Menu Tutup

Auguste Comte: Bapak Sosiologi dan Pemikir Positivisme

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat, perilaku sosial, dan interaksi antara manusia. Ilmu ini memiliki sejarah dan perkembangan yang panjang dan kompleks, serta dipengaruhi oleh berbagai tokoh dan aliran pemikiran. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah sosiologi adalah Auguste Comte, yang dianggap sebagai bapak sosiologi dan pemikir positivisme. Artikel ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat sosok Auguste Comte, biografi, pemikiran, dan kontribusinya dalam ilmu sosiologi dan masyarakat modern.

Biografi Auguste Comte

Auguste Comte lahir di Montpellier, Perancis, pada 17 Januari 1798. Memiliki nama asli Isidore Marie Auguste Comte, ia berasal dari keluarga bangsawan Katolik. Ia menempuh pendidikan di Ecole Polytechnique dan mengambil jurusan kedokteran di Montpellier. Comte juga berpengalaman memberi les matematika dan menjadi murid sekaligus sekretaris Saint Simon, seorang filsuf sosial yang mempengaruhi pemikirannya1.

Comte memiliki kisah cinta platonik dan tragis dengan Clotilde de Vaux, seorang wanita yang meninggal setahun setelah mereka bertemu. Comte menikah dengan Caroline Massin, tetapi pernikahan mereka tidak bahagia dan berakhir dengan perceraian2. Comte meninggal pada 5 September 1857 di Paris, akibat kanker perut3.

Comte adalah seorang tokoh sosiologi dari Prancis. Ia dijuluki sebagai “Bapak Sosiologi” karena ia adalah orang yang pertama kali memakai istilah sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19 (1856).

Ia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial, sehingga teori yang ia buat banyak digunakan dalam perkembangan sosiologi. Comte adalah penyumbang terbesar untuk membangun sosiologi sebagai suatu ilmu.

Teori-teori yang dikemukakan oleh Auguste Comte banyak dipengaruhi oleh berbagai latar belakang di antaranya adalah:

  • Revolusi Perancis dengan segala aliran pikiran yang berkembang pada masa itu. Comte tidaklah dapat dipahami tanpa latar belakang revolusi Perancis dan juga Restorasi Dinasti Bourbon di Perancis yaitu pada masa timbulnya krisis sosial yang maha hebat di masa itu. Sebagai seorang ahli pikir, Comte berusaha untuk memahami krisis yang sedang terjadi tersebut. Ia berpendapat bahwa manusia tidaklah dapat keluar dari krisis sosial yang terjadi itu tanpa melalui pedoman-pedoman berpikir yang bersifat ilmiah1.
  • Adanya filsafat sosial yang berkembang di Perancis pada abad ke-18. Khususnya filsafat yang dikembangkan oleh para penganut paham encyclopedist ini, terutama dasar-dasar pikirannya, sekalipun kelak ia mengambil posisi tersendiri setelah keluar dari aliran ini1.
  • Aliran reaksioner dari para ahli pikir Teokratis terutama yang bernama De Maistre dan De Bonald. Aliran reaksioner dalam pemikiran Katolik Roma adalah aliran yang menganggap bahwa abad pertengahan kekuasaan gereja sangat besar, adalah periode organik, yaitu suatu periode yang secara paling baik dapat memecahkan berbagai masalah-masalah sosial. Aliran ini menentang pendapat para ahli yang menganggap bahwa abad pertengahan adalah abad di mana terjadinya stagnasi dalam ilmu pengetahuan, karena kekuasaan gereja yang demikian besar di segala lapangan kehidupan1.

Pemikiran Auguste Comte

Auguste Comte mengembangkan konsep-konsep penting yang menjadi landasan pemikirannya, yaitu:

Positivisme, yaitu suatu pandangan filsafat yang menekankan pada penggunaan metode ilmiah dan pengamatan empiris dalam memperoleh pengetahuan. Positivisme menolak spekulasi metafisik dan teologi sebagai sumber pengetahuan yang tidak dapat diverifikasi. Positivisme juga menghargai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.

Sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari fenomena sosial secara holistik, sistematis, dan komparatif. Sosiologi bertujuan untuk menemukan hukum-hukum umum yang mengatur masyarakat dan perilaku sosial, serta menerapkan prinsip-prinsip positivisme dalam kajian sosial. Sosiologi juga berfungsi sebagai alat untuk mereformasi masyarakat sesuai dengan nilai-nilai positivisme.

Hukum tiga tahap (law of three stages), yaitu suatu teori yang menjelaskan perkembangan intelektual manusia dalam tiga tahap, yaitu:

  • Tahap teologis, yaitu tahap di mana manusia menjelaskan fenomena alam dan sosial dengan menggunakan konsep-konsep supernatural, seperti dewa, roh, atau takdir. Tahap ini dibagi lagi menjadi tiga sub-tahap, yaitu fetisisme, politeisme, dan monoteisme.
  • Tahap metafisik, yaitu tahap di mana manusia menjelaskan fenomena alam dan sosial dengan menggunakan konsep-konsep abstrak, seperti esensi, hakikat, atau sebab akhir. Tahap ini merupakan tahap transisi dari tahap teologis ke tahap positif.
  • Tahap positif, yaitu tahap di mana manusia menjelaskan fenomena alam dan sosial dengan menggunakan hukum-hukum ilmiah yang didasarkan pada fakta-fakta yang dapat diamati dan diuji. Tahap ini merupakan tahap akhir dan tertinggi dari perkembangan intelektual manusia.

Klasifikasi ilmu pengetahuan, yaitu suatu sistem yang mengelompokkan ilmu pengetahuan berdasarkan tingkat kesulitan dan kompleksitasnya. Comte membagi ilmu pengetahuan menjadi enam cabang utama, yaitu:

  • Matematika, yaitu ilmu yang paling sederhana dan paling umum, yang mempelajari kuantitas, ukuran, bentuk, dan hubungan antara besaran-besaran.
  • Astronomi, yaitu ilmu yang mempelajari benda-benda langit dan gerakannya.
  • Fisika, yaitu ilmu yang mempelajari fenomena alam yang berhubungan dengan materi, energi, gaya, dan gerak.
  • Kimia, yaitu ilmu yang mempelajari susunan, struktur, sifat, dan perubahan materi pada tingkat atom dan molekul.
  • Biologi, yaitu ilmu yang mempelajari kehidupan dan organisme hidup.
  • Sosiologi, yaitu ilmu yang paling sulit dan paling khusus, yang mempelajari masyarakat dan perilaku sosial.
Posted in Ragam

Artikel Lainnya