Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Islam tidak melarang umatnya untuk berusaha mencari harta dan kesejahteraan di dunia, asalkan tidak melampaui batas dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah SWT dan sesama makhluk. Islam juga tidak memandang rendah orang yang miskin atau memuliakan orang yang kaya semata-mata karena harta yang mereka miliki. Karena sesungguhnya, harta adalah ujian dan amanah dari Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat.
Lantas, siapakah orang kaya menurut Islam? Apakah orang kaya adalah orang yang memiliki banyak harta, mobil, rumah, dan barang mewah lainnya? Ataukah orang kaya adalah orang yang memiliki hati yang bersyukur, qanaah, dan zuhud?
Kekayaan Jiwa
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Kekayaan itu bukan soal keberlimpahan harta benda dunia, melainkan kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.”1
Hadits ini menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukanlah terletak pada jumlah harta yang dimiliki seseorang, melainkan pada kondisi hati dan jiwa yang merasa cukup dengan apa yang Allah SWT berikan. Orang yang kaya jiwa adalah orang yang mensyukuri nikmat Allah SWT, tidak tamak, tidak iri, tidak bakhil, tidak sombong, dan tidak takut kehilangan harta. Orang yang kaya jiwa juga tidak bergantung pada manusia atau harta, melainkan hanya pada Allah SWT. Orang yang kaya jiwa selalu merasa puas dengan apa yang ada, dan tidak mengeluh dengan apa yang tiada.
Kekayaan jiwa adalah kekayaan yang menentramkan hati dan mendamaikan pikiran. Orang yang kaya jiwa tidak mudah terpengaruh oleh godaan dunia atau tipu daya setan. Orang yang kaya jiwa juga tidak mudah tergoda oleh rayuan syahwat atau bisikan nafsu. Orang yang kaya jiwa selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya kepada Allah SWT dan sesama makhluk.
Kekayaan Harta
Sebaliknya, kekayaan harta adalah kekayaan yang bersifat sementara dan fana. Harta bisa bertambah atau berkurang, bisa hilang atau dicuri, bisa rusak atau lapuk. Harta juga bisa menjadi sebab kesombongan, kezaliman, keserakahan, kecintaan dunia, atau kelalaian akhirat. Harta juga bisa menjadi sebab fitnah atau ujian bagi pemiliknya maupun orang lain.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).” (QS Muhammad: 38)2
Ayat ini menegaskan bahwa harta adalah milik Allah SWT, dan manusia hanyalah sebagai pengelola atau penerima titipan. Manusia harus menggunakan harta dengan bijak dan bertanggung jawab sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT. Manusia juga harus menyadari bahwa mereka membutuhkan karunia Allah SWT, bukan sebaliknya. Manusia juga harus siap untuk melepaskan harta jika Allah SWT menghendaki demikian.
Allah SWT juga berfirman dalam Al-Quran:
“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS Al-Mu’minun: 55-56)3
Ayat ini menjelaskan bahwa kekayaan harta atau anak bukanlah ukuran kasih sayang Allah SWT kepada manusia. Bisa jadi, Allah SWT memberikan harta atau anak sebagai ujian atau cobaan bagi manusia, apakah mereka akan bersyukur atau kufur, apakah mereka akan taat atau durhaka, apakah mereka akan beramal shalih atau maksiat. Bisa jadi juga, Allah SWT memberikan harta atau anak sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya atau menjauhkan diri dari-Nya.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orang kaya menurut Islam adalah orang yang memiliki kekayaan jiwa, bukan kekayaan harta. Orang yang kaya jiwa adalah orang yang mensyukuri nikmat Allah SWT, tidak tamak, tidak iri, tidak bakhil, tidak sombong, dan tidak takut kehilangan harta. Orang yang kaya jiwa juga tidak bergantung pada manusia atau harta, melainkan hanya pada Allah SWT. Orang yang kaya jiwa selalu merasa puas dengan apa yang ada, dan tidak mengeluh dengan apa yang tiada.
Orang yang kaya harta belum tentu kaya jiwa. Bisa jadi, orang yang kaya harta justru miskin jiwa. Orang yang miskin jiwa adalah orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah SWT, tamak, iri, bakhil, sombong, dan takut kehilangan harta. Orang yang miskin jiwa juga bergantung pada manusia atau harta, bukan pada Allah SWT. Orang yang miskin jiwa selalu merasa kurang dengan apa yang ada, dan mengeluh dengan apa yang tiada.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam harus berusaha untuk menjadi orang yang kaya jiwa, bukan kaya harta. Kita harus bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, baik berupa harta maupun non-harta. Kita harus menggunakan harta dengan bijak dan bertanggung jawab sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT. Kita harus menginfakkan sebagian dari harta kita di jalan Allah SWT untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Kita harus menjadikan harta sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan menjauhkan diri dari-Nya.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekayaan jiwa yang sejati, dan menjadikan kita orang-orang yang bertaqwa dan beriman kepada-Nya. Aamiin.
Referensi:
(1) Inilah Orang Kaya yang Sesungguhnya Menurut Rasulullah ﷺ. https://www.islampos.com/orang-kaya-yang-sebenarnya-257165/.
(2) Orang Kaya Menurut Nabi Muhammad | Republika Online. https://islamdigest.republika.co.id/berita/rg30o5430/orang-kaya-menurut-nabi-muhammad.
(3) Kaya dalam Kacamata Islam – Republika.id. https://www.republika.id/posts/15823/kaya-dalam-kacamata-islam.
(4) Inilah Orang Kaya yang Sesungguhnya Menurut Rasulullah ﷺ. https://www.islampos.com/orang-kaya-yang-sebenarnya-257165/.
(5) Orang Kaya Menurut Nabi Muhammad | Republika Online. https://islamdigest.republika.co.id/berita/rg30o5430/orang-kaya-menurut-nabi-muhammad.
(6) Kaya dalam Kacamata Islam – Republika.id. https://www.republika.id/posts/15823/kaya-dalam-kacamata-islam.
(7) Beginilah Kekayaan Sesungguhnya Menurut Islam : Okezone Muslim. https://muslim.okezone.com/read/2020/07/13/330/2245653/beginilah-kekayaan-sesungguhnya-menurut-islam.
(8) Jangan Salah Kaprah, Inilah Hakikat Kaya Menurut Islam. https://fidusiana.com/hakikat-kaya-menurut-islam/.