembaga pendidikan untuk memperbaiki pendidikan karakter
Upaya pemerintah dan lembaga pendidikan untuk memperbaiki pendidikan karakter adalah upaya yang harus dilakukan secara berkelanjutan dan komprehensif untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pendidikan karakter di Indonesia. Upaya tersebut antara lain adalah:
- Meningkatkan peran dan fungsi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pengembangan, pembinaan, dan peningkatan kualitas pendidikan karakter di Indonesia. BPPB harus mampu menyusun, merevisi, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kurikulum pendidikan karakter yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
- Meningkatkan alokasi anggaran dan sumber daya yang memadai untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. Pemerintah harus mampu memberikan bantuan finansial, materi, sarana, prasarana, dan fasilitas yang dibutuhkan oleh sekolah dalam melaksanakan pendidikan karakter. Pemerintah juga harus mampu memberikan insentif, penghargaan, atau apresiasi bagi sekolah yang berhasil dalam pendidikan karakter.
- Meningkatkan kompetensi dan kualitas guru dalam pendidikan karakter. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus mampu memberikan pelatihan, bimbingan, supervisi, sertifikasi, dan pengembangan karir bagi guru dalam pendidikan karakter. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga harus mampu memberikan perlindungan, kesejahteraan, atau kenyamanan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik karakter.
- Meningkatkan partisipasi dan kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan karakter. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus mampu menjalin koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi yang baik dengan pihak-pihak lain yang terlibat dalam pendidikan karakter, seperti: orang tua, masyarakat, media massa, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, organisasi keagamaan, lembaga swasta, lembaga internasional, dan lain-lain. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga harus mampu memberdayakan dan mengakomodasi aspirasi, kontribusi, atau saran dari pihak-pihak tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas dan efektivitas pendidikan karakter.
C. Harapan untuk masa depan pendidikan karakter di Indonesia
Harapan untuk masa depan pendidikan karakter di Indonesia adalah harapan yang harus diwujudkan oleh semua pihak yang terlibat dalam pendidikan. Harapan tersebut antara lain adalah:
- Menciptakan generasi muda Indonesia yang memiliki karakter unggul, berkualitas, berdaya saing, berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Menciptakan masyarakat Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
- Menciptakan Indonesia yang menjadi negara maju, sejahtera, adil, demokratis, berdaulat, mandiri, dan berperan aktif dalam perdamaian dunia.
VIII. Kesimpulan
Pendidikan karakter adalah proses pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral, etika, dan sikap positif pada peserta didik. Pendidikan karakter di Indonesia memiliki landasan filosofis yang kuat dan khas. Pendidikan karakter di Indonesia telah diintegrasikan dalam kurikulum nasional dan dilakukan melalui berbagai program di sekolah. Pendidikan karakter di Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan dan hambatan, tetapi juga menunjukkan keberhasilan dan prestasi. Pendidikan karakter di Indonesia harus terus beradaptasi dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Pendidikan karakter di Indonesia harus melakukan berbagai upaya perbaikan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pendidikan karakter. Pendidikan karakter di Indonesia harus mewujudkan harapan untuk masa depan pendidikan karakter di Indonesia.
IX. Daftar Pustaka
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Buku Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Kemendikbud.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Buku Siswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Kemendikbud.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2017). Pedoman Umum Program Adiwiyata. Jakarta: KLHK.
UNESCO. (2016). UNESCO-Japan Prize on Education for Sustainable Development 2016: Indonesia. Diakses dari [situs web UNESCO] pada tanggal 5 September 2023.
UNESCO. (2018). Hamdan Bin Rashid Al-Maktoum Prize for Outstanding Practice and Performance in Enhancing the Effectiveness of Teachers 2017-2018: Indonesia. Diakses dari [situs web UNESCO] pada tanggal 5 September 2023.
British Council. (2019). International School Award 2019: Indonesia. Diakses dari [situs web British Council] pada tanggal 5 September 2023.
Nurkolis, A., & Muhaimin, A.G. (2017). Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Jurnal Pendidikan Islam, 6(1), 1-24.
Prasetyo, B., & Widiastuti, E. (2018). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Pancasila di SMAN 1 Cibinong Bogor. Jurnal Pendidikan Karakter, 8(2), 131-144.
Setiawan, A., & Suharsono, Y. (2019). Pengembangan Program Budi Pekerti Luhur di SMP Negeri 1 Pacitan. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 6(1), 1-10.
Sugihartono, R.A., & Prasetyo, Z.K. (2017). Literasi Digital sebagai Upaya Membentuk Karakter Positif Peserta Didik di Era Digital. Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan, 6(2), 117-126.